
Terdengar suara lampu lalu lintas perlintasan kereta yang sedang berkerja dan menandakan untuk berhati-hati karena kereta akan berangkat ke stasiun berikutnya. Desti yang kini sedang berada di dalam kereta nampak sedang menikmati perjalannya. "Aku harap mira tidak pindah rumah", ucap desti yang kini sedang melihat keluar jendela.
Tibalah kini desti di stasiun yang ingin ia tuju. "Ehm... Sudah lama aku tidak menginjakan kaki disini", ucap desti yang kini turun dari kereta. "Lebih baik aku pesan ojol", ucap desti memesan ojol dan berjalan keluar stasiun.
Tidak butuh waktu lama ojol yang di pesan desti telah datang. "Dengan mba desti?", tanya ojol itu menghampiri desti. "Oh iya betul mas", jawab desti. "Antar sesuai dengan alamat mba?", tanya ojol itu meyerahkan helm. "Iya mas, tapi nanti mampir di tukang buah sebentar bisa tidak mas?",tanya desti yang kini naik ke atas motor. "Bisa", ucap ojol itu langsung melajukan motornya.
######
Kini ojol itu telah selesai mengantarkan desti ke rumah mira, desti yang saat ini berada di halaman rumah mira dan melihat keadaan rumah mira nampak sepi. "Sepertinya tidak ada orang, tapi lampu dalam rumahnya menyala", ucap desti kini mulai berjalan ke arah pintu dan mengetok pintu.
"Tok... Tok... Tok...", "permisi", ucap desti tidak mendapatkan jawaban. Lebih baik ku coba sekali lagi .
"Tok... Tok... Tok...", "permisi", ucap desti lebih keras.
__ADS_1
Tak lama seperti ada suara langkah kaki dari dalam menghampiri pintu dan ada suara yang menyahuti ucapan desti. "Iya tunggu sebentar", jawab seseorang dari dalam dan membukakan pintu itu.
"clak...." suara pintu terbuka dan memperlihatkan wajah mira dan desti saling memandang satu sama lain.
"Desti", ucap mira kaget. "Mira", ucap desti langsung memeluk mira. "Kau benar desti?", tanya mira belum percaya. "Yah aku desti, memang kau kira aku ini hantu", ucap desti kini melepaskan pelukannya. "Hehe... Sudah 2 tahun aku tidak mendengar kabar mu, saat aku menghubungi mu nomer mu sudah tidak aktif", ucap mira. "Oh soal itu, ponsel ku hilang di copet", jawab desti singkat. "Ah... Ya sudah ayok masuk dulu", ucap mira mengajak desti masuk ke dalam.
"Kau duduk disini dulu aku akan mengambilkan mu minum", ucap mira. "Ah... Tidak usah repot-repot mira, ini buah untuk mu bawalah sekalian", ucap desti menyerahkannya dan mira menerimanya lalu membawanya ke dapur.
"Rumah ini tidak berubah", ucap desti memperhatikan rumah milik mira dan berhenti di suatu foto yang besar. "Foto pernikahan mas indra dan mira, sepertinya aku baru melihatnya", ucap desti memperhatikan itu. Tiba-tiba mira datang membawa minuman dan berjalan menghampiri desti, "Hayo liat apaan tu serius banget", ucap mira. "Ah... Tidak, hanya saja aku baru melihat foto ini sepertinya", jawab desti. "Oh foto itu, iya baru aku pasang 1 tahun yang lalu", ucap mira. "Oh begitu", jawab desti.
"Lalu kegiatan mu sekarang apa?", tanya mira. "Apa yak, sepertinya hanya menjadi pengangguran saja", jawab desti sambil meminum tehnya. "Oh seperti itu", ucap mira tak ingin bertanya lebih lanjut. "Lalu sekarang kegiatan mu seperti apa?", tanya desti. "Yah seperti yang kau lihat jadi ibu rumah tangga saja", jawab mira.
"Oh jadi begitu, setelah kau dan aku habis kontrak diantara kita berdua belum ada yang bekerja lagi", ucap desti berfikir. "Wah bagaimana kau bisa tau desti aku tidak bekerja lagi sehabis kontrak, apa kau seorang cenayang", ucap mira tertawa. "Hehe... Hanya tebak-tebak saja", jawab desti dan mira yang mendengar itu tertawa.
__ADS_1
######
"Mira sebenarnya aku datang kesini ingin cerita, aku tidak tau lagi harus cerita ini kepada siapa?", ucap desti sedikit murung dan mira yang melihat itu menjadi nampak serius. "Kau ingin cerita apa, aku siap mendengarkannya", ucap mira memegang tangan desti dan tersenyum.
"Ehm... Dari mana yak aku cerita, sebenarnya aku ingin di jodohkan oleh tante ku dan pihak laki-laki menerima perjodohan ini", ucap desti sedikit kesal. "Oh... tentang perjodohan ya", ucap mira sedikit mengerti.
"Kemudian apa jawaban mu?, apa kamu menolaknya dan menentang perjodohan itu?", tanya mira. "Awalnya aku menolak tapi pada akhirnya aku mengiyakannya, tante ku bilang ini hanya sebuah pertemuan saja jadi misalkan aku tidak suka boleh menolaknya, tetapi pihak laki-laki menerima perjodohan itu sehabis pulang dari pertemuan yang di rencanakan, aku bingung sekarang apa yang harus aku katakan untuk menjawabnya", ucap desti terlihat tak bersemangat. "Tapi kalo menurut ku sebaiknya kau terima saja perjodohan itu, atau mungkin jangan-jangan laki-laki yang di jodohkan kepada mu sudah punya cucu", ucap mira membuat suasana lebih seru. "Yah tidak seperti itu juga mir", ucap desti. "Hehe... Sorry-sorry kirain gitu, jadi seperti apa orang yang di jodohkan kepada mu sampai-sampai kau tidak ingin di jodohkan olehnya?", tanya mira penasaran.
"Ehm... gimana yak, orangnya si cukup tampan, kelihatannya si baik dan pekerjaannya lumayan bagus juga", jawab desti membayangkan seorang riki. "Wah kalau seperti itu kau harus menerimanya", ucap mira meyakinkan desti. "Ah kau ini kenapa jadi seperti tante ku, semangat sekali untuk aku menerimanya", ucap desti sedikit kesal.
"Bukan seperti itu maksud ku desti, aku tau tante mu pasti tidak asal memilih seseorang laki-laki yang akan di jodohkan kepada keponakannya, tante mu hanya ingin yang terbaik untuk mu", ucap mira. "Iya aku tau mira tapi kenapa aku harus mendapatkan jodoh lewat perjodohan, ini tuh bukan jaman siti nurbaya lagi mira, lihat kita udah di jaman modern semua sudah serba digital, masa aku tidak bisa menentukan pilihan ku sendiri", ucap desti. "Semua yang kau katakan itu benar, tapi tidak kah kamu mu melihat kedua orang tua mu desti, mereka juga ingin melihat kau menikah dan bahagia", ucap mira membaut desti seperti berfikir.
"Aku tau apa yang kamu rasakan dan seperti apa perjodohan itu, aku juga mengalaminya", ucap mira membuat desti nampak kaget. "Apa... Yang bener mira?", tanya desti tidak percaya. "Iya benar bahkan aku dulu memberontak dan malah menjadi seseorang yang bodoh", ucap mira yang kini sedang mengingat-ingat masa lalunya.
__ADS_1
Desti yang memperhatikan mira seperti tidak percaya, "Apakah mira benar-benar pernah di jodohkan", ucap desti dalam hati.