JODOH YANG DI JODOHKAN

JODOH YANG DI JODOHKAN
21


__ADS_3

Desti yang sudah di luar gedung acara kini mulai menarik nafas karena ia merasa lega sudah meyelesaikan acara tersebut.


"Huh... Untung saja tadi lumayan ramai yang ingin bersalaman dengan Rido dan nita jadi w gak usah harus mendengar kata-kata yang tidak mengenakkan dari mereka berdua", ucap desti dengan berjalan.


"Gimana ini, sekarang w harus mencari bang Riki kemana?, Nomer ponselnya pun w gak punya", ucap desti yang mulai celingak-celinguk di sekitar ruangan luar gedung.


Tanpa di sadari Desti sebenarnya Riki dari tadi memperhatikannya dari sudut tempat tunggu di sekitar ruang itu tetapi Riki hanya diam saja tidak datang menghampirinya.


"Apa aku kerjai saja dia yak", ucap Riki dalam hati terlihat terseyum seperti memikirkan cara.


"Hehe... Tapi lucu juga yak dia kaya orang linglung begitu", ucap Riki memperhatikan Desti.


Dari arah berlawanan terlihat seorang pria datang menghampiri Desti dan membuat Riki membulatkan matanya karena kaget dengan tingkah pria itu lalu menatap kearah pria tersebut dan Desti seperti tidak suka.


"Siapa pria itu", ucap Riki bangkit berdiri berjalan kearah Desti.


Desti yang kaget dengan seorang pria yang menyapa langsung merasa tidak nyaman, "Des ternyata kau di sini", ucap Nino mengelus pundak Desti, "Ehm Nino kenapa kamu di sini?", Tanya Desti terlihat menjaga jarak. "Aku nyariin kamu tadi di dalam kok tidak ada lagi", jawab Nino.


"Oh...Aku sudah selesai dan aku sekarang mau pulang", ucap desti. "Kamu mau pulang biar aku antar saja bagaimana?", Ucap Nino menawarkan tumpangan terseyum nakal pada desti. "Tidak usah aku kesini bersama teman ku", jawab desti menolak.


"Dengan siapa? Tidak ada seseorang di sini, apa kau sedang menghindari ku?", Ucap Nino berjalan mendekati Desti dan Desti yang melihat itu langsung memundurkan langkahnya.


Pada saat Desti memundurkan langkahnya tiba-tiba ia merasa menabrak seseorang dan seseorang itu langsung memeluk pinggangnya dari belakang.


Desti yang merasa kaget dengan pelukan itu langsung membalikan badannya dan menatap orang itu, "bang Riki", ucap Desti.


"Ehm... Ayok kita pulang", ajak Riki langsung menggandeng tangan Desti. "Ah iya", jawab Desti tidak menolak dan mengikuti Riki berjalan.


Nino yang merasa kesal dengan laki-laki yang menggandeng tangan Desti lalu mengejarnya dari belakang dan langsung menghalangi langkah mereka berdua dari didepan.

__ADS_1


"Hey lepaskan tangan mu!", Ucap Nino tak senang dan membuat Riki dan Desti berhenti berjalan. "Siapa kau berbicara seperti itu?", Jawab Riki dingin. "Aku temannya Desti, kenapa kau tiba-tiba membawanya pergi!", Ucap Nino tidak tau diri. "Aku calon suaminya, jadi kau mau apa!", ucap Riki berbicara tegas.


"Calon suami", ucap Nino langsung terdiam mendengar perkataan Riki sehingga membuat Riki dan Desti melanjutkan langkah mereka berdua untuk meninggalkan hotel itu.


######


Di dalam mobil Desti yang masih terdiam tidak berbicara apa-apa masih mencerna perkataan Riki dan Nino tadi di dalam hotel.


"Aduh w harus ngomong apa ini, kenapa w malu banget tadi pas bang Riki ngomong kaya begitu sama si Nino", ucap desti dalam hati sambil melihat keluar jendela mobil.


Riki yang dari tadi juga terdiam karena kesal yang ia tidak tau penyebabnya, kini membuka suaranya, "Boleh aku pinjam ponsel mu?", Ucap Riki bertanya dan Desti yang mendengar itu langsung mengambil ponselnya dalam tas dan meyerahkannya tanpa sadar kepada riki.


"Berapa password ponsel mu?", Tanya Riki sekali lagi. "0 enam kali", ucap desti masih tidak sadar, kemudian Riki mengetik password itu dan memasukan nomer telponnya dan langsung menghubungkan ke nomer ponsel miliknya.


Tak lama ponsel Riki telah berbunyi tanda nomernya yang ia hubungi benar, "Ini ponselmu dan simpan itu nomer telpon ku", ucap Riki memberikan kembali ponsel Desti padanya. "Ah iya", ucap desti langsung menyimpan nomer Riki.


