
Warga desa gempar, mayat lelaki muda ditemukan tersangkut di dasar jurang. Kondisinya sangat memprihatinkan. Tubuhnya sudah tak utuh lagi, membusuk dan sulit dikenali.
Budi dan Andi mengawasi proses evakuasi mayat yang sulit dilakukan karena terjalnya medan. Sudah hampir tiga jam dan mereka belum bisa mengevakuasi mayat itu ke atas.
"Apa mayat ini ada hubungannya dengan mayat-mayat kemarin?" Gumam Budi sesaat setelah timnya memberi tanda berhasil mengaitkan jenazah dan mengangkatnya ke atas.
"Bud, dokter Wahyu datang tuh!" Andi menepuk bahu Budi.
Dokter forensik yang terlihat masih awet muda di usia 50 tahunan itu mendekati Budi dan Andi. Mereka bertiga terlibat pembicaraan serius. Sesekali Budi memperhatikan tim evakuasi jenazah. Budi penasaran dan ingin melihat isi kantong yang ia temukan.
Jenazah akhirnya sampai ke atas, Budi tak membuang waktu dan segera mendekat. Ia membuka kantong plastik hitam besar yang ada di depannya. Bau busuk, ratusan belatung tak membuat Budi mundur. Dibantu rekannya yang lain akhirnya Budi bisa melihat jelas jenazah lelaki malang itu.
Matanya langsung tertuju pada pakaian yang masih menempel di sisa tubuhnya. Ia lantas merogoh saku jaketnya dan mencocokkan potongan kain yang ditemukan di jalan kecil tadi pagi.
"Sama!"
"Ada apa Bud? Apanya yang sama? Rupanya gumaman Budi terdengar Andi.
"Lihat ini, potongan kain yang aku temukan pagi tadi ternyata berasal dari pakaiannya!" Budi menunjukkan potongan kain di tangannya pada Andi.
"Dimana kamu temuin ini?!" Budi menatap rekan kerjanya, wajahnya terlihat sangat penasaran. Ia menatap ke jalanan kecil yang berujung pada rumah besar di pinggiran hutan.
Dari kejauhan seorang laki-laki tua mengamati dengan wajah datar. Ia kemudian pergi tak lama mata Budi dan lelaki tua itu bersitatap.
"Dia kan …,"
"Kenapa lagi Bud?" Andi ikut memandang ke arah tatapan Budi, ia hanya melihat seorang lelaki tua yang berbalik.
"Hhm, nggak sepertinya aku salah lihat." Sahutnya pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
Budi yang sedari tadi berjongkok di depan mayat tanpa identitas itu akhirnya berdiri dan kembali mendekati dokter Wahyu.
"Aku menemukan potongan ini dan juga …," ia merogoh sakunya lalu menyerahkan sapu tangan miliknya.
"Tolong cek arloji ini, saya rasa ini ada hubungannya dengan salah satu mayat yang kita temukan."
Dokter Wahyu mengernyit lalu membuka sapu tangan milik Budi. "Arloji?!"
"Iya, ada noda darah yang tertinggal pada rantainya."
Dokter Wahyu mengangguk tanda mengerti. Ia memasukkan dua barang temuan Budi ke dalam kantong plastik.
__ADS_1
"Aduh, maaf! Saya terlambat pak Budi!" Pak kades datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya terlihat masih mengantuk.
Budi hanya tersenyum masam, lalu ia bertanya. "Pak kades sibuk? Ada yang harus kami tanyakan?!"
"Ah, nggak kok! Mau bicara disini atau di …," mata pak kades tertuju pada mayat yang ditemukan petugas kepolisian.
Ia terbelalak, bau busuk dan kondisi mayat yang tak karuan membuat perutnya berdemo. Tak lama ia pun mengeluarkan seluruh isi perutnya. Budi mengambil beberapa helai tisu untuk pak kades dan mengulurkannya.
"Eh, maaf pak polisi. Saya nggak kuat!"
Budi tersenyum samar menanggapi. "Sebaiknya kita kerumah Wak haji saja. Biar lebih enak bicaranya!"
Pak kades mengangguk. Mereka berjalan menuju kediaman Wak haji. Saat melintasi kerumunan warga, mata Budi melihat Asih berdiri di antara kerumunan warga desa. Wajah ayunya tampak paling mencolok, yang menarik perhatiannya adalah ekspresi datar yang ditunjukkan Asih.
"Kenapa wajahnya terasa mengerikan. Cantik tapi ..," Gumamnya lirih, tapi kemudian ia menepis perasaannya itu.
