
Asih menatap nanar jasad bayi tak berdosa di depannya. Putra pertama pak kades yang ia ambil paksa dengan licik, dan dihabisinya demi tuntutan tumbal. Tidak hanya si jabang bayi tapi Warni, ibunya pun turut menjadi korban Asih.
"Tidak, ba- bagaimana bisa aku salah?" Tangannya gemetar hendak menyentuh tubuh mungil yang telah kaku.
"A-aku …," saat jari lentik Asih menyentuh tubuh kecil dingin dan kaku itu, kilasan balik hidupnya berputar.
Dimulai saat pertama ia memutuskan untuk menjadi pengikut iblis. Menumbalkan janin dalam rahimnya sendiri. Bagaimana Asih harus menahan sakit tak terkira saat janin itu dikeluarkan paksa Bu Lasmi.
Ingatannya kemudian berputar saat ia tertawa layaknya orang gila melihat Rico dan Arif yang penuh luka dalam gudang tua. Adegan demi adegan liarnya yang dilakukannya dengan beberapa pria demi memuaskan nafsu tak luput dari memori yang diputar tanpa jeda dalam kepalanya.
Bayangan anak-anak bajang yang menjadi tumbalnya. Anak-anak terbuang yang harus menjemput ajal dengan paksa, juga ikut silih berganti memenuhi otak Asih.
Tawa anak kecil terdengar begitu memekakkan telinga Asih, ia gemetar menutup telinganya rapat-rapat. Sesekali matanya berputar ke setiap sudut ruangan.
"Tidak … pergi, jangan ganggu aku!"
Asih beringsut ke sudut ruangan, bisikan tak jelas dan suara cekikikan mulai menghantui dan menakutinya.
"Pergi, pergi kataku!"
Asih berlari keluar ruangan, tubuh mungilnya menabrak Ardi yang sedari tadi mencari Asih. Ia menangkap tangan Asih dan mencengkeramnya kuat.
"Kita pergi sekarang!" Ardi terlihat menahan amarahnya, ia ingin Asih menurutinya kali ini.
Asih yang masih merasa ketakutan dengan bisikan dan suara-suara gaib anak bajang menggeleng dan meronta sekuat tenaga. Ia mendorong Ardi dengan keras hingga Ardi terjerembab.
"Menjauh dariku! Aku tidak akan pergi denganmu, kalaupun aku pergi itu tidak denganmu! Kau hanyalah sampah bagiku, kau sudah tidak diperlukan lagi!"
Asih berteriak, ia kembali memaki dan mengumpat Ardi sepuasnya. Asih lupa jika hati Ardi terluka karenanya, Asih lupa jika Ardi adalah lelaki yang paling setia di antara para asistennya dulu.
Umpatan dan makian Asih membuat Ardi gelap mata, ia sudah tak tahan lagi. Ardi pun berteriak dan melepas amarahnya.
"Aaaarrgh!! Perempuan ******!"
Ardi berdiri dan menghempas tubuh Asih ke dinding, mencekiknya dengan kuat. Asih meronta, berusaha melepaskan cekikan Ardi.
"Kau benar-benar menjijikkan, aku sudah berusaha menerimamu meski yang kau lakukan itu sudah diluar batas kewajaran!" Ardi meluapkan emosinya, tangannya begitu kuat mencekik leher Asih.
Wajah Asih mulai memerah, "A-Ar-di …,"
__ADS_1
"Kau tahu, aku mencintaimu, tapi aku sungguh rela membiarkanmu mati ditanganku!" Teriak Ardi dengan mata melotot.
Amarahnya memuncak, kesabarannya sudah habis untuk wanita yang dicintainya itu. Yang terdengar hanya suara Asih yang mulai kehabisan nafas. Ardi tak peduli meski Asih tewas.
"Astaghfirullah, den Ardi!" Suara mbok Jum terdengar bersamaan dengan bunyi jatuhnya nampan kayu berisi gelas yang kini pecah berkeping-keping.
Mbok Jum dengan tergopoh-gopoh berlari mendekati Ardi yang masih mencekik leher Asih.
"Den, nyebut den! Sadar!" Tangis mbok Jum pecah, meminta belas kasihan Ardi tapi lelaki muda itu tak bergeming.
"Saya mohon den, sadar! Lepasin non Asih, den!" Teriaknya kembali mengiba, mbok Jum memeluk salah satu kaki Ardi.
"Kalau non Asih mati, anaknya juga bakal mati den! Tolong ampuni Asih! Kasihani calon anak dalam kandungannya!" Mbok Jum menangis berusaha mencegah Ardi.
"A-apa?!" Ardi melirik ke tubuh mbok Jum yang melorot membebani kakinya.
"Apa maksudmu mbok?" Hardik Ardi tak percaya dengan pendengarannya, perlahan cekikan Ardi mengendur.
Dengan terbata bata, mbok Jum menjawab, "Non Asih hamil, den! Tolong ampuni dia, tolong … selamatkan non Asih, bawa dia pergi dari sini!"
Mata Ardi kini terbelalak tak percaya, ia melepas cekikannya dan membiarkan tubuh Asih terkulai lemas.
Asih berdiri dan sedikit limbung, ia berjalan kembali ke kamarnya. Mengabaikan permintaan Ardi dan keinginan Mbok Jum untuk pergi. "Aku tidak akan pergi! Perjanjian akan diperbarui malam ini!" Gumamnya lemas.
