
Kematian Bu Lasmi segera menyebar ke penjuru desa. Kasak kusuk tentang kematian Bu Lasmi yang tewas secara mengenaskan beredar liar dari mulut ke mulut. Kematiannya disyukuri oleh sebagian warga desa.
Ia memang dikenal sebagai dukun hitam yang seringkali merugikan warga desa. Apalagi dulu bu Lasmi sempat memiliki track record yang kurang baik dengan desa ini, apalagi kalau bukan kasus Anita, yang oleh para tetua sepakat ditutup.
Kabar kematian tak wajar Bu Lasmi pun sampai ke telinga para petugas kepolisian yang masih berada di desa. Dengan sigap, mereka pun turun tangan menuju kediaman Bu Lasmi.
Andi, Budi, Mita dan dua orang lainnya tiba di rumah Bu Lasmi. Saat mereka tiba, jenazah Bu Lasmi sudah dibersihkan dan dikafani. Para perangkat desa juga sudah ada disana. Saat itulah, mereka baru menyadari jika sosok pak kades menghilang.
"Pak sekdes, pak kades kemana yak?!" Pak Hansip bertanya karena kemarin sepulang menguburkan jenazah istrinya, pak kades masih terlihat.
"Nggak tahu juga, saya juga bingung seharian nggak liat dia. Padahal mah butuh tanda tangan buat cairkan BLT warga!" sahut pak sekdes sambil menggaruk kepalanya.
"Kasihan saya sama pak kades, pasti shock berat ditinggal istri sama calon anaknya." Pak Hansip geleng-geleng kepala membayangkan penderitaan pak kadesnya.
"Iya juga mana anak baru pertama lagi, bayanginnya ngilu hati saya mas Hansip!"
"Pak sekdes saya kok juga nggak liat neng Asih, kemana ya dia?" Pak Hansip celingukan mencari sosok cantik yang beberapa hari ini menjadi buah bibir karena kecantikannya.
"Iish, mas Hansip mah yang dicariin malah neng Asih! Pak kades atuh dicari, kasian takut tersesat dia, siwer mata, lupa jalan pulang saking sedihnya!"
Pak Hansip manyun saat pak sekdes menepuk bahunya dengan keras, ia akhirnya mendekati mbok Jum. "Mbok, neng Asih kemana? Ibunya meninggal kok malah nggak keliatan?"
Mbok Jum dengan mata sembab hanya menggeleng pelan. "Dia pergi mungkin," sahutnya lemah.
"Eh, pergi gimana mbok?! Wah nggak beres itu anak!" sungut pak Hansip.
Andi memasang telinga sembari memeriksa kondisi jenazah Bu Lasmi. Penampakan luar jenazah tidak ada yang mencurigakan, namun karena tidak adanya izin dari keluarga mereka pun tak bisa berbuat banyak.
"Mbok Jum sudah lama bekerja disini?"
Mbok Jum mengangguk, matanya masih menatap jenazah kaku Bu Lasmi.
"Dimana putri angkatnya, Asih dan juga temannya Ardi?"
Mbok Jum menggeleng pelan, "Saya nggak tahu pak polisi, mereka nggak pamitan,"
Andi berpikir sejenak, "Lho jadi keduanya pergi? Kemana?"
Entah untuk keberapa kalinya mbok Jum menggeleng. Ia pasrah dengan keadaan Asih dan Ardi, ia juga pasrah jika pada akhirnya dirinya ikut terseret ke dalam masalah dan dijebloskan ke penjara.
Budi dan Mita sedang mencari bukti di ruangan khusus milik Bu Lasmi. Tempat dimana ia ditemukan meninggal. Kondisinya masih belum dirapikan, Mita memeriksa lemari kayu yang terbuka setengah.
"Banyak banget cairan disini," gumamnya heran.
"Ambil beberapa untuk sampel, siapa tahu ada hubungannya." Budi berkata sembari mengecek yang lain.
"Dia dukun ya katanya?" Budi kembali bertanya pada Mita.
"Katanya sih gitu," Mita menjawab, tangannya dengan cekatan memasukkan beberapa botol yang mencurigakan ke dalam kantong plastik. "Persaingan bisnis?" Mita balik bertanya.
"Ehm, bisa jadi. Ini bakal sulit dibuktikan jika berhubungan dengan hal gaib."
__ADS_1
"Yah, sepertinya sih gitu!" Mita menganggukkan kepala setuju dengan ucapan Budi.
"Eh, apa itu?" Mata Budi menangkap sebuah kardus yang ada di pojok ruangan. Ia mendekati kardus itu, ada bau tak sedap yang tercium.
