
Kini riki sedang memantau pembicaraan antara desti dan firda, bisa di bilang riki sekarang sebagai orang yang kepo.
"Mereka sedang membicarakan apa ya", ucap riki yang saat ini sedang bersembunyi dengan hati-hati.
Di meja makan desti dan firda sedang mengobrol dan mereka tidak tau sedang di awasin oleh riki.
"Kak bukannya bang riki itu lumayan tampan?", tanya firda. "Ya lumayan lah", jawab desti sambil menuangkan air di gelas satu persatu. "Kalau begitu kakak terima saja perjodohan ini lagi pula kerjaannya juga sepertinya hebat", ucap firda. "Ah... Kamu itu masih terlalu kecil untuk mengetahui seseorang lelaki", balas desti. "Memang kenapa kak? Memangnya kakak tau tentang laki-laki, kakak saja tidak pernah pacaran", ucap firda meledek. "Kau ini yak, di beritahu tidak percaya", ucap desti menjewer telinga firda.
"Aduh... Sakit tau", ucap firda memegangi telinganya. "Ni yak de, kalau laki-lakinya modelnya kaya gitu, gak mungkin gak punya pacar tau de... Kalau di liat-liat aja wajahnya lumayan, kerjaanya bagus dan satu lagi pasti banyak cewe-cewe yang naksir", ucap desti. "Iya juga omongan kakak masuk akal", balas firda. "Kakak yakin kalo dia itu punya tipe cewe ideal buatnya seperti harus cantik, pinter, body bagus dan satu lagi karir harus cemerlang. Jadi kakak tu gak masuk daftarnya", ucap jean sangat yakin.
"Masa memangnya kakak kenal sama bang riki?", tanya firda. "Iya gak kenal, tapi kakak yakin dengan ucapan kakak", jawab desti. "Ya kalo kakak yakin, kenapa aku harus repot-repot bantuin kakak", ucap firda. "Iya karena kamu harus buat kesan yang jelek tentang kakak sama keluarganya", ucap desti memegang pundak firda. "Kakak ini bener-bener selalu menumbalkan ku", ucap firda cemberut.
"Sudah-sudah jangan cemberut, tugas kamu tinggal sedikit lagi kok", ucap desti tertawa dan firda yang mendengar itu hanya diam saja.
"Sudah sana kamu panggil yang lain makanannya sudah siap semua", ucap desti. "Yak kakak saja yang memanggil meraka aku tunggu di sini", jawab firda. "Enak aja kakak itu mau naik ke atas tidak akan ikut makan", ucap desti kini menyendoki makanan ke piringnya. "Maksudnya apa ini?", tanya firda. "Jadi kakak ke atas kamu sama yang lain makan disini, dan jangan lupa tugas kamu", ucap desti. "Kakak ini benar-benar kejam", ucap firda berlalu meninggalkannya.
"Hehe... Maafkan kaka firda hanya kamu yang bisa kakak andalkan, mumpung mereka belum datang aku sebaiknya pergi", ucap desti lalu pergi ke kamarnya. Riki yang mendengar semua yang di bicarakan desti dan firda hanya tersenyum. "Bisa-bisanya wanita itu menjudge ku kepada adiknya seperti itu", ucap riki berlalu pergi ke toilet dengan tersenyum.
######
Firda yang datang dari arah belakang memberitahu mamanya bahwa makanan sudah di sediakan di meja makan semua.
"Mama makanan sudah siap semua", ucap firda berbisik pada rindu. "Ok terimakasih sayang", jawab rindu.
"Sepertinya makan malam kita sudah siap, lebih baik kita makan malam dulu dan melanjutkan obrolan nanti sehabis makan", ucap rindu dan mereka yang mendengarkannya setuju. "Iya tante rindu aku sudah lapar", ucap risti tanpa ragu dan membuat yang lain tertawa. "Ya sudah mari kita ke meja makan sekarang", ucap rindu dan di ikuti yang lain.
__ADS_1
Dalam perjalan ke meja makan firda berpapasan oleh riki. "Bang riki kita semua mau makan malam, sebaiknya bang riki langsung ke meja makan saja", ucap firda dan di iyakan riki.
######
Di meja makan semua orang telah berkumpul dan hanya desti yang tidak ada di sana.
"Dimana desti, firda?", tanya zaki. "Ehm... Katanya kaka sakit perut dan lagi datang bulang pak", jawab firda ragu. "Oh seperti itu", ucap zaki kini memakan makanannya. "Ini bukan hanya akal-akalannya kakak mu saja bukan firda?", tanya santi. "Bener tante, kakak belakangan ini sering sakit-sakitan gak jelas terus suka marah-marah gak jelas juga, apa lagi di tambah ada tamu bulanan", ucap firda nampak yakin.
Riki yang mendengar itu hanya tersenyum, "lumayan juga akting anak ini", ucap riki dalam hati.
"Apa bener seperti itu firda, Jika kak desti mengalami seperti itu lebih baik di periksakan, takutnya ada sesuatu yang terjadi dalam tubuhnya", ucap risti. "Ah... Iya nanti aku beri tahu", balas firda sambil makan. "Ah.. Hanya demi 300 ribu aku membohongi semua orang di sini", ucap firda dalam hatinya.
"Dengar firda besok kau harus pergi memeriksakan kakak mu ke rumah sakit, takutnya ada masalah dengan dirinya", ucap ratna yang terpancing dengan ke bohongan firda. "Iya baiklah tante", jawab firda.
