
Budi dan Andi baru saja tiba di rumah Wak Haji saat salah satu rekan mereka menyodorkan satu bendel salinan laporan dari mayat-mayat tanpa identitas yang ditemukan.
"Apa semuanya sudah lengkap?" Tanya Budi pada rekan kerja wanita yang baru tiba dari kota.
"Ya pak, semua sudah disini, lengkap!"
"Ini hasil dari tiga mayat pertama, waktu meninggalnya berbeda-beda yang paling lama sekitar lima bulan lalu, berjenis kelamin pria, umur sekitar 50 tahunan, dari barang yang menempel di tubuhnya diduga kuat dia bernama Tirta," wanita berambut pendek itu menjelaskan.
"Tirta?" Budi kembali bertanya.
"Warga desa sebelah yang hilang, ada yang mengenali pakaian dan juga kalung yang dikenakan."
"Keluarganya?"
"Ehm, bukan pak! Dia mengaku sebagai kekasih dari Tirta."
Budi mengerutkan kening, "Kekasih? Di Usia 50 an? Hebat!"
"Apa sudah dicocokkan datanya dengan keluarga?" Budi bertanya dengan mata menatap barisan angka dan kata dalam file.
"Sudah tapi kita baru mendapat hasilnya satu Minggu lagi, paling cepat sekitar tiga atau empat hari lagi."
"Yang kedua berjenis kelamin pria, umur sekitar dua puluh tahunan, ia dikabarkan hilang tiga bulan lalu oleh keluarganya, hasil identifikasi kemungkinan bernama Samuel, tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi di kota."
"Lalu yang ketiga?" Andi kali ini bertanya, ia menggaruk belakang telinganya yang terasa gatal setelah memeriksa mayat Warni
"Seorang wanita, identitas belum diketahui, umur nya sekitar dua puluh tahunan. Melihat kondisi nya saat ditemukan yang belum sampai menjadi kerangka, kemungkinan dia dibunuh satu atau dua Minggu lalu."
"Semuanya tewas dari ketinggian? Apa mungkin mereka bunuh diri? Mengingat lokasinya sangat jauh dari pemukiman, seperti yang ada di hutan angker di Jepang, Aokigahara." Andi berasumsi.
"Bisa juga para pendaki yang terpeleset kan?" Budi memberikan pilihan lain. Andi menatapnya seraya menggelengkan kepala. "Jalur ini tidak termasuk dalam jalur pandakian!"
Budi memperhatikan dengan seksama salinan penyelidikan mayat tanpa identitas di tangannya. Ia teringat pada Arif.
"Gimana sama Arif, dapat informasi apa kita?"
"Kondisinya belum stabil, ia masih shock berat. Bicaranya kadang ngelantur, kita tunggu beberapa hari lagi. Saran dari dokter begitu pak." Mita berhenti sejenak kemudian berbicara kembali.
"Dia selalu menyebut nama Clara dan juga Lisa."
"Waktu aku temui malam itu dia juga sebut nama Clara." Budi mengingat kejadian malam itu.
"Sayangnya wanita bernama Clara itu, sudah mati pak!" Sahut Mita dengan senyuman masam.
"Hah, apa? Mati?"
Mita mengangguk, "Beberapa hari yang lalu Clara bunuh diri dari lantai atas rumah sakit yang sama dengan Lisa."
"Jika Clara bunuh diri, Lisa mengalami gagal jantung. Saya curiga ada sesuatu diantara anak-anak ini, satu keterkaitan yang membuat mereka terbunuh."
__ADS_1
"Hmm, jadi ingat sama laki-laki penghuni rumah mewah di dekat hutan. Namanya Ardi," Budi menatap dengan ekspresi rumit lalu kembali berkata. "Dia juga menyebut nama Clara waktu menerima telepon."
"Ardi? Tunggu pemuda yang bareng sama cewek cakep itu ya? Yg badannya, begini?" Andi meliukkan tangannya membentuk tubuh wanita yang indah bak gitar spanyol.
"Naah bener, aku ngikutin dia sampai rumahnya tapi ada nenek-nenek yang ngelarang aku deketin rumah itu. Katanya berbahaya, pas aku mau nanya lagi nenek itu hilang!"
"Apa, hilang! Serius kamu, hantu kali dia?! Iih kok jadi serem sih!" Andi mengusap tengkuknya.
