Jodoh Dari Masa Lalu

Jodoh Dari Masa Lalu
Bagian 16


__ADS_3

Kini satu tahun sudah Elin menjalani hubungan dengan Nabil, dan selama itu pula Elin sudah ada cinta dihati Elin untuk kekasihnya itu. Berkat rasa nyaman dan perhatian kecil yang sering ditunjukkan Nabil padanya membuat hatinya luluh walau terkadang mereka harus terlibat perdebatan kecil diantaranya karena kecemburuan yang dimiliki Nabil namun itu semua tak masalah bagi Elin yang terpenting tak melampaui batas.


“sayang kamu hari ini pulang jam berapa” tanya Nabil pada sang kekasih, mereka sekarang sedang berada di taman kampus


“sore mas” jawab Elin


Ya Elin merubah panggilannya pada Nabil menjadi mas, yang awalnya memanggil  dengan panggilan kakak. Kalo kata Nabil itu lebih romantis jika Elin memanggilnya mas karna terdengar seksi dan indah ditelinga Nabil.


“ya sudah nanti mas jemput ya, nanti mas mau pulang dulu kerumah mau bantu mama dirumah karna kakakku dan suaminya mau datang” jelasnya pada Elin


“kalo mas sibuk, gak papa gak usah jemput aku toh aku juga bisa pulang sama Mira” ucap Elin


“gak sibuk kok sayang, nanti mas jemput..gak ada penolakan” tegas Nabil


“yaudah terserah mas aja kalo gitu” pasrahnya karena tak mau berdebat dengan sang kekasih


“nah gadis pintar” pujinya pada Elin. “nanti malam kamu datang ya kerumah aku ketemu sama orang tuaku dan juga keluarga kakakku” ajaknya pada Elin


Karena jujur Nabil ingin sekali kekasih hatinya ini dekat dengan keluarganya terutama sang mama yang paling ia cintai itu. Tapi selama satu tahun ini, ketika ia mengajak Elin bertemu dengan orang tuanya selalu saja belum siap.


“mmmm tapi” belum sempat menyelesaikan ucapannya  langsung disela Nabil


“gak ada penolakan sayang” selanya cepat karena tahu apa yang akan diucapkan kekasihnya itu


“tapi kamu tahu kan mas, kalo aku takut, aku belum siap mas” ucapnya pelan karna tak mau Nabil salah paham


“sayang kamu ketemu hari ini atau kapanpun itu kamu harus siap kan karna ada waktunya kamu pasti akan bertemu orang tuaku” ucapnya lembut agar Elin mengerti keinginannya itu. “mau ya sayang, please” lanjutnya yang sudah memasang wajah memelas


“yaudah deh iya aku mau” ucapnya iba pada sang kekasih


...****************...


Sementara ditempat lain, ada seorang pemuda yang sedang menghadiri acara wisudanya, siapa lagi kalo bukan Angga.

__ADS_1


Ya, tiga bulan yang lalu adalah hari pengumuman kelulusannya dan dua bulan yang lalu juga merupakan hari dimana ia menerima kabar bahwa ia keterima di salah satu Universitas di kota C Jurusan Sastra bahasa dan itu merupakan hal yang membahagiakan untuknya.


Hari ini adalah hari wisudanya dimana ia dan teman-temannya akan merayakan kelulusannya dan diumumkan juga siapa yang masuk Universitas ternama. Seperti saat ini, dimana sekarang anak-anak yang diterima melalui jalur Span-PTKIN untuk maju kedepan guna menerima hadiah dari pihak sekolah. Satu persatu dipanggil ke depan sampai giliran Angga tiba.


“selamat kepada saudara Angga Yogaswara putra dari Bapak Yogaswara yang keterima masuk di Universitas Sastrawijaya, kepadanya dipersilahkan maju kedepan” ucap sang pembawa acara


Angga pun beranjak dari duduknya kemudian berjalan dengan perlahan menaiki panggung di mana sudah ada beberapa temannya diatas sana. Setelah sampai diatas ia langsung menunduk hormat pada Kepala Sekolah tak lupa ia juga menyaliminya dan setelahnya baru Kepala Sekolah memberikan hadiah pada Angga. Setelah ritualnya selesai, Angga pun berjalan kebelakang dan kemudian baris menyesuaikan yang lain.


Selang beberapa menit, acara itu selesai berganti dengan penampilan-penampilan yang dipersembahkan oleh adik-adik kelas mereka. Banyak pertunjukkan yang dipersembahkan seperti Tari tradisional dan modern, drama pendek, puisi dan masih banyak lagi.


Hingga tiba di penghujung acara yaitu perpisahan, dimana seluruh kelas dua belas berada di atas panggung saling meresapi bahwa sekarang mereka tak kan lagi berada di sekolah itu tapi mereka akan berjuang sendiri-sendiri di tempat lain sesuai tujuan dan impian masing-masing. Setelah acara berakhir, Angga kembali ke rumah bersama orang tuanya. Sekarang mereka berada diruang keluarga Yogaswara.


