
Tiga hari sebelum pertemuan yang telah di rencanakan oleh santi dan ratna. Terlihat santi dan ratna sedang membereskan belanjaan mereka di ruang tamu rumah ratna.
"Duh ratna aku tuh udah gak sabar mau kenalin keponakan aku sama anak kamu", ucap santi dengan bahagia. "Iya san aku juga", balas ratna tak kala bahagia.
"Gimana dengan anak kamu, udah tau belum kalo dia mau di jodohkan?", tanya santi. "Kalau soal itu si belum, sekarang anak ku lagi ada tugas di luar kota, sepertinya hari ini dia akan pulang", jawab ratna. "Aduh gimana si kamu, kok belum kasih tau, nanti kalo mendadak begini anak kamu tiba-tiba gak mau gimana?", tanya santi sedikit kecewa. "Tenang aja san, anak aku pasti gak nolak kok", jawab ratna dengan yakin. "Ehm... Kalo kamu udah ngomong kaya gini, aku sedikit percaya si", ucap santi tertawa. "kamu ini ada-ada saja", balas ratna sambil memeriksa baju-baju yang mereka beli.
Terdengar suara mesin mobil yang masuk di area teras rumah ratna dan memperlihatkan seseorang laki-laki yang turun dari mobil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
"Hello... Mami", ucap riki masuk ke dalam rumah. Ratna yang melihat anaknya pulang langsung berdiri dan memberi pelukan. "Riki kau sudah pulang nak", ucap ratna sambil memeluknya. Riki yang membalas pelukan ratna dan memberi ciuman di tangan ratna kini menyadari ada sosok wanita yang tak asing untuknya.
"Eh.... Seperti... Tante santi!", ucap riki kaget. "Hay riki... Lama yak gak ketemu", ucap santi menyapa. "Sana kau sapa dulu tante mu", ucap ratna melepaskan pelukannya.
"Hello tante apa kabar?", tanya riki sambil mencium tangan santi. "Tante baik dong rik, di liat-liat kamu tambah ganteng aja kalo udah gede", jawab santi sedikit meledek. "Huh... Tante ini dari kecil juga udah ganteng tau aku", ucap riki dengan pede. "Sudah-sudah sana bersih-bersih dulu nanti ngobrol-ngobrol lagi sama tante mu", ucap ratna menyuruh riki pergi ke kamar.
"Iya siap mami laksanakan!", jawab riki memberi hormat sehingga membuat santi dan ratna tertawa. "Tante jangan pulang dulu, tunggu aku ok", ucap riki berlalu pergi ke kamarnya.
"Bener-bener yak ratna anak mu si riki gak ada berubahnya, bisa banget bikin orang ketawa-ketawa", ucap santi tersenyum. "Ya begitulah... Ini baru si riki aja, belum papihnya sama adeknya", ucap ratna sambil geleng-geleng kepala. "kayanya seru yak rat", ucap santi terlihat sedikit sedih. Ratna yang menyadari itu langsung mengganti topik.
__ADS_1
"Sudah ahh... Jangan ngomong ini, liat kamu jadi sedih gini", ucap ratna lembut. "Hehe... Aku gak papa kok sudah terbiasa", ucap santi kembali tersenyum. "Yasudah kita lanjutin kerjaan kita", ucap santi sambil memasukan belanjaannya ke kantong yang sudah ia sediakan.
Waktu terus berjalan, akhirnya santi dan ratna selesai juga. "Ehm... Udah beres ni", ucap rana merentangkan tangannya. "capek juga yak rat padahal cuma belanja kaya begini doang", ucap santi menyandarkan tubuhnya. "Iya san, aku juga salah deh malah beli bahan-bahan mentah buat bikin masakan besok yang mau di bawa", ucap ranta lelah. "Kamu si ngeyel, udah aku bilangin beli jadi aja, malah tetap maksa", balas santi.
"Hehe... Abisan kan keluarga ku gak ada yang suka sama masakan langsung siap saji, maunya di masak sendiri", ucap ratna sambil garuk-garuk kepala. "Iya juga sih keluarga mu aneh dari dulu", ucap santi tertawa.
"sepertinya sudah malem ni rat, aku pulang dulu yak takut nanti di kunciin pintunya sama mas aku", ucap santi melihat jam di dinding rumah ratna. "Emangnya kamu masih sekolah kaya dulu, kalo pulang malem masih suka di kunciin", ledek ratna. "Hehe... Mungkin aja", ucap santi tertawa. "Udah tunggu sebentar, nanti di anterin sama riki saja dia pasti mau dan kamu jangan menolak !", ucap ratna tegas. "Iya iya cerewet", gerutu santi.
