
Keesokan paginya Desti yang baru bangun tidur mencari keberadaan ponselnya untuk memeriksa apakah ada pesan yang masuk pada ponsel miliknya atau tidak.
Dengan pandangan setengah sadar Desti membuka ponselnya dan memeriksa notifikasi ternyata hanya ada pesan dari operator kartu SIM card miliknya, "Tidak ada pesan apapun", ucap desti langsung mematikan ponselnya dan pergi berjalan ke kamar mandi.
Desti yang sedang berada di kamar mandi mendudukkan dirinya di kloset Karena merasakan sakit perut, dalam lamunannya Desti mulai teringat perbincangan tadi malam bersama dengan Riki yang mengakibatkan kecanggungan pada mereka berdua.
"Aneh banget semalem habis ngebahas Nino kenapa w sama Riki jadi canggung banget, sampai-sampai si riki nganterin w pulang juga gak ngobrol apa-apa", ucap desti dalam lamunannya.
"Padahal Kan sebelum masuk ke rumah, w bilang sama dia buat kabarin w kalau sudah sampai rumah, nyatanya apa w tungguin semalaman sampai w ketiduran dia gak ngabarin, w bangun tidur tadi cek ponsel w juga gak ada notifikasi dari dia", ucap Desti sedikit kesal.
"Tau begitu w gak usah basa basi tuh kemaren sama dia", ucap desti merasa kesal.
Diluar kamar Desti ada firda yang sedang mengetuk pintu kamar sambil memanggil-manggil nama Desti.
"Tok... Tok... Tok...", Suara pintu berbunyi
"Kak... Kakak...", Panggil firda dari luar kamar tapi tidak mendapat jawaban.
"Kakak Kemana si? kok w panggil-panggil gak nyaut, kayanya gak mungkin deh kalau masih tidur", ucap firda mulai memanggil nama Desti kembali.
Firda yang terlihat kesal karena panggilannya tidak di respon langsung membuka pintu kamar Desti dan tampak kagetnya firda pintu itu terbuka karena biasanya selalu terkunci.
"Tumben sekali tidak di kunci", ucap firda masuk kedalam kamar Desti dan mulai mencari keberadaannya.
"Kemana kakak kok tidak ada di kamar", ucap firda berdiri memperhatikan setiap sudut kamar Desti dan tak sengaja firda mendengar suara air dari arah dalam kamar mandi yang menandakan Desti berada di kamar mandi.
"Sepertinya lagi mandi, aku tunggu di sini sajalah", ucap firda mendudukkan dirinya di kasur Desti sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
Firda yang sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba mengingat sesuatu hal, "Oh iya mumpung kakak lagi mandi, w cari tau apa yak yang di sembunyikan dia di kamarnya selama satu bulan ini", ucap firda mengantongi ponselnya dan berdiri mencari sesuatu yang membuat Desti selalu mengunci pintu kamarnya.
"Tidak ada yang mencurigakan, tapi kenapa pintu kamar kakak selalu terkunci tidak seperti biasanya", ucap firda yang merapikan kembali benda-benda yang ada di meja.
Firda yang tak sengaja melihat kearah lemari seperti ada celah sedikit datang menghampirinya, "kenapa lemari kamar kakak tidak di mentokan", ucap firda yang melihat celah tersebut.
"Kenapa ada meja kecil disini? lalu apa ini ada vas dan bunga yang sudah kering seperti ini di dalamnya. Tapi kalau di lihat-lihat aneh sekali, ini seperti bunga yang di jual satu persatu, apa mungkin karena ini kakak mengunci kamarnya? Takut aku mengetahuinya dan meledaknya", ucap firda yang kini terseyum jahat.
"Ehm... jangan-jangan ini bunga dari pacar rahasianya kak", ucap firda terseyum licik.
firda yang melihat lemari pakaian milik Desti mempunyai ide untuk menjahilinya, " hehe... sekali-kali Aku kerjain saja kakak", ucap Firda kini masuk kedalam lemari pakaian Desti.