"Bau bangkai," gumamnya, ia yang penasaran langsung membuka isi kardus dan betapa terkejutnya Budi saat mengetahui isinya janin bayi yang mulai membusuk.
"Astaghfirullah al adziim!" Budi spontan menutup hidungnya, ia tercekat tak menyangka akan menemukan jasad bayi yang diperkirakan berusia 7-8 bulan.
Mita yang mendekat pun segera menutup hidung dengan lengan atas, seketika mual menyerangnya. "Ya Allah, bayi siapa ini?!"
Budi berpikir sejenak sembari melihat sekitar. "Kita harus mencari bukti lain, pasti ada yang bisa kita temukan berkaitan dengan ini!"
Budi memerintahkan dua anak buah lainnya untuk menggeledah kediaman Bu Lasmi tanpa terkecuali. Ia turun kebawah, dan menatap mbok Jum. Satu satunya saksi hidup yang ada di rumah ini.
"Saya turut berduka cita mbok,"
Ucapan belasungkawa Budi hanyalah pengantar kalimat sebelum mbok Jum dibawa ke ruangan lain untuk dimintai keterangan. Mbok Jum pasrah.
Beberapa jam kemudian, Mita memberikan laporan mengejutkan pada Budi. "Pak, kami menemukan satu lagi jasad bayi di gudang tua."
"Apa? Ada lagi?!" ekspresi Budi rumit, ia kemudian menatap mbok Jum yang masih diam membisu meski berjam jam dirinya mengajukan pertanyaan.
"Sebaiknya, mbok Jum bicara. Jangan mempersulit diri sendiri!"
Mbok Jum menatap Budi dan Mita bergantian, ia menghela nafas berat. Di Usianya yang seharusnya bahagia bersama anak cucu kini harus bersiap menerima hukuman, karena ketidakberdayaan dirinya sebagai ibu, bibi, dan abdi setia.
...----------------...
Gerimis kembali turun, Asih perlahan mulai tersadar. Kepalanya begitu nyeri, darah mengalir dari pelipisnya. Ia menoleh ke arah Ardi.
Tangan lemahnya menggapai wajah Ardi menepuk nepuk wajah lelaki yang terkulai lemas di kursi pengemudi. Darah juga terlihat mengucur di kepalanya. Asih menyentuh hidung Ardi memastikan pemuda tampan itu masih hidup atau tidak.
"Di, ayolah, Di bangun!"
Asih putus asa, ia memilih untuk keluar dari mobil yang kondisinya ringsek. Kaki kanannya terjepit, ia meringis kesakitan karena memaksa untuk keluar.
Dengan susah payah akhirnya, Asih berhasil keluar dari mobil. Ia duduk sendirian di tengah hutan menatap sekitar, Asih mencari ponselnya tapi tidak menemukannya.
"Sial, gimana caranya aku keluar dari sini?"
Asih menatap ke atas, tebing di depannya terbilang landai ia mungkin bisa mencapainya dengan berjalan perlahan. Baru saja berjalan beberapa meter, perutnya terasa mulas. Keringat dingin membanjiri tubuhnya.
Ia terduduk lesu sambil berpegangan kuat akar pohon. Sakit diperut bagian bawahnya kembali tak tertahan. Ia merintih kesakitan. "Jangan-jangan aku ..,"
Pakaian terusan yang ia kenakan tampak sobek di beberapa bagian. Nyeri kepalanya semakin hebat, begitu juga dengan kram perutnya.
"Sa-sakit …," Asih menggigit bibir bawahnya, wajahnya tampak pucat.
Cairan bening bercampur darah mulai mengalir di salah satu pahanya. Asih menjerit kesakitan, "Tidak, jangan sekarang! Aku butuh kamu untuk meneruskan perjanjian!"
Asih kembali merintih, ia keguguran. Benturan yang ia alami saat kecelakaan rupanya membuat kontraksi berlebih di perutnya.
__ADS_1
"Aku harus naik ke atas, cari bantuan! Aku harus hidup!"
Asih perlahan berjalan terseok dengan kaki kanan yang terluka. Ia melupakan sakit yang dirasakannya, sesekali matanya mengedar dan berteriak minta tolong berharap ada yang mendengarkan.
Gerimis semakin deras, waktu berjalan begitu lambat. Asih mulai menggigil kedinginan. Hutan itu tiba-tiba saja terasa berbeda, sunyi dan begitu hening. Asih mulai merasakan sesuatu yang ganjil terjadi.
