Jodoh Dari Masa Lalu

Jodoh Dari Masa Lalu
Sahabat Terbaik


__ADS_3

***


Hari semakin sore, senja sudah menunjukkan keindahannya di cakrawala. Dinda dan Anisa sudah berada di dalam MRT, sebagai seseorang yang baru menjalani kehidupan di kota Metropolitan, Dinda tak bisa melepaskan pandangannya pada gedung-gedung dari balik kaca MRT. Pikirannya menerawang jauh kembali pada hari-hari dimana saat dia masih tinggal di kampung halamannya. Gedung-gedung tinggi baginya masih menjadi sesuatu yang baru dan sejenak membuatnya kagum.


Saat MRT melewati gedung tempat kerja mereka, seketika Anisa menepuk bahu Dinda dan membuyarkan lamunannya.


"Din, lihat deh.. itu kantor kita, bagus banget kan?" ucap Anisa sembari menunjuk ke arah gedung tinggi di seberang.

__ADS_1


"Iya Nis, aku ngga pernah nyangka bisa diterima kerja disitu. Ini semua berkat kamu, kalo ngga ada kamu.. aku ngga yakin bisa kerja disitu", jawab Dinda sambil menatap Anisa dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu bisa keterima kerja disitu karena memang kamu berpotensi, bukan karena aku. kamu hebat Din, kamu cerdas dan kamu memang pantas mendapatkan pekerjaan itu".


"Terimakasih yaa Nis, aku nggak ngerti bagaimana caranya bisa bales kebaikan kamu", akhirnya mereka saling berpelukan dengan mata berkaca-kaca karena terharu.


Anisa adalah sahabat terbaik Dinda, yang selalu ada untuk Dinda dan nggak pernah berhenti ngasih semangat saat Dinda sedang down. Sama seperti beberapa tahun lalu ketika Ayah dan Ibu Dinda harus berpisah. Saat itu usia Dinda masih 10 tahun, tapi dia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kedua orang tuanya tak lagi tinggal seatap. Dinda dan adiknya lebih memilih tinggal bersama sang Ibu, sementara sang Ayah menikah lagi dengan wanita lain.

__ADS_1


***


Tanpa terasa, MRT sudah sampai di stasiun Lebak Bulus. Mereka memutuskan untuk turun di stasiun itu dan berjalan menuju pusat perbelanjaan didekat stasiun. Mereka berkeliling sembari bercanda dan membicarakan segala hal yang ada dalam pikiran mereka. Setelah puas berkeliling, akhirnya mereka memutuskan pulang dengan menggunakan ojek online alih-alih menggunakan MRT.


"Terimakasih yaa Nis untuk hari ini, kamu udah ngajak aku keliling dan bikin aku seneng. Aku harap suatu saat nanti aku bisa bales semua kebaikan kamu".


"Santai aja Din, kamu itu udah aku anggep adekku sendiri, jadi sudah seharusnya bikin kamu seneng dan nyaman. Kalo kamu butuh apa-apa, ngomong aja ya jangan sungkan".

__ADS_1


Dinda mengangguk dan tersenyum ke arah Anisa. Dinda merasa sangat beruntung karena mempunyai sahabat sebaik Anisa, orang yang sangat Dinda sayangi, sama seperti dia menyayangi Ibu dan adiknya. Anisa adalah satu-satunya sahabat yang mengerti Dinda, apapun yang dialami ataupun dirasakan, Dinda selalu cerita pada Anisa. Entah itu baik atau buruk, sedih ataupun bahagia, semua selalu diceritakan tanpa ditutupi sedikitpun.


Karena berasal dari keluarga yang hangat dan berkecukupan, wajar jika Anisa begitu peduli pada Dinda dan peduli atas apa yang selama ini Dinda alami, baginya.. kesedihan Dinda adalah kesedihannya juga, begitupun sebaliknya.. The real sister from another mother.


__ADS_2