Jodoh Dari Masa Lalu

Jodoh Dari Masa Lalu
Bagian 21


__ADS_3

Waktu terus berjalan, namun hari-hari Elin bagai awan hitam, gelap tanpa cahaya. hari-harinya selalu ia gunakan untuk terus mencari Nabil, walau pihak polisi sudah menyatakan bahwa Nabil sudah meninggal namun ia tidak percaya. Hati kecilnya berkata bahwa Nabil masih hidup, cintanya belum mati.


Hingga tiga tahun lamanya, namun Nabil tak pernah menunjukkan diri ke hadapannya. Membuat pikirannya mulai meragu bahwa kekasihnya masih hidup, walau sekuat apapun hatinya meyakini bahwa sang kekasih masih hidup namun keadaan seolah menunjukkan bahwa cintanya sudah tiada.


Seperti hari-hari sebelumnya, setelah dari rumah sakit Elin akan pergi ke tempat Nabil mengalami kecelakaan, hanya sekedar untuk melihat setelah itu kembali pulang ke rumah.


Mobil yang ditumpangi Elin mulai menjauh dari tempat dimana Nabil mengalami kecelakaan tiga tahun lalu. Kini mobil tersebut mulai mengitari jalanan untuk sampai ke tempat tujuan.


Selang empat puluh lima menit, akhirnya mobil yang dinaikinya sampai di rumah.


Ketika masuk sampai di ruang tengah, ia langsung diminta duduk oleh sang ayah. Yah, ayah Dirman sedih melihat putrinya sulungnya sudah tak seceria dulu.


"Duduklah nak, ayah ingin bicara suatu hal penting denganmu" pinta Ayah Dirman


"Iya, Yah" jawab Elin kemudian mendudukkan tubuhnya dihadapan sang ayah

__ADS_1


"Nak, sebelumnya ayah mau minta maaf atas semua yang terjadi terhadapmu dan Nabil tapi ayah sudah memutuskan untukmu menikah dengan laki-laki pilihan ayah" ucap ayah Dirman pelan namun penuh dengan kharisma tegas


Deg


"Ayah, bukankah Elin sudah bilang bahwa aku menolak hal ini" jawab Elin dengan suara mulai parau


"Ayah tau, tapi keputusan ini sudah ayah ambil sebelum Nabil meninggal dan mungkin ini adalah suatu jawaban dari Allah bahwa laki-laki pilihan ayahlah jodohmu" ucapnya penuh kelembutan namun terdengar tegas ditelinga Elin


"Ayah tapi..'' ucap Elin dipotong langsung oleh Bunda Wati


"Apa yang dibilang ayahmu ada benernya Nak. Mungkin kamu dan Nabil itu belum jodoh dan ini merupakan takdir dari Allah. Soal cinta, Bunda yakin jika kamu sudah menikah dan terbiasa bersama dengannya pasti rasa cinta itu perlahan akan muncul. Percayalah sayang bahwa ini adalah pilihan yang terbaik yang Allah berikan untukmu" Sela Bunda Wati dengan nada pelan dan lembut


"pikirkan ini dengan hati dan pikiran yang tenang sayang dan jangan lupa minta petunjuk dari Allah" sambung Bunda Wati


"iya, Bun. kalau begitu Elin ke kamar dulu" pamit Elin sebelum beranjak dari sana

__ADS_1


Sudah satu minggu, setelah pembicaraan Ayah Dirman dengan Elin, Ayah Dirman tak lagi membahas hal itu. Karna baginya, putri sulungnya itu butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan hati.


Saat sedang sarapan, Elin nampak terus melamun dan sesekali melirik ke arah sang Bunda dan Ayahnya.


"Yah, Elin mau bicara hal penting pada Ayah" ucapnya setelah melamun


''Bicaralah Nak" sahut Ayah Dirman


"Elin mau menikah dengan laki-laki pilihan ayah" ucapnya lirih bahkan hampir tak terdengar


"syukurlah, tapi ayah harap kamu menerima ini bukan karena Ayah dan Bunda namun karna inilah pilihan Allah untuk kamu" ucap Ayah Dirman berusaha menguatkan hati putri pertamanya, yang dijawab anggukan oleh Elin


"Baiklah , ayah akan menyampaikan kabar ini pada Angga dulu" setelah berkata seperti itu, beliau langsung menuju kamar guna memberitahu hal ini pada Angga si calon suami putri pertamanya


Di dalam kamar, Elin sedang berdoa dengan air mata yang terus mengalir deras

__ADS_1


"*Ya Allah, jika ini adalah takdir yang Engkau berikan kepada hamba, InsyaAllah hamba ikhlas menerimanya. Namun hamba mohon Ya Allah kuatkanlah hati hamba yang lemah ini"


"Ya Allah jika memang bukan mas Nabil jodoh hamba, tolong bukakan pintu hati hamba untuk bisa menerima dan mencintai calon suami yang Engkau pilihkan untuk hamba. Ya Allah, lapangkanlah hati hamba untuk menerima apa yang sudah Engkau tetapkan untuk hamba. Hanya Engkau tempat hamba mencurahkan segala keluh kesah hamba, Ya Allah*"


__ADS_2