Pak kades yang juga melihat keberadaan Asih menjadi salah tingkah. Ia gelisah, takut jika kelakuan mereka semalam tercium warga. Apalagi saat Asih menatap dirinya. Rasa takut pada sosok Asih seketika menyergapnya. Padahal semalam ia begitu ganas dan liar menggarap Asih.
Budi rupanya memperhatikan ada yang tidak beres diantara keduanya. Instingnya mengatakan ada yang disembunyikan pak kades dan gadis cantik dengan ekspresi datar itu.
*****
"Ayo kita pulang!" Ardi tiba-tiba saja muncul di belakang Asih. Ia segera menarik tangan Asih untuk mengikutinya.
"Aku mengkhawatirkan kamu!" Ardi menatap kedua mata Asih yang tampak kosong.
Asih diam, tak banyak bicara. Sesuatu yang salah sedang terjadi, pikirannya rumit. Ia bahkan tak mendengar perkataan Ardi.
"Asih, kamu dengar aku kan?" Ardi mengguncangkan tubuh Asih, menyadarkan Asih dari lamunannya.
"Satu, mayat yang ditemukan hanya satu!" Ucapnya lirih seraya menatap Ardi.
"Apa?" Ardi bingung.
"Mayat yang ditemukan hanya satu, bodoh!" Asih kembali berkata kali ini dengan menekankan perkataannya.
"Dimana mayat yang satu lagi! Apa kau yakin telah membuangnya!" Asih menatap Ardi tajam menunggu jawaban dari lelaki yang kini terduduk lemas di depannya.
"A-aku yakin! Kami berdua membawa dua kantung mayat, dan … dan memastikannya jatuh disana!" Ardi terkena serangan panik.
"Lalu? Kenapa hanya ada satu?! Bodoh, kau benar-benar bodoh!" Asih berteriak.
__ADS_1
Ardi hanya terdiam, keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia berusaha mengingat kejadian malam itu, lalu ia pun berkata.
"Anjing hutan! Aku yakin mayat yang satunya pasti dimakan habis oleh kawanan anjing hutan! Aku dan pak tua itu bertemu kawanan anjing hutan tak lama setelah kami membuangnya ke dasar jurang!"
Nafas Asih tersengal menahan amarah, matanya melotot ke arah Ardi yang berusaha mengingat kejadian di malam yang sangat menegangkan baginya.
"Kau yakin?!" Emosi Asih mulai mereda.
"Ya, aku sangat yakin. Tapi, mereka berdua benar sudah mati kan? Kau sudah memastikan jika keduanya mati?" Ardi balik bertanya.
Seketika Asih terdiam, keraguan muncul. Ia memang melihat kedua lelaki muda itu tergeletak tak berdaya tapi ia lupa memastikan apakah mereka sudah benar-benar kehilangan nyawa atau belum.
Asih gelisah, ia harus mencari cara untuk menutupi kejahatannya. Ponsel Ardi berbunyi. Sebuah nama tertera di sana, Amel.
"Ya, Mel ada apa?"
"Hhm, bisakah aku bicara dengan Luna? Aku khawatir padanya, ponselnya nggak pernah aktif. Apa dia baik-baik saja?"
Ardi melirik ke arah Asih, "Iya, Luna baik-baik saja disini. Jangan khawatir!"
"Aku ingin bicara dengannya, please?!" Pinta Amel memelas.
Ardi menyodorkan ponsel pada Asih, "Amel,"
Asih menatap Ardi sebentar lalu menerima ponsel itu. "Hai, apa kabar Mel?" Suara Asih berubah, ia berpura pura lagi ceria. Ia kembali menjadi Luna.
"Kapan kamu pulang, aku takut sendirian disini?!" Rengek Amel dari seberang sana.
"Ehm, gimana ya? Kondisi ayahku belum membaik, aku takut harus mengajukan cuti kuliah semester ini." Asih mencari alasan.
"Apa? Cuti? Yah, kita nggak bisa samaan lagi dong kalo kamu cuti! Terus rumah ini gimana Lun?"
"Kamu bisa ajak teman, aku sudah bayar lunas untuk dua tahun kedepan. Kamu tenang aja!"
Asih merayu Amel agar tetap mau berada di rumah kost itu meski Amel memberikan sejuta alasan. Setelah melalui debat panjang akhirnya Amel pun setuju. Asih segera mengirimkan sejumlah uang untuk kebutuhan bulanan Amel. Sogokan kecil agar Amel tetap mau tinggal di rumah yang cukup seram itu.
"Kenapa kamu suruh Amel disana, kan kasian dia?!" Tanya Ardi menerima kembali ponselnya.
Asih mengulas senyum yang tak bisa dimengerti oleh Ardi. Senyuman licik yang hanya diketahui Asih sendiri.
Amel harus tetap disana, dia adalah pilihan selanjutnya!
__ADS_1