"Namanya mbok Ratem!" Suara berat seseorang tiba-tiba saja terdengar. Wak haji masuk ke dalam rumah.
Ia membawa minuman dan juga makanan untuk para tamunya
"Dia penjaga desa ini, tetua desa!"
"Oh saya pikir saya berhalusinasi kemarin," sahut Budi menatap Wak haji dengan rasa heran.
"Dia memang sakti, menakutkan, tapi baik kok." Wak haji duduk disebelah Andi, ia melirik ke foto-foto mayat yang ada di tangan Andi.
Matanya seketika membulat saat melihat foto kalung yang masih menempel di salah satu kerangka.
"Ini kan!" Wak haji, tiba-tiba saja mengambil selembar foto dari tangan Andi.
"Eeh, Wak!" Andi memprotes tapi tangan Wak haji terlanjur menarik foto itu.
"Tirta! Ini kalungnya Tirta, apa itu artinya mayat ini Tirta?!" Wak haji menatap Budi meminta jawaban.
Wak haji meletakkan foto itu dimeja, ia menghela nafas pendek lalu berkata. "Tirta itu sahabatku, teman main catur dan juga … temen cari janda," Wak haji menaikkan sebelah alisnya, mengusap kumis seraya mengerlingkan mata pada Mita.
Andi dan Budi tersenyum melihat tingkah Wak haji yang persis seperti ABG mencari pasangan.
"Tirta menghilang setelah pamitan sama saya mau ke kota. Katanya sih mau nemuin ponakannya yang begini," tangan Wak haji meliuk membentuk angka delapan.
Budi dan Andi saling berpandangan, mereka menemukan petunjuk baru. "Bapak tahu nama keponakannya?"
Wak haji mengerutkan kening mencoba mengingat kembali, "Siapa ya, duh kenapa aku lupa nama gadis itu! Dia pernah cerita sekali, katanya sih ehm … aah sudahlah, aku nggak mau ngomongin itu! Itu privasi dia! Yang jelas dia sama keponakannya itu ada main aja!"
Budi manggut-manggut mencoba memahami informasi dari Wak haji. "Yang melaporkan hilang itu kekasihnya Tirta, Wak haji tahu siapa dia?"
Wak haji bukannya menjawab malah tertawa terbahak bahak, "Ya jelas tahu itu si Irah, janda semok incaran saya! Sayang dia cinta mati sama Tirta sampe belum mau menerima cinta saya!"
Ketiga anggota polisi itu pun terkekeh, Wak haji di usianya yang terbilang tua itu masih terlihat gagah dengan hiasan tato ditangan kirinya. Tubuh tegap dan limpahan harta menjadikannya juragan sayur yang sangat disegani di desa itu.
"Wak haji tahu cewek cantik yang tinggal di rumah mewah dekat hutan?" Tanya Andi, ia cukup dibuat penasaran dengan sosok Asih.
Wak haji mengambil satu jajanan manis di piring, "Itu putri angkatnya Bu Lasmi, katanya sih begitu, kalo nggak salah Asih namanya."
Wak haji menuangkan teh hangat ke dalam masing-masing gelas untuk tamunya itu lalu kembali berkata, "Ada yang aneh sama gadis itu, aku sempat melihat tatapan anehnya saat bertemu dengan mbok Ratem."
Ekspresi Wak haji berubah serius, "Mbok Ratem sepertinya tidak menyukai gadis itu, aku juga merasakan hal yang sama dengannya."
__ADS_1
Wak haji mengingat perkataan mbok Ratem yang tertangkap telinga tuanya. Perkataan yang mengundang sejuta tanya di benaknya, bahwa Asih adalah pembawa balak bagi desa.
...----------------...
Asih dan pak tua berjalan menuju hutan ditengah malam yang gelap. Suara guruh dan petir mulai terdengar. Kilatan cahaya berulang kali terlihat menerangi langit hitam.
"Cepatlah pak tua, sebentar lagi akan turun hujan aku tidak mau perjalanan kita semakin sulit!"
Pak tua itu tidak berbicara, ia hanya terus mengikuti Asih menuju ke satu tempat. Kali ini tempat yang berbeda, untuk membuang jenazah pak kades.
Satu petir menyambar pohon Pinus yang ada di depan mereka membuat keduanya terkejut. Pohon Pinus itu tumbang menghalangi jalan yang akan mereka lalui. Bau hangus terbakar dan percikan api tampak terlihat dari pohon yang tumbang itu.
