
Budi meninggalkan tempat itu dengan rasa penasaran yang luar biasa. Peringatan mbok Ratem mengganggu pikirannya, meski baginya itu sangat tidak logis.
Budi tertarik dengan jalan kecil menuju hutan yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia berjalan menyusuri jalan tanah berbatu itu perlahan. Matanya awas mencari sesuatu yang mungkin saja bisa dijadikan petunjuk.
Cahaya matahari pagi ditambah sejuknya hawa pegunungan semakin meningkatkan aroma tajam hutan yang lembab dan basah. Budi berjalan terus memasuki hutan. Ia berkeyakinan jalanan yang terbentuk secara tak sengaja itu pasti akan menuju ke sebuah tempat yang biasa dikunjungi warga desa.
Sebuah benda berkilau, bersinar menerpa wajah Budi. Ia mendekati sumber cahaya. Mata Budi terbelalak, sebuah arloji yang masih berdetak. Ia mengambil sapu tangan di saku celana, lalu memungut arloji dengan tali rantai. Ada noda darah mengering disana. Budi memperhatikan sekitar.
Hutan yang masih cukup lebat, arloji yang ditemukannya terbilang cukup mahal dilihat dari mereknya yang tercetak jelas. Warga desa tidak mungkin bisa memilikinya dan seseorang tidak mungkin membuangnya begitu saja.
Ia melipat sapu tangan dan menyimpan temuannya di dalam saku jaket hitamnya. Budi kembali berjalan, sekitar dua ratus meter ia kembali menemukan sobekan kain dengan motif yang sama.
"Ini potongan baju? Sepertinya kemeja laki-laki."
Budi yang berjongkok, tiba-tiba saja tertarik dengan jejak yang berbekas di beberapa bagian jalan.
"Sesuatu yang berat diseret melalui jalan ini!" Gumamnya sambil mengukur besaran benda.
"Aku jadi penasaran,"
Budi kembali berjalan membelah hutan, hingga sampailah ia pada sebuah jurang. Matanya awas melihat sekitar. Hewan buas bisa jadi berkeliaran. Bau busuk dan anyir ditiupkan angin pagi ke arahnya.
Budi yang awalnya tak mengindahkan akhirnya terganggu oleh bau bauan itu. Sambil sesekali menutup hidungnya, ia mencari sumber bau. Lalat yang berkerumun memudahkannya menemukan sumber bau.
Mata Budi terbelalak, sepotong tangan yang terlepas tampak mulai membusuk. Ia menutup hidungnya. Budi tanpa rasa jijik segera mengambil gambar dan mengirimkan pada rekan satu timnya.
Rasa penasaran Budi kembali menggelitik, ia menyusuri jurang tempatnya berdiri. Dari atas tampak kantung hitam yang tersangkut di pepohonan. Kantong hitam itu terlihat dipenuhi lalat dan terkoyak di sana sini menyembulkan anggota tubuh manusia lainnya yang kini tak utuh lagi.
"Mayat!"
Budi segera menghubungi rekannya tapi sayang, sinyal telepon tidak cukup kuat untuk melakukan panggilan. Budi bergegas keluar hutan untuk memberitahukan rekan lainnya.
****
__ADS_1
Asih masih duduk di teras rumah sambil menikmati sejuknya pagi dan secangkir kopi. Ia menatap ke arah hutan, perasaannya mengatakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari balik pohon besar.
Ia berdiri dan hendak mendekati pohon besar itu saat Ardi berteriak menghampirinya. "Asih!"
Langkah Asih terhenti, Ardi dengan kasar menarik tangannya. Tubuh rampingnya kini dalam dekapan Ardi.
"Apa yang kau lakukan!" Mata Ardi nyalang menatap Asih.
"Apa? Ada apa sih!"
"Kamu sama pak kades itu! Apa kamu sudah gila hah!" Ardi membentak Asih, tangannya begitu erat mencengkeram membuat Asih kesakitan.
"Lepasin, ini sakit tahu!"
"Nggak, kita pergi dari desa ini segera! Kamu ikut aku kembali ke kota! Apa nggak cukup semua yang aku berikan ke kamu, Asih!"
"Pengorbanan aku, semua perintah kamu aku lakukan termasuk membuatku gila dengan membunuh temanku sendiri!"
"Apa itu masih belum cukup buat kamu! Sekarang kamu malah bermain api dengan suami orang!"