Riki yang sudah selesai mandi turun ke bawah karena ingin melanjutkan obrolannya dengan santi.
"Nih dia ni anaknya, baru juga mami mau samperin udah nongol, panjang umur banget kamu", ucap ratna yang membuat riki bingung. "Kenapa emang mi?", tanya riki. "Kamu tolong anterin tante santi pulang yak nak, soalnya ini sudah malam", ucap ratna meminta tolong. "Oh oke... Tadi aku kira tante nginep di sini, kalo begitu aku ambil kunci mobil dulu", ucap riki berlalu pergi.
"Ayok tan jadi di antar pulang gak? Kok malah peluk-pelukan sama mami kaya Teletubbies", ucap riki yang membuat ratna dan santi langsung melepas pelukannya. "Kamu ini rusak suasana aja, udah sana anterin tante santi kerumahnya dengan selamat!", ucap ratna mengantarkan santi ke depan mobil.
"Hati-hati rik jangan ngebut-ngebut", ucap ratna kepada riki yang kini sudah di dalam mobil bersama santi. "Makasih yak rat kita ketemu lagi nanti hari minggu", ucap santi dari dalam mobil dan akhirnya riki melajukan mobilnya.
Dalam perjalanan pulang ke rumah santi, seperti biasa riki yang selalu banyak bercerita dan membuat santi tertawa dengan kata-kata ajaib yang riki buat, sehingga membuat suasana perjalan jadi begitu cepat.
__ADS_1
"Yah tan cepat banget sudah sampai?", tanya riki kini berhenti di salah satu rumah dua lantai. "kamu si bawa mobilnya kecepatan", jawab santi melepaskan sabuk pengaman. "Kalau begitu tante turun dulu yak riki, makasih sudah anterin tante pulang", ucap santi. "Iya sama-sama tante", ucap riki tersenyum.
"Kalau begitu aku duluan yak tan", ucap riki menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Riki yang sedang mengendari mobilnya kini berhenti di salah satu kedai mie ayam yang tidak jauh dari rumah santi.
"sepertinya aku harus mengisi perutku, cacing-cacing ini seperti mengamuk", ucap riki masuk ke dalam kedai itu. "Pak.. Satu porsi yak lengkap", ucap riki sambil duduk di bangku belakang penjual mie ayam. "Iya mas di tunggu yak", jawab pedagang mie itu.
Sambil menunggu mienya datang riki memainkan ponselnya, tiba-tiba ada wanita yang berdiri di sampingnya ingin membayar mie ayam yang telah ia pesan tadi. "Pak jadi berapa? Mie ayam pake bakso satu dan es teh manis satu?", tanya desti. Jadi 20 ribu mba", jawab pedagang mie ayam. "Oh ini pak", ucap desti membayar dengan uang 100 ribu. "Aduh uangnya gede-gede banget dari tadi yang bayar, tunggu sebentar yak mba saya tuker dulu", ucap pedagang itu sambil pergi ke warung sebelah menukar uang.
Desti yang masih berdiri menunggu kembalian dari pedang mie ayam tanpa sadar menginjak kaki riki dan membuat dirinya dan riki kaget.
"Aduh... Maaf mas", ucap desti panik sambil melihat riki. "Aduh", ucap riki memegang kakinya dan langsung melihat ke arah desti. "wanita ini", ucap riki dalam hati dan memandangi wajah desti dengan intens. "Mas... Mas... Gak papa kan", ucap desti membuyarkan tatapan riki. "Ah... Iya gak papa", jawab riki melepaskan kakinya.
"Mba ini kembalinya", ucap pedagang itu memberikan kembalian. "Oh iya pak terimakasih", ucap desti mengambil kembalian itu dan melihat ke arah riki.
"Mas saya minta maaf sekali lagi, saya gak sengaja injak kaki mas", ucap desti. "Iya gak papa, gak usah minta maaf terus", balas riki.
Dari arah sebrang jalan, ada yang meneriaki nama desti. "Kakak", panggil firda dari sebrang jalan menggunakan motor. Desti menoleh ke sumber suara dan bergegas pergi, "Kalo begitu saya pergi dulu mas, sekali lagi saya minta maaf", ucap desti pergi dan menemui firda.
__ADS_1
"Wanita itu, kenapa aku bisa bertemu lagi dengan dia dan dengan kejadian yang lumayan sama? Sepertinya dia tidak mengenali ku", ucap riki tersenyum.
"Ini mas pesanannya", ucap pedagang mie ayam mengantarkan pesanan riki. "Terimakasih pak", ucap riki langsung menyantap mie itu.