
Setelah pesta selesai, keluarga Angga pun kembali ke kediamannya, begitu pun sebaliknya. Dan disinilah sepasang pengantin baru berada, dimana lagi kalau bukan di tempat keluarga Elin.
Di dalam kamar pengantin, nampak seorang gadis sedang duduk di tepi ranjang. Wajahnya memancarkan kegelisahan, mungkin dia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang, mengingat statusnya telah berubah mulai hari ini.
ceklek
Terdengar suara pintu dibuka, membuyarkan lamunan gadis itu. Ia pun menoleh kearah suara, dimana terlihat seorang pria mulai berjalan masuk ke kamarnya.
Sekarang posisi mereka duduk di tepi ranjang, namun dari mereka tak ada yang memulai pembicaraan hingga suasana pun menjadi hening.
Setelah dua puluh lima menit tak ada percakapan, Angga pun memulai untuk berbicara.
"Elin...." panggil Angga
Diam, Elin tak menjawab panggilan Angga. Bingung ? tentu saja, apalagi Angga adalah orang di masa lalu yang pernah ada dihatinya.
"Elin..." panggilnya lagi karna tak ada jawaban dari Elin
" Hmmm " Elin hanya menjawab dengan berdehem
Kembali hening, sebenarnya Angga juga canggung untuk memulai pembicaraan mengingat apa yang dulu ia perbuat pada wanita yang sekarang jadi istrinya itu.
"Maaf....." kalimat itulah yang terucap dari mulut Angga setelah beberapa menit terdiam
Tak langsung menjawab, Elin terdiam.
__ADS_1
"Untuk apa ? " akhirnya menjawab juga setelah satu menit terdiam
"Untuk kesalahan di masa lalu yang telah aku perbuat sama kamu, aku minta maaf" ucapnya dengan menunduk. "Tidak seharusnya aku berkata seperti itu dulu. Aku menyesal Lin, maafkan aku" dengan suara bergetar, menandakan bahwa laki-laki itu sedang menahan sesuatu di dalam dadanya.
'' Aku tidak tahu harus berkata apa sekarang, karna jujur aku sudah melupakan kejadian di masa lalu. Keadaan kita sekarang tak sama lagi, semuanya sudah berubah" Jawab Elin
Yah, Elin memang sudah melupakan peristiwa yang terjadi antara ia dan Angga di masa lalu. Apalagi semenjak ada Nabil dihidupnya, ia sudah bisa melupakan rasa cintanya pada Angga.
Semua tentang ia dan Angga sudah berubah sejak hari itu. Bahkan sampai sekarang dihatinya hanya ada Nabil, mendiang mantan kekasihnya.
''Aku tahu semua memang sudah berubah, begitu pun dengan perasaanmu padaku. Aku pun tahu, jika sekarang rasa cintamu hanya untuk mendiang mantan kekasihmu. Namun, bolehkah aku berharap untuk bisa dicintai lagi olehmu'' ucap Angga
'' Soal rasa, aku tidak bisa memastikan. Aku akui sekarang dihatiku memang masih ada nama mas Nabil. Namun, aku juga tak ingin menutup hatiku untuk tidak mencintaimu lagi. Karna aku tahu, mencintaimu adalah kewajiban untukku'' balasnya dengan nada pelan
Soal Nabil, ia akan mempunyai tempat tersendiri dihati Elin dan akan menimpannya sebagai kenangan yang paling indah dari sebagian hidupnya.
" Aku mengerti, kita jalani saja pelan-pelan. Aku pun tak akan menuntut hakku sampai kamu siap, aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang akan datang padaku untuk memberikan hakku sebagai seorang suami" ucap Angga
Angga paham, tak mungkin ia meminta hak sebagai seorang suami sekarang jika dihati Elin istrinya masih ada nama pria lain. Ia akan sabar menunggu sampai waktunya tiba, sampai Elin mencintainya lagi seperti dulu.
'' Terima kasih, sudah mau mengerti'' kata Elin
''Sama-sama. emmm.... bolehkah aku minta sesuatu padamu ?'' tanya Angga
'' Apa ?''
__ADS_1
''Bisakah kamu mengubah panggilan kamu padaku ?'' tanya Angga lagi
''Memangnya aku harus manggi dengan apa ?'' tanya Elin balik
''Bisakah kamu memanggilku dengan panggilan mas ?'' pinta Angga
Elin terdiam, seperti ada yang dipikirkan.
''emmm....baiklah, aku akan memanggilmu mas mulai sekarang'' jawab Elin
Malam ini mereka lewati dengan mengobrol untuk mengenal lebih dekat dan mengusir rasa canggung diantara keduanya.
......................
Pagi hari, seluruh keluarga Elin telah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi. Disana juga ada pasangan suami istri baru tentunya.
''Setelah ini kalian akan tinggal dimana?'' Ayah Dirman memulai pembicaraan pagi ini
Bukan maksud ayah Dirman mengusir anak dan menantunya dengan berbicara seperti itu. Namun, sebagai seorang laki-laki, ia paham betul bahwa yang namanya sudah berumah tangga pasti ingin memiliki rumah sendiri. Membina kehidupan sederhana bersama keluarganya tanpa campur tangan dari orang tua masing-masing.
''Kenapa ayah tanya seperti itu?'' tanya Elin dengan nada tidak suka atas perkataan sang Ayah
''Nak, sebagai seorang laki-laki ayah tentunya paham betul apa yang diinginkan suamimu'' ucap Ayah Dirman
''Memang apa yang diinginkan sama suami Elin, Yah ? '' tanya Elin lagi
__ADS_1