Selesai makan malam mereka semua kembali ke ruang tamu, untuk mengobrol dan mengistirahatkan sebentar tubuh mereka sehabis makan.
"Iya bener dong risti, padahal tante suruh dia buat jualan online tapi dia gak mau, katanya nanti takut saingan sama mas zaki dan mba rindu", ucap santi membuat yang lain tertawa. "Duh jadi penasaran sama masakan desti", ucap ratna menyikut tangan riki. "Gimana bang riki menurut kamu", tanya ranta. "Iya enak", jawab riki membuat ratna sedikit cemberut.
Rinto yang kini menghampiri ratna untuk berbicara, "Mih sepertinya kita harus pulang, jam 22:00 nanti papi harus ketemu dengan pak anwar", ucap rinto. "ya sudah lebih baik kita pulang sekarang", jawab ratna. "Mas zaki, mba rindu kita pulang dulu yak, san aku pulang dulu yak", ucap ratna kini pamit pada mereka.
"Yah padahal masih jam 20:00 sudah mau pulang saja", ucap zaki. "Iya biasa mas tugas pak rw begini deh, ada warga yang ingin bertemu",ucap ratna bersalam. "Hehe... Ada tugas negara mas", balas rinto tertawa.
Ya sudah kami antar sampai depan ucap zaki mengantar keluarga gunawan ke halaman rumah.
######
__ADS_1
Desti yang kini sedang memandangi langit malam di jendela kamarnya, tak sengaja melihat ke halaman rumahnya. "Ehm... Sepertinya mereka semua sudah ingin pulang", ucap desti sambil melihat ke halaman.
Riki yang kini sudah berdiri di samping pintu kemudi, sedang menunggu orang tuanya yang berpamitan, tak sengaja ia melihat ke arah atas rumah zaki, riki melihat desti yang sedang melihat ke arah sini. "Apakah itu kamarnya", ucap riki dalam hati memperhatikan desti dari bawah. Tanpa sadar kini mata mereka bertemu satu sama lain, "Deg..." untuk beberapa saat mereka berdua saling adu pandangan kemudian tersentak dan membuat desti menutup jendela dan riki membuang pandangannya.
"Perasaan apa ini", ucap mereka berdua sambil memegangi dadanya.
"Bang ayo", ucap rinto yang kini sudah di dalam mobil dan membuat riki langsung masuk ke dalam. "Kenapa si bang di panggil-panggil dari tadi", ucap risti. "Ah... Gak ada apa-apa", jawab riki kini menjalankan mobilnya.
Di dalam perjalanan menuju rumah riki hanya terdiam sambil berfikir, "wanita itu aku sudah bertemu dia dua kali dan sekarang dia menjadi orang yang di jodohkan oleh diri ku, sungguh aneh dan dia juga tidak mengingat ku, padahal tiga hari yang lalu kita baru bertemu", ucap riki dalam hati seperti menjengkelkan.
"Abang... bang riki", ucap ratna memanggil riki yang hanya diam. "Papi colek dulu anaknya", ucap ratna meminta tolong rinto.
"Riki di panggil mami mu itu", ucap rinto menepuk pundak riki. "Iya pi kenapa?", jawab riki yang kini sadar dari pikirannya sendiri. "Itu di panggil mami mu", ucap rinto kedua kalinya. "Oh mami, ada apa mi?", tanya riki. "Kamu ini yak mami panggil-panggil juga malah bengong aja, nyetir yang bener nanti kita nabrak lagi", ucap ratna sedikit kesal.
"Hehe... maaf mi", ucap riki tertawa. "Tau mi dari tadi juga di rumah kak desti, bang riki banyak bengong kaya ayam mau di potong", ucap risti. "Apaan si kamu de", balas riki.
"Jadi gimana riki kamu suka gak sama keponakan tante santi? ", tanya ratna. "Mami ini masih di jalan loh, kenapa udah tanya-tanya kaya begitu ke riki", jawab rinto membela riki. "Sudah nanti aja di rumah kita bahas masalah ini", ucap rinto dan membuat ratna terdiam.
Suasana di dalam mobil kini menjadi tenang dan sunyi tidak ada yang mengobrol atau bertanya satu sama lain, mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri. Tanpa basa basi riki berbicara dan membuat suasana di dalam mobil menjadi gaduh.
"Mih... riki mau di jodohin sama keponakan tante santi", ucap riki membuat rinto, ratna dan resti kaget. "Apa", ucap mereka bertiga dengan kompak. "Yang bener bang, abang gak ngerjain mami kan?", tanya ratna masih ragu tapi hatinya bahagia. "Iya bang benarkan gak bohong?", ucap risti menimpali perkataan maminya. "Iya gak lah", jawab riki santai.
"Kamu udah memikirkannya dengan benar-benar nak?", tanya rinto. "Sudah pih, untuk apa aku berbohong", jawab riki. "Ya sudah kalo itu keputusan kamu papi hanya mengikuti saja", ucap rinto yang nampaknya juga bahagia.
"Wah ini kabar gembira, mami akan memberi tahu santi besok dia pasti akan senang", ucap ratna yang kini memeluk risti.
__ADS_1
Riki yang kini nampak aneh dengan dirinya dengan gampangnya menerima perjodohan ini. "Seperti ada yang salah dengan diri ku", ucap riki dalam hati sambil melajukan mobilnya.