Ekor matanya menangkap kelebatan bayangan hitam di balik pohon. Suara tawa cekikikan mulai terdengar. Nafas Asih memburu, ketakutan menyergapnya seketika.
"Ibu …," bisikan angin begitu jelas menyuarakan sebuah kata, Asih berbalik ke belakang.
"Si-siapa?!" ucapnya lirih hampir tak terdengar dirinya sendiri.
Sesuatu mengawasi Asih dari kejauhan dengan seringai mengerikan dan sepasang mata kecil merahnya. Tubuh Asih membaca alarm bahaya dari sekitar, ia berbalik dan menatap sekitar. Kelebatan bayangan itu muncul lagi dan kali ini jaraknya cukup dekat.
"Ibu …,"
"Pergi, jauhi aku! Aku bukan ibumu!" Asih menguatkan hatinya.
Ia kembali berjalan, menyeret tubuhnya dengan susah payah. Bayangan hitam itu tiba-tiba saja muncul di depannya, Asih hendak menggapai akar tanaman tapi yang ia raih sebuah kaki kecil yang dingin.
Asih perlahan mendongak, wajah mungil dengan gigi tajam menyeringai padanya, matanya terlihat kemerahan dengan kulit pucat membiru.
"Ibu, aku rindu padamu! Apa kau tidak merindukan aku ibu?!"
Asih tercekat, ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan kata apa pun. Suaranya menghilang berganti dengan kengerian yang teramat sangat.
Asih melepaskan pegangannya, tubuhnya melorot kebawah. "Si-siapa kau! Pergi!" Serunya gemetar menahan takut.
Bayangan hitam itu berjalan mendekati Asih, "Aku mencarimu, ibu! Kenapa kau meninggalkanku?!"
Asih bergerak mundur, bayangan hitam itu adalah janin pertama yang ditumbalkan. Janin yang merupakan darah dagingnya sendiri, ia mencari keberadaan ibunya selama ini. Darah dagingnya sendiri merindukan sang ibu.
"Kau bukan anakku, pergi dari sini! Jangan ganggu aku!" teriaknya histeris.
Bayangan hitam yang telah berwujud menyerupai anak kecil itu berhenti. Wajahnya tampak semakin seram dan menatap benci kepada Asih.
"Kau melupakanku ibu, kau bahkan tidak pernah menyebut namaku setelah apa yang aku berikan padamu!"
Asih menggelengkan kepalanya, tapi belum sempat ia bersuara sosok anak kecil itu menyerangnya dengan brutal. Cakaran demi cakaran dilayangkan ke wajah dan tubuh Asih, ia tak peduli dengan teriakan dan jerit kesakitan Asih.
Asih meronta, menjerit dan memukul sosok anak kecil itu tapi semakin sering ia meronta semakin banyak juga cakaran yang ia terima. Darah mengalir dari setiap lukanya, tubuh Asih berguling cepat menuruni bukit landai melewati bangkai mobil yang teronggok di antara pepohonan.
Sosok itu tanpa ampun terus menyerang, hingga akhirnya tubuh Asih berada di tepian jurang lain. Tubuh nya terjatuh di atas bebatuan terjal. Nafas Asih tersengal pendek, menanti ajal.
Memorinya berputar, kembali ke saat pertama ia melakukan ritual bayi bajang. Malam setelah ritual itu dilakukan ia begitu bahagia karena mendapatkan bayaran atas pesugihan yang dilakukannya. Uang puluhan bahkan ratusan juta tiba-tiba saja ada di kamarnya, Asih bahagia ia bermandikan uang di atas ranjang.
Ia terus mendapatkan uang saat satu persatu tumbal diberikan kepada jin wanita itu. Asih menjadi tamak apalagi wajahnya terlihat semakin cantik dan tubuhnya begitu menggairahkan kaum Adam.
Memori kehidupan Asih yang kelam perlahan memudar digantikan dengan seringai seram anak kecil yang ada di hadapannya.
"Waktunya tidur ibu!"
__ADS_1
Satu cakaran dalam, melintang menggores wajah Asih mengiringi dicabutnya jiwa Asih. Pupil matanya mengecil, Asih mati. Mulutnya yang terbuka, tubuhnya yang penuh cakaran, tulang tengkorak nya hancur, dan patah di beberapa bagian tubuh, menyiratkan kematian yang menyakitkan untuk seorang pendosa seperti Asih.
Asih mati sebelum sempat bertaubat. Sampai akhir hayatnya Asih masih memikirkan cara pintas untuk bersekutu dengan jin. Asih melupakan Tuhannya.