Jodoh Dari Masa Lalu

Jodoh Dari Masa Lalu
Bagian 18


__ADS_3

“Elin menikahlah dengan Angga “ ucap Ayah Dirman tiba-tiba


“Apa maksud ayah bicara seperti itu” tanya Elin yang masih shock dengan ucapan sang ayah


“ayah tau kan Elin ada mas Nabil yah, dan Elin juga mencintai mas Nabil. Lalu kenapa harus menikah dengan laki-laki yang namanya Angga” jawabnya dengan menahan tangis


“maaf nak, tapi itu keputusan ayah “ ucapnya pada sang anak


“kenapa yah? Kenapa? Padahal ayah tau kalo Elin sudah lama menjalin hubungan dengan mas Nabil yah. Apa yang harus Elin bilang padanya” ucap Elin yang sudah mulai bercucuran air mata


“Elin juga gak kenal siapa Angga, Elin gak mau nikah sama dia yah” sambungnya


“maaf nak, tapi ini keputusan ayah dan ayah yakin ini yang terbaik untuk kamu” ucap sang ayah sebelum beranjak pergi ke kamarnya


Setelah kepergian sang ayah, Elin menangis sejadi-jadinya dipelukan sang Bunda. Ia bingung harus melakukan apa, ia tidak mungkin membantah sang ayah namun ia juga bingung harus bagaimana mengatakannya pada sang kekasih.


“Bun aku harus apa sekarang” ucapnya dengan suara parau


“Bunda juga bingung sayang, tapi nanti Bunda coba bicara pada ayah tentang hal ini” ucap Bunda Wati, sebenarnya ia juga bingung dengan keputusan sang suami


“bagaimana dengan mas Nabil nantinya, Bun “ racau Elin


“sudah kamu tenang dulu, tenangkan dirimu yaa, nanti Bunda coba bicara pada ayah dulu...semuanya akan baik-baik saja sayang” ucap sang Bunda yang menenangkan sang putri sulungnya itu


“kamu masuk dulu ke kamar, istirahat ya” sambung Bunda Wati lagi


Setelah berhasil menenangkan putrinya, Bunda Wati beranjak pergi menemui sang suami untuk membicarakan masalah ini.


Ceklek


Bunda Wati membuka pintu kamar pelan, dilihatnya sang suami tengah berada di sofa dengan buku di tangannya. Ia menghampiri suaminyan dan mendudukkan tubuhnya di samping suaminya.


“Mas..” panggilnya


“Hmmm” tanpa menolehkan pandangannya ke arah sang Istri


“Kenapa mas nyuruh Elin menikah dengan Angga ?” tanyanya pada suami

__ADS_1


“Karena itu keputusan mas” jawabnya


“tapi kan mas tahu, selama ini Elin menjalin hubungan dengan Nabil. Lagi pula Nabil orang yang baik, pernahkah Nabil berlaku tidak sopan pada kita Mas” tanyanya dengan lembut


“selama ini Nabil selalu menghormati kita, dia juga baik. Apa yang membuat kamu tega memisahkan mereka mas? mereka saling mencintai dan sekarang kamu meminta Elin untuk menikah dengan orang lain, kenapa mas?” sambungnya


“Balas budi” jawabnya dengan dua kata tersebut


“balas budi?, balas budi seperti apa mas?” tanyanya lagi masih dengan nada lembut


“mas tidak bisa menjelaskan balas budi seperti apa dek, yang jelas mas punya hutang yang tidak bisa dibayar dengan uang dan hanya ini mas bisa membayarnya” jawab Ayah Dirman


“lalu mas tega mengorbankan kebahagiaan anak kita” ucapnya dengan manaikkan nada bicaranya


“mas tidak mengorbankan kebahagiaannya, justru mas yakin bahwa mereka akan bahagia” ucapnya santai namun serius


“bagaimana mas bisa yakin” tanya Bunda Wati


“kita akan tahu nanti dek “ ucapnya lembut


“yang jelas keputusan mas tidak bisa diganggu gugat dan masalah Nabil mungkin mereka berdua tidak berjodoh. Dan kita doakan saja Nabil mendapatkan jodoh yang lebih baik dari putri kita” sambungnya


 


......................


