
Matahari telah terbit, waktu menunjukan jam 08:00. Ratna yang telah menyelesaikan tugasnya pagi ini langsung menelepon santi.
"Tutt"... Suara dering ponsel memanggil... , kini terlihat ratna sedang menghubungi santi.
"Hello", ucap santi menjawab panggilan telpon. "Iya, hello santi ini ratna", ucap ratna dengan semangat. "Ada apa rat? Sepertinya dari suara mu terdengar bahagia sekali", tanya santi. "Iya dong harus bahagia, eh... bukan itu yang ingin ku sampaikan", balas ratna. "Jadi kenapa? Apa yang ingin kau sampaikan", tanya santi. "Kamu pasti senang kalo tau san soalnya riki menerima perjodohan ini", jawab ratna dengan senang dan bersemangat. "Apa... Kamu gak bohong kan sama aku?", tanya santi yang senang dan sedikit kaget. "Iya beneran san, semalam riki sendiri yang bilang mau di jodohkan sama keponakan mu", jawab ratna. "Wah ini kabar gembira untuk keluarga ku, aku akan memberitahu kepada mas zaki dan mba rindu", ucap santi. "Iya cepatlah beri tahu kabar gembira ini", ucap ratna. "Ya sudah kalau seperti itu aku tutup dulu telponnya", ucap santi. "Iya baiklah", ucap ratna menutup telponnya.
"Aku harus memberitahu kabar bahagia ini", ucap santi mencari keberadaan zaki dan rindu.
######
Di dalam kamar, desti yang baru bangun sedangan mengumpulkan nyawanya dan duduk bersandar di tepi tempat tidur.
"Ehm... ternyata sudah pagi", ucap desti melihat jam dinding. "Sepertinya kejadian malam kemarin bukanlah mimpi", ucap desti yang melihat dirinya masih mengenakan baju yang di belikan tantenya. "Aku harap perjodohan ini batal", ucap desti masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.
Tidak lama datang firda yang masuk ke dalam kamar desti untuk menagih sisa uang bayarannya. "Kakak", panggil firda membuka pintu kamar desti. "Ehm... tidak ada, kemana dia pergi?", tanya firda pada dirinya sendiri. Firda yang mendengar ada suara air dalam kamar mandi desti, firda yakin pasti desti sedang mandi. "Lebih baik aku menunggunya di sini, kalau tidak dia bisa saja menipuku", ucap firda yang duduk di kasur desti sambil memainkan ponselnya.
Desti yang sudah selesai mandi dikagetkan dengan suara firda yang memanggilnya. "Kakak", ucap firda sedikit teriak saat melihat desti yang baru keluar dari kamar mandi. "Astaga kamu yak bikin jantungan aja", ucap desti memegangi dadanya. "Hehe... Maaf gak sengaja", ucap firda tertawa. "Mau ngapain kamu ke kamar kakak pagi-pagi", tanya desti. "Ya mau nagih janji kakak dong, mana kakak masih punya utang bayaran sama aku", ucap firda. "Oh soal itu, kirain kamu gak ingat", ucap desti yang kini sedang berpakaian. "Mana ada sekarang orang yang gak ingat tentang uang kak, sudah tidak usah basa basi cepat berikan kekurangannya", ucap firda tak sabaran. "Iya iya gak sabaran banget, udah kaya penagih utang", ucap desti kini mengambil uang dalam dompetnya dan memberikan sisa bayarannya pada firda.
"Nah beginikan enak", ucap firda terlihat senang. "Kalau soal uang aja matanya ijo", ucap desti sedikit meledek. "Hehe... Siapa si yang gak suka uang kak, yasudah kalo gitu aku pergi dulunya, mau nongki-nongki cantik sama besti-besti", ucap firda pergi meninggalkan kamar desti. "Dasar firda pagi-pagi bikin mood naik aja", ucap desti yang kini sedang menyisir rambut.
"Ehm... sepertinya sudah rapih semua", ucap desti melihat kamarnya sudah selesai ia bereskan. "Sekarang tinggal turun ke bawah untuk sarapan, yak walau sudah jam 10:00", ucap desti melangkah pergi dari kamarnya.
__ADS_1
######
Di meja makan desti yang kini sedang menikmati makanannya di kejutkan oleh ke datangan santi.
"Desti", panggil santi dan membuat desti tersedak karna kaget.
"Uhuk...uhuk...uhukk...", terlihat desti tersedak. "Ya ampun", ucap santi memberi minum sambil menepuk-nepuk punggung desti. "Gimana sudah baikan?", tanya santi sedikit kuatir. "Sudah tidak apa-apa tante", ucap desti. "Ya sudah kalo tidak apa-apa, nanti desti habis selesai makan temui tante di ruang tamunya, ada yang tante ingin bicarakan", ucap santi. "Iya tante", jawab desti melanjutkan makannya.
