
Detik demi detik, menit demi menit hingga jam berganti jam, tapi Elin tak bisa konsentrasi bekerja. Pikiran dan hatinya terpatri pada sang kekasih, perasaan tak enak semakin menyelimuti hatinya.
Hingga ia mencoba menghubungi sang kekasih melalui telefon. Kontak bertulis nama sang kekasih pun dipencetnya, namun yang terdengar hanya suara
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Banyak tim penolong yang masih terus berusaha mencari Nabil yang hanyut disungai, hingga salah satu tim menemukan mobil yang dikendarai Nabil, namun naas Nabil tak ada didalamnya.
Matahari mulai tenggelam, berganti dengan bulan, tapi Nabil belum ditemukan. Hingga sang tim SAR memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok hari, dan polisi pun menghubungi pihak keluarga setelah melihat data diri pemilik mobil.
Sedangkan dirumah Nabil, sang Mama yang baru mendapatkan sang anak kecelakaan dan hilang disungai pun sekarang tengah pingsan. Sang papa pergi ke kantor polisi untuk mngetahui kejadiannya secara detail ditemani sang kakak ipar. Kakak Nabil pun menghubungi Elin untuk memberitahu kejadian ini. Elin pun tak kalah terkejut dan sedih mendengar kabar duka ini. Ia hanya bisa berharap agar Nabil selamat dalam kecelakaan itu.
Setelah memberitahu Elin, kakak Nabil langsung menemui sang mama untuk melihat kondisinya. Jujur ia tak pernah menyangka bahwa hal ini akan dialami oleh sang adik tersayangnya, karena tadi pagi mereka masih bergurau. Sungguh musibah itu datangnya secara tiba-tiba tanpa bisa kita ajak kompromi terlebih dahulu, sama seperti kematian.
Elin? Gadis itu masih menangis dipojok ruangan rumah sakit. Baru tadi pagi, mereka bertemu dan diakhiri dengan perdebatan yang tak ada hasilnya. Sungguh, ini sangat menyakitkan. Kenapa? Ia harus dihadapkan dengan kenyataan hidup yang pahit ini.
__ADS_1
Setelah berhasil menenangkan diri, kini Elin pergi ke lokasi kecelakaan sang kekasih. Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, akhirnya ia sampai ke tempat yang dituju.
Sepi, itulah yang ia lihat ditempat itu. Tak ada lagi orang-orang disana, bahkan pihak polisi dan tim penyelamat pun sudah tak ada, karena memang mereka sudah memutuskan untuk melanjutkan pencariannya besok.
Ia menyusuri jalan tersebut dengan berlinang air mata. Ini adalah pengalaman hidup terpahit yang ia alami selama ini. Ia tak tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Menangis? Tentu saja gadis itu menangis dengan tersedu-sedu.
Hari mulai gelap Elin memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Setelah menunggu hampir selama lima belas menit, akhirnya taksi online yang sudah dipesannya sampai. Selang empat puluh lima menit, taksi yang ditumpangi Elin memasuki pekarangan rumahnya.
Elin memasuki rumahnya setelah mengucapkan salam dengan langkah gontai. Di ruang tengah ada keluarga Elin yang menunggu kepulangannya. Setelah menyalami kedua orang tuanya, ia langsung duduk disamping ayahnya dan langsung mendekap tubuh sang pahlawan hidupnya. Elin menangis tergugu didalam dekapan sang ayah, sedang sang ayah hanya bisa mengelus kepalanya dengan lembut penuh kasih sayang dan sesekali mencium pucuk kepala sang putri untuk memberinya kekuatan.
“yang kuat ya sayang, anggap ini bentuk kasih sayang dari Allah untuk kamu agar kamu bisa bisa menjadi orang yang kuat dan sabar” ucap Bunda Wati dengan penuh kelembutan
“tapi kenapa harus seperti ini yah, kenapa ?” tangisnya terdengar pilu
Ayah Dirman hanya diam, bingung ? tentu saja bingung, walau beberapa hari ini, ia menyuruh anaknya untuk menikah dengan orang lain tapi jauh dilubuk hatinya merasakan sedih karna bagaimanapun Nabil adalah orang yang baik, yang memperlakukan anaknya dengan baik.
“sudah kamu pasrahkan semuanya pada Allah Nak, percayakan semuanya pada-Nya” ucap Ayah Dirman
__ADS_1
“lebih baik sekarang kamu bersihkan badanmu dulu biar lebih segar” ucapnya lagi yang dijawab anggukan oleh sang putri
Setelah pamit pada keluarganya, Elin langsung masuk kamar guna untuk bersih-bersih agar tubuhnya lebih segar dan melaksanakan sholat agar pikirannya tenang.
......................
Sementara itu di kamar lainnya, Bunda Wati tengah berbicara serius dengan sang ayah Dirman.
“Mas apa yang kita lakukan, setelah melihat anak kita terpuruk seperti itu” tanya Bunda Wati
“jika mas tidak memaksa Elin menikah dengan Angga..Angga itu pasti tidak akan seperti ini kejadiannya mas” timpalnya lagi
“ apa yang kamu bicarakan itu, dek “ ucap ayah dirman
“kamu pikir mas, tidak sedih dengan apa yang terjadi pada putri kita, mas juga sedih sayang apalagi Nabil sampai kecelakaan. Sungguh mas merasa bersalah tapi, apa yang mas lakukan ini untuk kebaikan putri kita, kita ambil hikmah dari kejadian ini” tambahnya lagi
Jangan ditanya, apa ayah Dirman tidak sedih? Tidak kehilangan ? tentu saja sedih, tentu saja kehilangan. Sosok Nabil baginya adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan baik, dia juga sangat cocok dengan Nabil, namun takdir berkata lain.
__ADS_1
“tapi mas...”
“sudah mas tidak mau berdebat soal ini sayang” potong ayah Dirman