Sementara di kamar lainnya


Elin masih menangis dengan memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya di tengah-tengah lututnya. Tak tau harus berbuat apa, jadi ia luapkan dengan menangis karena otaknya tak bisa berpikir untuk sekarang dan juga untuk menguatkan hatinya.


Sudah tiga jam lebih, Elin menangis dalam posisi seperti itu tanpa berniat mengubah posisinya. Kini Elin mulai beranjak ke kamar mandi dengan air mata yang terus mengalir deras.


Ceklek


Dibukanya pintu kamar mandi tersebut dan memulai masuk ke dalam dengan pelan. Ia memberhentikan dirinya di depan cermin kamar mandi. Ia pandangi wajah sembabnya karena menangis dari tadi.


“Apa yang harus aku katakan pada Mas Nabil, kenapa takdir selalu mempermainkan aku seperti ini. Apa hidupku memang akan terus dipermainkan oleh takdir.” Batinnya

__ADS_1


"apa lagi yang akan terjadi pada hidupku,, kenapa harus selalu dipermainkan seperti ini” batinnya lagi


"apa aku akan kuat menjalani ini semua?" kalimat itu teeus saja terlintas dibenaknya


"Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan " gumamnya


Setelah puas memandingi dirinya sendiri di dalam cermin, ia segera menyelesaikan tujuannya untuk ke kamar mandi. Dua puluh menit berlalu, kini Elin sudah siap dengan pakaian tidurnya. Walau ia sendiri tidak tau apa ia bisa tidur dengn nyaman dan nyenyak seperti biasa.


Direbahkannya tubuhnya diatas kasur dengan terlentang menghadap langit-langit kamarnya, pandangannya lurus dan jika dilihat seperti orang yang kosong pikirannya.


Tapi jangan salah walau begitu Elin terus berusaha menguatkan hatinya dan mencoba berdamai dengan keadaan. Dan bagaimana caranya ia akan membicarakan hal ini pada Nabil sang kekasih. Lama ia larut dalam pikirannya, hingga ia terlelap dengan sendirinya.


 


......................


Sinar pagi menyeruak masuk ke dalam kamar Elin dan mentari terlihat cerah namun tak secerah pikiran dan hati Elin saat ini, karena hati sedang mendung dan pikirannya sedang diterpa badai.


Hari ini, Elin meliburkan dirinya karena ia tidak akan bisa berkonsentrasi jika berangkan kerja. Maka dari itu, ia mengambil libur satu hari untuk memeikirkannya matang-matang. Namun tak lupa, ia terus berdoa meminta petunjuk dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Tok..tok...tok


Terdengar suara ketukan pintu, dan tak lama ada seorang yang masuk ke dalamnya.


“kakak baik-baik saja kan?” tanya Nadya yang hanya di jawab deheman saja oleh sang kakak


“kak, keluar sarapannya udah siap” ucap Nadya


“iya” jawabnya singkat


“ kakak apa sih di ajak ngomong jawabnya gitu, dasar maemunah” gerutu Nadya, sebenarnya Nadya tak ada maksud seperti itu, dia hanya ingin menghibur sang kakak


“berisik Jah” ucapnya kesal


“keluar, sarapan sekarang Maemunah “ ucapnya geram karna sang kakak masih saja berdiri di dekat jendela


“iya” jawabnya sambil melenggang pergi

__ADS_1


Setelah kepergian kakaknya, air mata Nadya jatuh tak tertahan. Sang kakak kini menunjukkan sisi dinginnya, memang Elin sering sekali menunjukkan sisi dinginnya dan jika ngomong akan berujung pedas. Namun, sikapnya itu hanya ia tunjukkan ketika sedang dalam kondisi hati dan pikirannya tak sejalan dan juga ketika ia sedang marah.


“semoga kakak selalu bahagia, bagaimanapun nantinya” batinnya sambil melenggang pergi menyusul kakaknya


__ADS_2