“Angga kapan kamu akan berangkat ke Kota C?” Papa Yoga memulai pembicaraan mereka


“minggu depan Pa” jawabnya pada Papa Yoga


“kamu mau ngekost apa bagaimana?” tanyanya pada sang anak


“apa tidak capek nak?” tanya Mama yang dari tadi diam


“InsyaAllah nggak ma” jawabnya lagi


“ya sudah Papa sama Mama Cuma bisa bantu doa, semoga apa yang kamu inginkan terwujud dan semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusan kamu” ucap Papa Yoga


“Aamiin” jawab Mama dan Angga serempak


......................


Satu Minggu berlalu, kini Angga tengah bersiap-siap untuk keberangkatannya ke Kota C guna menimba ilmu disana. Setelah mengemasi barang-barangnya, kini ia pamit pada kedua orang tuanya dan tak lupa dengan dua adiknya itu.


“Pa, Ma, Angga pamit ya, doakan Angga supaya selamat sampai tujuan dan jangan lupa doakan Angga semoga dipermudahkan urusan Angga disana” pintanya pada kedua orang tuanya


“Papa Mama selalu mendoakan kamu nak, apa yang terbaik untukmu , dan jangan lupain kewajibanmu sebagai seorang muslim dan jaga kesehatanmu baik-baik” ucap Mama

__ADS_1


“iya Ma” sahut Angga


“belajar yang rajin kamu adalah teladan bagi kedua adikmu” pesan Papa Yoga


“siap Pa” sahutnya lagi kemudian ia beralih menatap kedua adiknya


“Mas pamit, jaga Papa Mama dan jangan nakal disini” lanjutnya lagi


 “siap Mas” jawabnya serentak


Setelah selesai berpamitan, ia langsung menaiki motornya dan mulai menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Lima jam sudah, kini akhirnya sampai pada tempat yang dituju oleh Angga. Sebuah kost sederhana disebuah gang sempit yang akan menemaninya beberapa tahun disini. Perlahan ia memasuki kamar kostnya kemudian diletakkannya tasnya di lantai dekat lemari.


Ia rebahkan tubuhnya dikasur sederhana yang tipis dan tergeletak dilantai. Memang beda dengan kasur yang ada dirumahnya namun ini jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Kini dirinya harus berjuang demi masa depannya.


“gue harus semangat belajar dan bekerja disini supaya tak menyusahkan Papa Mama lagi” gumamnya sebelum menutup matanya yang perlahan tertutup rapat.


...----------------...


Pagi harinya, Angga bertekad untuk mencari pekerjaan dikota itu. Kini ia sudah siap menaiki motornya untuk membawanya mencari sumber kehidupannya disini. Sudah satu jam lamanya ia mencari pekerjaan, hingga ia mendapat pekerjaan sebagai kurir disalah satu swalayan. Walau hanya pekerjaan kecil namun tak masalah bagi Angga, yang penting cukup untuk membeli makannya sehari-hari.


Hari demi hari berlalu, bulan berganti bulan hingga perlahan tahun pun berganti tahun juga, tepatnya sudah lima tahun berjalan namun ada yang berbeda dari seorang Angga karena sekarang ia tak lagi bekerja sebagai kurir atau penjual martabak dipinggir jalan. Sekarang ia sudah bekerja di Sekolah Menengah Atas bukan sebagai tukang bersih-bersih atau satpam disana, bukan juga sebagai penjual kantin di sana melainkan sebagai guru yang sudah CPNS berkat kegigihannya. Selain itu, ia juga punya usaha lain yaitu Martabak dan ia juga sudah mempunyai kedai yang cukup luas dan tentunya ia tak perlu lagi berjualan di pinggir jalan karena usahanya sudah berkembang pesat, bahkan ia sudah memiliki beberapa pekerja yang menjualkan martabaknya di beberapa pinggir jalan. Berkat pengalaman yang ia jalani sebagai penjual martabak yang dulunya mengambil disebuah kedai, sekarang ia bisa membukanya sendiri bahkan dengan varian rasa dan bentuk martabak manis dan telur.


“gimana pi, keadaan kedai sekarang?” tanyanya pada sahabat sekaligus yang mengurus kedai jika ia tak sibuk dengan profesinya sebagai guru


“ aman bos, sesuai keinginan lo” jawab Opi, Opi memang sering tidak menggunakan bahasa formal, bukan karna tak sopan tapi itu semua keinginan Angga apalagi mereka adalah sahabat bertahun-tahun, bahkan sering kelaparan bersama dan kenyang bersama


“bagus” ucapnya


“eh lo gak berniat cari pacar atau istri gitu” tanya Opi, pasalnya Opi tau dari jaman ia susah bersama hingga sekarang tak pernah sekalipun ia melihat sang sabahat dekat dengan wanita


“masih nyari, tapi belum ketemu” jawabnya


“siapa yang lo cari” teriaknya sambil menggebrak meja karna antusiasnya

__ADS_1


__ADS_2