Desti yang sudah selesai mandi kini berjalan menuju lemari pakaiannya, firda yang mendengar langkah kaki Desti mulai bersiap-siap memasang muka menyeramkan.
Desti mulai membuka pintu lemari dan tiba-tiba firda yang duduk diantara gantungan pakaian mengeluarkan suara sambil menatap kearah Desti dengan wajah yang tertutup rambut dan meraba kakinya.
"Desti", ucap firda dengan suara beratnya, Desti yang mendengar suara dan merasakan suatu sentuhan di kaki melihat kebawah dan langsung berteriak dan membanting pintu lemari cukup kencang.
Firda yang merasakan pengang dengan suara keras bantingan pintu tersebut keluar dari dalam lemari sambil merangkak dan memegangi kupingnya.
"Aduh kak kenapa tutup pintunya kencang sekali", ucap firda sambil memegangi telinganya.
"Firda", ucap desti terkejut lalu bangkit berdiri menghampiri firda lalu menjewer telinganya.
"Kamu yak bikin kakak kaget aja", ucap desti kesal menjewer telinga Firda dengan keras.
"Aduh... Iya ampun kak, sakit...sakit...sakit...", Ucap firda kesakitan sambil memohon minta ampun, Desti yang sudah puas menghukum firda langsung melepaskan jewerannya.
__ADS_1
"Aduh sakit tau kak", ucap firda memegangi telinganya.
"Lagian kamu ngapain ada di dalam lemari mau cosplay jadi hantu", ucap desti pergi mencari pakaiannya.
"Terus ngapain kamu ada di kamar kakak, bagaimana kamu bisa masuk kedalam", ucap desti sambil mengenakan pakaiannya. "Tadi aku tuh udah panggil-panggil kakak tapi gak ada jawaban, ya udah aku coba buka pintunya ternyata gak di kunci, aku langsung masuk aja", ucap firda tak merasa bersalah.
Desti yang mendengarkan jawaban firda tidak menghiraukannya dan pergi menuju meja riasnya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Kak... nanti sore kakak ada acara gak?", ucap firda bertanya. "Ehm... Kayanya si gak ada", jawab desti.
"Wah kalau begitu bisa dong temani aku ke mall", ucap firda. "Ke mall kayanya kakak gak bisa deh", jawab desti menolak.
"Ahh... Kakak mah begitu, ayolah temani aku ke mall nanti aku traktir deh", ucap firda datang menghampiri Desti merayu. "Nanti kakak pikir-pikir dulu", ucap Desti yang masih mengeringkan rambutnya.
"Gak usah di pikir-pikir kak, iya aja ya kak.... Iyakan kak, mau kan", ucap firda merengek sambil menggelendoti lengan tangan desti.
Desti yang merasakan berisik dengan rengekan firda menjadi kesal, "Sudah sana keluar nanti kakak temani kamu", ucap desti menerima permintaan adiknya.
"Wah benar yak, janji ya awas aja sampai boong", ucap firda melihat wajah Desti. "Iya firda... Sudah sana ahh birik tau", ucap desti menyuruhnya pergi.
"Ya sudah aku keluar dulu, nanti aku datang lagi sore kesini Kakak harus sudah siap-siap", ucap firda terlihat serius dan membuat Desti hanya berdehem "ehm..".
Kemudian firda pergi meninggalkan kamar Desti dengan hati yang senang. Desti yang menyadari firda telah pergi langsung menutup kamarnya dan mengunci pintu tersebut agar firda tidak datang masuk kedalam lagi.
"Ehm... Sebenarnya aku malas untuk keluar hari ini, tapi sudah janji dengan firda mau tidak mau aku harus menemaninya", ucap Desti yang kini merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Seperti sedang menunggu kabar dari seseorang, Desti yang sedang tiduran mengambil ponselnya dan memandangi dalam diam tanpa memainkannya.
__ADS_1
"Kenapa kesal sekali", ucap desti langsung melempar ponselnya ke sembarang kasur.
"Lebih baik aku makan dari pada disini", ucap desti pergi meninggalkan kamarnya dengan perasaan kesal menuju meja makan untuk sarapan.