Riki yang kini memberhentikan mobilnya Karena lampu merah lalu membuat Desti membuka percakapan sebab ia penasaran darimana saja Riki di hotel tidak kunjung datang ke dalam gedung menemuinya.


"Oh begitu yak", ucap desti baru sadar Karana yang boleh masuk kesana hanya yang membawa undangan atau teman bersama tamu undangan.


"Gimana ini yak, kayanya dia keliatan kesal", ucap Desti dalam hati memperhatikan wajah Riki yang datar.


Lampu telah hijau Riki yang langsung melajukan mobilnya menuju kerumah Desti dan membuat Desti kaget karena Riki melajukan mobilnya langsung jalan kearah rumahnya.


"Inikan jalan kearah rumah w, masa mau balik baru juga jam 20:00", ucap desti dalam hati seperti berfikir mencari alasan.


"Ehm... Bang Riki kita makan di dekat taman itu dulu bagaimana? Aku lapar", ucap desti membuat permintaan. Riki yang merasa lapar juga karena ia belum makan dari rumah sampai sekarang seperti menyetujuinya. "Iya", jawab Riki langsung mengendari mobilnya kearah taman itu.


"Di rumah makan itu aja bang", tunjuk Desti pada rumah makan seafood dan Riki langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah makan itu.

__ADS_1


######


Di dalam rumah makan terlihat Desti yang lagi memilih-milih menu dan Riki yang sibuk kini dengan ponselnya seperti sangat serius.


"Ehm... Bang Riki mau pesan apa?", Tanya Desti dan membuat Riki langsung memasukan ponselnya kembali ke sakunya.


"Kau pesan apa?", Riki bertanya kembali. "Eh... aku pesan udang goreng mentega saus tiram, cumi lada hitam dan es teh manis", jawab desti.


"Oh yaudah kalau gitu aku lobster saus Padang, gurame bakar madu, cah kangkung dan air mineral", ucap Riki membuat Desti tak percaya dengan pesanan riki.


Tidak lama kemudian pelayan datang dan mengambil menu dan kertas pesanan yang sudah di tulis Desti. "Ini saja mba, mohon di tunggu yak pesanannya", ucap pelayan itu pergi meninggalkan Riki dan Desti.


Sambil menunggu pesanan datang Desti mulai membuka obrolan diantara mereka berdua, "Bang Riki?, Abang suka makan seafood?", Tanya Desti. "Suka", jawab Riki.


"Aku suka makanan apa aja, selagi makanan itu yang langsung di olah", ucap Riki. "Oh... Berati Abang tidak milih-milih makanan, tapi kalau makanan cepat saji suka juga tidak?", Tanya Desti. "Tidak terlalu suka, makanan itu tidak terlalu sehat", jawab Riki.


"Apa kau suka makanan cepat saji?", Tanya Riki. "Ya pasti suka dong bang hehe...", Ucap desti tertawa dan memperlihatkan lesung pipinya.


"Kau mempunyai lesung pipi juga yak", ucap Riki menatap wajah Desti dengan terseyum. "Oh lesung pipi ini mungkin ini pemberian dari tuhan", ucap Desti gugup karena di tatap Riki dan langsung membuang mukanya.


Kemudian tiba-tiba suasana menjadi diam diantara mereka berdua, "Aduh malas banget w diem-diem kaya begini", ucap Desti dalam hati.


Tanpa Riki sadari tiba-tiba ia menanyakan pria yang bersama Desti tadi dalam suasana hening diantara mereka, "Desti siapa pria tadi yang menghalangi kita pulang?", ucap Riki bertanya. "Ah... itu Nino pacarnya teman ku", jawab Desti.


"Pacar teman mu, kenapa dia bersikap seperti itu pada mu tadi", ucap Riki masih merasa kesal. "Tidak tau, aku juga tidak suka dengan sikapnya dari dulu", ucap desti malas membahasnya.


"Mungkinkah dia menyukai mu lalu bersikap seperti itu dan kau menolaknya", ucap Riki dan membuat Desti yang mendengar itu terdiam kaget.


"Sepertinya benar tebakan w", ucap Riki dalam hati seperti hatinya terluka berkata seperti itu dan membuat suasana antara mereka menjadi canggung.

__ADS_1


Di sela-sela obrolan mereka datang dua orang pelayanan membawa pesanan mereka dan membuat suasana lebih mencair, "Permisi ini pesanan anda", ucap pelayan itu meletakan pesanan mereka di atas meja. "Terimakasih", ucap desti.


Kini makanan Dan minuman yang mereka pesan telah di hidangkan di atas meja mereka, tanpa menunggu lama akhirnya mereka berdua menyantap makan itu bersama dengan hati campur aduk di antara mereka.


__ADS_2