"Ada apa ya, sepertinya tante santi ingin bicara sesuatu yang serius, apa jangan-jangan perjodohan ini batal mungkin, tadi si mukanya tante santi sepertinya tidak bersemangat", ucap desti dalam hati bersemangat.
######
"Ehm... Kenapa bapak dan mama ada di sini", ucap desti menghampiri mereka bertiga.
"Tante santi, kok ada bapak sama mama juga di sini? Tanya desti. "Sudah kamu duduk dulu di sini", ucap santi menyuruh Desti duduk di sampingnya. "Tante ada apa si? Sepertinya penting sekali sampai ada bapak sama mama juga?", tanya desti sekali lagi dan tak dapat jawaban.
"Jadi begini desti, tante mau menyampaikan pesan dari teman tante, kamu tau kan tante ratna?", tanya sinta. "Iya tau, tante ratna yang suaminya om rinto yang datang semalam ke rumah kita", jawab desti sedikit curiga. "Iya bener banget kamu, jadi anaknya tante ratna yang namanya riki mau di jodohin sama kamu", ucap santi dengan bahagia.
Desti yang mendengar itu seperti tersambar petir di pagi hari, "Apa? Pasti tante bercanda? ", tanya desti sedikit gemetar. "Tante gak bercanda, ini serius desti", ucap santi meyakinkan desti. Zaki yang melihat respon desti seperti merasa bersalah. "Sudah-sudah nanti kita bahas lagi masalah ini", ucap zaki dan rindu juga mengiyakan ucapan zaki.
"Gak bisa gitu dong mas aku mau denger langsung dari desti jawaban dia gimana", ucap sinta. "Jadi gimana desti jawaban kamu?", tanya santi. Desti yang hanya menundukkan kepalanya, tiba-tiba merasakan pusing secara mendadak. "Tante aku ke atas dulu", ucap desti dan langsung pergi naik ke kamarnya.
__ADS_1
"Desti tunggu dulu tante belum selesai ngomong", ucap santi memanggil desti. "Santi sudahlah biar desti tenang dulu, jangan langsung meminta jawaban, dia juga butuh memikirkannya matang-matang", ucap zaki. "Duh mas ini, harus sedikit tegas gitu sama desti, ini juga buat kebaikan desti", ucap santi. "Iya mba juga tau san buat kebaikan desti, tapi kalau langsung di paksa yang ada jadi beban buat desti juga, lebih baik kita pelan-pelan membujuknya", ucap rindu. "Ya sudahlah, aku akan menginap seminggu di sini, mana tau desti sudah mendapatkan jawabannya, ucap santi pergi meninggalkan zaki dan ratna.
######
Desti yang sedang berfikir di dalam kamarnya terlihat mondar mandir.
"Apa aku harus pergi dari rumah ini", ucap desti seperti frustasi. "Ah tidak mungkin, aku tidak mempunyai pekerjaan, kalau mau menumpang juga tidak tau harus kemana", ucap desti yang kini duduk di tempat tidur.
"mau bercerita juga tidak ada tempat untuk curhat, semua teman ku pasti pada sibuk mengurusi rumah tangganya masing-masing, aku tidak mau mengganggu mereka dengan keadaan ku", ucap desti yang kini merasa buntu untuk berfikir.
"Oh iya, apa aku pergi menemui mira saja", ucap desti yang tampaknya sedikit lebih semangat. "Ya walaupun aku tidak tau mira masih tinggal di sana atau tidak", ucap desti. "Lebih baik aku pergi sekarang, jarak tempat tinggal mira jauh dari rumah ku", ucap desti yang mengambil tasnya dan jaket untuk ia kenakan, tidak lupa di meninggalkan pesan dan di tempelkan di meja riasnya. "Jangan cari aku, aku hanya keluar sebentar dan tidak usah kuatir aku akan pulang" isi pesan yang di tinggalkan desti.
Setelah desti rapih, kemudian desti bergegas pergi tanpa berpamitan oleh bapak atau mamanya dan langsung memesan ojol untuk pergi ke stasiun.
######
Tak lama desti pergi, rindu naik ke atas untuk berbicara dengan desti.
"Des... Desti", panggil rindu dari luar pintu kamar desti dan tidak dapat jawaban. Rindu yang tidak mendapat jawaban lalu masuk ke kamar desti dan melihat tidak ada desti di dalam kamarnya. "Kemana anak ini", ucap rindu sedikit kuatir. Di lihatnya ke dalam kamar mandi, desti juga tidak ada dan ia tidak sengaja melihat ke arah meja rias dan menemukan pesan yang di tulis oleh desti dan rindu membacanya.
"Ah... Sepertinya kamu membutuhkan waktu sendiri desti", ucap rindu sedikit tenang.
__ADS_1