
Satu minggu berlalu, sekarang Elin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit tempatnya bekerja, setelah tiga hari ia cuti dadakan. Dan sekarang ia berada dalam mobil bersama dengan sang kekasih.
Selama dalam perjalanan, Elin banyak diam. Bingung itulah yang ia rasakan, apa yang harus ku lakukan, mungkin itulah batinnya. diam dan terus berpikir, apa yang harus ia katakan pada sang kekasih.
Sedang seseorang yang berada di sampingnya, terus melirik Elin yang diam sedari tadi. Apa yang membuat Elin diam seperti itu, tanyanya dalam hati.
“yang” panggilnya, namun tak dihiraukan oleh Elin
“sayang” cobanya lagi
“Elin” panggilnya ketiga kali barulah yang dipanggil menoleh, itupun karena Nabil menyentuh pucuk kepalanya
“emm” menoleh ke yang punya suara
“kamu kenapa sih, dari tadi melamun. Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya
Diam. Terlihat jelas bahwa Elin tengah berpikir sebelum menjawab pertanyaan itu. Apa aku harus mengatakan pada mas Nabil tentang masalah ini. Tanyanya dalam hati. Sampai suara disebelahnya membuyarkan pikirannya.
“Lin” serunya
“emmm....sebenarnya,” diam menjeda sembari menatap lawan bicaranya. “maaf mas mungkin apa yang ingin aku sampaikan ini akan melukai hatimu” ucap Elin sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum berbicara
“ayah memintaku untuk menikah dengan seseorang mas” lanjutnya yang berhasil membuat mobil yang masih melaju dengan kecepatan sedang langsung berhenti
Ciiittt
“apa maksudnya itu Lin?” tanya Nabil
__ADS_1
“ayah ingin menikahkan aku dengan seorang kenalannya mas” jawab Elin lirih
“tapi kenapa?” tanyanya lagi
pasalnya selama ini ia merasa bahwa tak punya masalah apapun pada ayahnya Elin, tapi apa ini menikah dengan kenalan ayahnya. Itu artinya hubungannya dan Elin harus berakhir. Pikirnya kalut
“entahlah mas, aku sendiri tak tahu kenapa ayah berbicara seperti itu” jawabnya lagi dengan pandangan lurus kedepan
“apa aku buat kesalahan, hingga ayahmu ingin menikahkan mu dengan orang lain?” tanyanya lagi
“kamu tidak membuat kesalahan apapun mas” ucap Elin
“lalu kenapa Lin” sahut Nabil
“Mas aku sendiri tidak tahu, kenapa ayah menyuruhku menikah dengan orang lain” ucap Elin
Kini mobil itu berjalan dengan kecepatan cepat menuju rumah sakit tempat Elin bekerja. Selang lima belas menit, mobil yang dikendarai Nabil sampai di depan rumah sakit. Setelah Elin turun, Nabil langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju suatu tempat.
Disituasi seperti ini biasanya Nabil butuh tempat tenang dan sepi untuk menenangkan hati dan pikirannya. Pikirannya sedang kalut, hatinya sedang memanas mendengar apa yang dikatakan kekasihnya.
Apa selama ini aku kurang membahagiakan kamu Lin ? Apa selama ini aku tidak menghormati keluargamu, tidak menyayangi keluargamu atau aku selalu menyakitimu, hingga ayahmu ingin menikahkan mu dengan orang lain? tanyanya dalam hati
Apa yang harus aku lakukan Lin. Batinnya
Nabil menambah kecepatan mobilnya hingga penuh, tanpa Nabil sadari ada sebuah truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi dan oleng dikarenakan remnya blong. Hingga kejadian tak diinginkan itu terjadi. Ya, mobil yang dikendari Nabil menabrak pembatas jembatan hingga mengakibatkan mobilnya langsung terjun ke sungai. Sedang truk itu menabrak sebuah tiang listrik yang tak jauh dari jembatan.
Jalanan yang sepi kini mulai ramai dengan orang yang berdatangan mendekat kearah jembatan. Polisi yang datang untuk memeriksa kecelakaan tersebut harus menerobos sekerumunan orang-orang yang berkumpul disana.
__ADS_1
Supir truk yang terluka akibat benturan di kepalanya, langsung dilarikan ke rumah sakit ketika ambulance datang. Sedang Nabil masih dalam pencarian tim SAR.
...----------------...
Sementara di tempat lain
Setelah turun dari mobil sang pacar, Elin melangkahkan kakinya dengan perasaan tak karuan. Entah kenapa ia mempunyai firasat buruk, entah kejadian apa yang akan terjadi dalam hidupnya.
Elin langsung duduk di kursi kerjanya setelah sampai disana, lama Elin terduduk sambil melamun. Hingga suara perawat membuyarkan lamunannya, saat ini perawat memberitahu bahwa ada ibu hamil yang ingin memeriksa kehamilannya.
Detik demi detik, menit demi menit hingga jam berganti jam, tapi Elin tak bisa konsentrasi bekerja. Pikiran dan hatinya terpatri pada sang kekasih, perasaan tak enak semakin menyelimuti hatinya.
Hingga ia mencoba menghubungi sang kekasih melalui telefon. Kontak yang bertulis nama sang kekasih pun dipencetnya, namun yang terdengar hanya suara
.
.
.
.
.
.
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi
__ADS_1