"Sialan! Kita ambil jalan memutar pak tua!"
Mau tidak mau Asih harus melewati jalan lain, mengambil jarak yang sedikit lebih panjang dan jauh. Hujan mulai turun perlahan seolah ingin menghalangi Asih.
Asih sudah mengenal dengan baik hutan itu sejak beberapa bulan yang lalu. Hutan tempat ia menyembunyikan semua kejahatannya, sebelum akhirnya ditemukan warga.
Berawal dari lima bulan lalu, saat ia melakukan pembunuhan pertamanya. Tirta, korban pertama Asih. Tirta masih terhitung sebagai paman Asih, dialah orang pertama yang telah mengambil kesucian Asih dengan segala tipu dayanya.
Asih yang menjadi yatim piatu sejak kecil dirawat oleh mbok Jum dan juga Tirta secara bergantian. Tak ada yang aneh selama Asih diasuh keduanya, hingga pada saat Asih beranjak dewasa Tirta mulai tergoda.
Wajah Asih yang cantik, dan tubuh moleknya membuat Tirta yang doyan bermain perempuan tergoda. Tirta mulai mendekati Asih dengan bujuk rayu. Asih yang polos dan tak mengerti apa pun akhirnya harus rela digagahi pamannya sendiri saat ia tidur.
Kemalangan Asih belum berakhir sampai disitu karena selang beberapa hari kemudian ia mengalami perkosaan yang dilakukan kelima mahasiswa biadab di kebun jagung. Asih shock, jiwanya terguncang.
Mbok Jum dengan hati pilu merengkuh Asih dalam belaian seorang ibu, kondisi Asih menarik perhatian Bu Lasmi. Ia yang baru saja kehilangan putrinya pun mengangkat Asih sebagai putrinya.
Asih melewati hari-hari suramnya dengan penuh penderitaan. Dendam, amarah, dan kebencian yang membuncah tak lagi bisa terbendung. Hingga disuatu hari Asih sengaja mengundang sang paman, Tirta untuk menemuinya.
Asih memancing dengan pesona mistis yang ia dapat dari mantra yang diajarkan Bu Lasmi padanya. Tirta yang sangat merindukan tubuh Asih pun terpancing. Namun sayang, Tirta datang menjemput kematiannya sendiri.
Malam itu sama seperti malam ini, hujan dan petir bersahutan. Asih bertemu dengan Tirta di sebuah tempat di perbatasan desa. Saat itulah, Asih melampiaskan dendamnya.
Asih dibantu dengan para bayi bajang membunuh Tirta dengan keji. Mantra sirep yang dilantunkannya membuat seluruh warga desa tak ada yang mendengar ataupun melihat aksi kejinya kecuali, Eman.
Tirta tewas mengenaskan, setelah para bayi bajang menghancurkan seluruh organ dalam tubuhnya. Tidak cukup sampai disitu, Asih juga membelah perut Tirta membiarkan ususnya terburai lalu menyeret mayatnya kejurang mengumpankan pada kawanan anjing liar.
Asih, gadis desa yang polos dan pemalu berubah menjadi seorang pembunuh keji. Ia tak mau disalahkan, ia membenarkan perbuatannya, mereka yang memulai masalah dengannya. Mereka juga yang membuat dendam terpelihara dengan subur di hatinya.
Petir kembali menyambar, Asih dan pak tua itu akhirnya tiba ditempat yang dituju. Sebuah bukit landai yang akan dijadikan tempat pak kades dikuburkan.
"Gali tanah itu pak tua, kali ini mayatnya tidak boleh ditemukan siapa pun!"
Pak tua itu menuruti perintah Asih, ia mengambil cangkul kecil yang Asih bawa dan segera menggali tanah. Hujan turun semakin deras, jenasah pak kades digulingkan begitu saja ke dalam lubang yang tidak terlalu dalam lalu menutupnya sembarangan.
Keduanya bergegas turun kembali ke rumah Bu Lasmi. Asih menciptakan nerakanya sendiri. Dari balik kegelapan jin wanita itu menertawakan perbuatan Asih. Tawa menyeramkan terdengar mengisi kesunyian malam.
"Sebentar lagi, sebentar lagi Asih! Kau akan bergabung denganku!"
__ADS_1