Ardi duduk dilantai, punggungnya menempel di dinding dengan tangan menangkap wajahnya. Ia terisak, hampir saja ia membunuh Asih dan juga calon anaknya. Perbuatan yang akan disesalinya kemudian.
Mbok Jum masih terisak dan duduk bersimpuh tak jauh dari Ardi. "Ma-maafkan mbok, den! Kalau mbok egois, mbok cuma mau melindungi den Ardi dan non Asih!"
Ardi masih menutupi wajahnya, ia semakin menunduk dalam dan menyembunyikan kepalanya di kedua lutut. Saat keduanya larut dalam tangis, suara seru mobil terdengar mendekat. Seseorang turun membawa sebuah kardus.
"Paket untuk mbak Asih!" Ujar lelaki itu tanpa permisi.
Ardi menghentikan tangisnya, ia menatap kardus coklat yang diyakininya berisi janin bayi. Seketika ia berdiri dan menerimanya. Lelaki pengantar itu segera pergi berlalu begitu saja, meninggalkan Ardi yang menatap kardus di tangannya. Sebuah rencana pun dipikirkannya.
...----------------...
Pak kades menangis sejadi jadinya, ia menemukan jasad Warni tubuhnya berlumuran darah. Warni tewas, pak kades menyesali perbuatannya. Ia kehilangan bayi dan juga istrinya, mantra Asih yang ditanamkan di setiap pergumulan liar mereka luntur.
Pak kades teringat akan perbuatannya, sungguh ia menyesal.
__ADS_1
"Warni! Ya Allah, anakku!" Jeritnya pilu tanpa bisa melakukan apa-apa lagi.
Nasi telah menjadi bubur, pak sekdes, pak Hansip dan beberapa warga yang membesarkan hati tak tega melihat pak kades yang terus menangis, memeluk, dan menciumi wajah istrinya. Penyesalan yang terlambat.
Mbok Ratem duduk di ruang tamu, tangannya mengepal, sorot matanya tajam mengancam, dan mulutnya tak henti mengunyah kinang yang menimbulkan liur orange dari sela bibir.
Kau sudah kuberi peringatan, rupanya kau memang ingin mati gadis bodoh!
Kematian Warni dan hilangnya bayi yang dikandungnya membuat geger warga desa. Budi dan Andi serta satu rekan lainnya yang masih meneliti dan menyelidiki kasus pembunuhan di desa itu pun segera meluncur ke rumah pak kades.
Jenazah Warni yang telah bersih dimandikan dan dikafani kembali dibuka dengan seizin pak kades. Luka benda tumpul di belakang kepala kemungkinan menyebabkan pendarahan pada otak Warni.
"Cherry red, cyanide?" Budi bertanya pada Andi saat menemukan ruam berwarna merah ceri di beberapa bagian tubuh.
Andi mengernyit, "Kita perlu melakukan otopsi untuk memastikannya!"
Andi mendekati jenazah Warni, ada bau almond samar yang tercium dari mulut Warni yang sedikit terbuka. Ia mengangguk samar pada Budi.
Andi menoleh ke arah pak kades lalu, "Pak kades, kami meminta ijin untuk …,"
"Tidak perlu! Aku tidak mengijinkannya!" Pak kades memotong cepat, sorot kosong dan kebencian terlihat di matanya.
Pak kades tak bisa diajak bicara, ia terus menatap jasad Warni. Budi dan Andi pun akhirnya meminta keterangan dari pak sekdes dan juga pak Hansip yang ada bersama pak kades saat menemukan mayat Warni.
Jenazah Warni langsung dikebumikan malam itu juga di pemakaman desa. Warga bergotong royong menguburkan Warni secepatnya dengan dibantu penerangan ala kadarnya. Hawa mistis yang menyeramkan, membuat siapapun akan bergidik ngeri.
Warga desa bergegas pulang ke rumah masing-masing. Mereka ingin segera pulang, membersihkan diri dan bersembunyi dari kegelapan malam yang mengancam. Tapi lain halnya dengan pak kades.
Ia nekat menembus gelapnya malam, untuk menemui Asih. Pak kades tahu, Asihlah yang telah membunuh dan mengambil putranya. Masih terekam jelas dalam ingatannya, ketika Asih memberikan sebotol kecil cairan bening kehijauan.
Pak kades mengintai keadaan, ia melihat balkon kamar atas yang terbuka. Siluet wanita terlihat jatuh di bayangan tirai yang setengah tertutup. Pak kades yakin, itu kamar Asih.
"Kau harus membayar nyawa istriku dengan nyawamu Asih!"
Pak kades gelap mata, ia berusaha mencari jalan untuk bisa menyelinap di dalam kamar Asih. Pohon besar yang tumbuh tepat di samping kamar yang dituju. Dendam dan amarah yang menguasainya membuat pak kades begitu lincah memanjat pohon lalu melompat ke balkon.
Asih yang sedang menyisir rambutnya terkejut dengan suara berdebam dari balkon kamar. Ia berjalan perlahan, lalu tiba-tiba tubuhnya seolah melayang, terdorong seseorang yang kuat ke atas ranjang.
Mata Asih membulat sempurna saat tahu, pak kadesnya yang menghimpit tubuhnya kasar ke atas ranjang empuk miliknya. Mata pak kades merah melotot menatap wajah ayu Asih.
__ADS_1
"Kau harus membayar semuanya!"