"Kamu maunya apa? Aku sudah bantu kamu, bantu biaya pengobatan adikmu yang jumlahnya nggak sedikit! Biaya kuliah kamu juga aku yang nanggung! Kamu seharusnya berterima kasih sama aku!"
"Kalau nggak ada aku, kamu itu cuma mahasiswa sampah yang terancam DO! Ngaca dong kamu siapa? Beraninya bentak aku begini!" Asih tak kalah seru membalas hardikan Ardi.
"Oke, aku tahu aku memang bukan siapa-siapa! Tapi asal kamu tau, kelakuan kamu itu sudah diluar batas otak manusia Asih! Kamu sudah gila, kamu naif, kamu psiko!" Ardi berteriak tepat didepan wajah Asih.
Asih tak bisa menahan dirinya lagi, ia meronta melepaskan cengkraman Ardi lalu menghadiahkan Ardi sebuah tamparan.
"Kamu nggak lebih dari asisten, pesuruh, babu!"
"Lancang sekali kamu berteriak mengatai aku yang sudah menolongmu dari kesulitan hah! Apa hakmu, apa peduliku!"
"Aku? Karena aku mencintaimu Asih. Aku jatuh cinta padamu! Aku memang nggak layak untukmu tapi aku tulus mencintai kamu! Aku mau kamu berhenti, Asih!" Suara Ardi bergetar.
__ADS_1
Asih kehilangan kata-katanya, Ardi mengatakan sesuatu yang sangat ia takuti. Cinta.
Tidak, Ardi tidak boleh jatuh hati padaku! Itu tidak boleh terjadi!
"Kau gila, benar-benar gila! Bukankah aku sudah melarangmu untuk mencintaiku? Itu janjimu saat kau bersedia membantuku!"
Asih berjalan mundur, kepalanya seketika pusing mendengar kata cinta.
"Asih, tunggu! Aku mencintaimu Asih, aku akan membawa pergi dari sini! Kita akan mulai hidup yang baru! Bersama!" Ardi kembali berteriak mencegah Asih yang berlalu meninggalkannya.
"Bodoh! Kau sungguh bodoh!" Asih menghapus air matanya, ia berlari menuju ke kamarnya di lantai dua.
Airmata Asih tumpah, ia menangis sejadinya. Ia tak menyangka Ardi bisa jatuh hati padanya. Asih tidak ingin dicintai dan mencintai. Asih merasa tak lagi pantas jatuh hati pada siapa pun. Cinta hanya akan membuatnya lemah. Dan Asih benci menjadi lemah.
Setelah beberapa lama larut dalam tangisannya, Asih kembali membulatkan tekad. "Kau tidak boleh jatuh hati padaku, tidak boleh!"
Asih membuka ponselnya, ia mencari nomor yang ia dapatkan kemarin. Asih menyeka air mata dan mengatur suaranya sebelum menghubungi seseorang.
"Halo, ya mas Adi!" Suara Asih terdengar begitu manja.
"Apa kau merindukanku?" Asih mulai menggoda dengan memberikan sedikit ******* pada kata terakhirnya.
"Tentu saja aku, aku juga kangen mas Adi! Malam ini aku akan mengunjungimu!"
Asih memutuskan akan kembali bertemu dengan pak kades malam ini. Asih akan membuat Ardi membencinya. Ia tahu Ardi pasti akan mengikutinya malam ini. Asih berencana membuat pertunjukan untuk Ardi agar dia melupakan cintanya pada Asih.
"Kau tidak boleh mencintaiku! Tidak sekarang tidak juga selamanya!"
Malam harinya setelah adzan isya berkumandang. Asih Telah bersiap. Ia berjanji akan menemui pak kades di rumahnya pada jam delapan malam.
Asih memilih pakaian yang akan digunakannya. Kali ini pakaian seksi berkain transparan yang hanya menutupi bagian tertentu dari tubuhnya yang ia pilih. Ia menyemprotkan parfum pemikat lelaki yang ia beli khusus untuk menggoda para mangsanya.
Memulas bibirnya yang seksi dengan lipstik beraroma vanilla. Dan menutupi tubuhnya yang berbalut baju seksi dengan jaket tebal sepanjang lutut. Ia membiarkan kaki indahnya terekspos. Ia memancing Ardi untuk mengikutinya.
__ADS_1