
"Sudah jam berapa ini?", ucap riki yang keluar dari kamar mandi dan melihat kearah jam dinding kamarnya.
"Sudah jam 14:30 lebih baik aku langsung bergegas takut macet di jalan, apa lagi sekarang hari sabtu", ucap riki kini berjalan mengambil pakaiannya dan mulai memakainya.
Terlihat penuh banyak gaya, riki yang sudah bersiap-siap dengan setelan baju dan celana yang di pilihkan oleh risti kini sedang memandangi dirinya sendiri di kaca lemari kamarnya. "Ehm... Tampan juga w kalau dipikir-pikir", ucap riki memegang dagunya.
"Tapi kenapa yak? si desti seperti tidak tertarik sama w? Sudah begitu dia mencap w aneh-aneh lagi sebagai laki-laki", ucap riki terseyum.
"Tapi kalau di lihat-lihat w baru ketemu perempuan kaya dia, kalau melihat wajah w seperti malas banget untuk di perhatikan. Hehe... Lucu juga kenapa w bisa nerima permintaan dia, sampai harus berpenampilan seperti ini", ucap riki yang tidak mengerti dari semua yang ia lakukan saat ini.
"Sebagai laki-laki w harus bertanggung jawab untuk segala ucapan dan tindakan w, w gak mau mengecewakan semuanya", ucap riki yang kini jalan mengambil kunci mobil dan berjalan keluar kamarnya.
Di dalam halaman rumahnya, riki yang sudah berada di dalam mobil dan terdengar suara mesin mobil yang menyala akan bersiap-siap menjalankannya. Dengan keyakinan riki melajukan mobilnya dan mulai mengendarainya ke rumah desti.
######
Jam yang sudah menunjukan 15:00 desti yang masih berada di salon arum masih melanjutkan pekerjaannya, Sepertinya desti sangat menikmati pekerjaannya dan arum yang melihat kearah desti langsung menghampirinya.
"Gimana bu yani treatment yang di berikan oleh asisten baru saya?", ucap arum bertanya pada yani. "Enak banget ni rum lebih joss dari nina", jawab yani. "Hehe.. Bu yani ini bisa saja, masih handalan kak nina dong! Aku kan cuma gantiin karyawan-karyawan tante arum saja yang lagi cuti", ucap desti yang sudah mengenal bu yani.
"Lagian kamu dari pada gantiin karyawan arum sudah kerja disini saja, lagi pula pasti arum langsung terima kamu", ucap yani. "Ah.. Kalau itu mah gak usah di tawarin bu yani, cuma akunya yang gak sanggup bayar si desti", jawab arum tertawa.
"Bener juga kamu yak rum", jawab yani ikut tertawa.
"Jangan ada yang percaya omongan tante arum, maklum kurang obat", ucap desti membuat beberapa pengunjung tertawa.
"Sudah tante dan bu yani jangan gossipin saya lagi, soalnya saya harus bilas rambut bu yani dulu", ucap desti. "Oh mau di bilas yak des, oke kalau begitu", jawab yani dan mulai berdiri dan berjalan ke tempat pembilasan.
######
Riki yang kini sudah sampai di kediaman rumah desti memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah desti dengan rapih.
"Ternyata belum begitu macet jadi aku lebih cepat sampai disini", ucap riki setelah selesai memarkirkan mobilnya kemudian riki turun dari mobil dan berjalan ke depan pintu rumah desti.
Di depan pintu riki memperhatikan sekitar rumah desti yang begitu nampak sepi dan seperti tidak ada tanda-tanda orang di dalam rumah itu begitu juga dengan tetangga sekitar rumah desti seperti tidak ada yang lewat dari tadi.
__ADS_1
"Apa semua orang di rumah ini pergi? Sepi sekali", ucap riki yang kini mulai mengetuk pintu itu.
"Tok... Tok.. Tok... " suara pintu berbunyi dan di iringi suara panggilan dari luar pintu.
"Permisi", ucap riki yang tidak dapat sahutan dari dalam rumah.
"Permisi", ucap riki memanggil lagi dengan suara keras lebih keras.
"Duh yang benar saja sudah w panggil-panggil tidak ada yang menyahut dari dalam rumah, fix ini mah gak ada orang di dalam", ucap riki mulai mencoba memanggil sekali lagi.
"Tok... Tok... Tok.." Permisi tante rindu, om riza", panggil riki yang tidak dapat jawaban lagi.
"Aduh gimana ini mana w gak punya no telpon tante rindu atau om zaki, lagian mami juga ponselnya segala pakai rusak jadi w gak punya bekal buat menghubungi orang-orang disini", ucap riki yang melihat kearah bangku kosong dan mulai duduk di sana.
"Apa w tungguin aja kali yak disini? Lagian juga udah jam 16:15 mana tau mereka sebentar lagi pulang", ucap riki kini mulai duduk dan menunggu sambil bermain ponselnya.
######
Di lain sisi desti yang kini sudah selesai dengan pekerjaannya di salon arum mulai rapih-rapih untuk pulang karna ia harus menghadiri undangan pernikahan temannya.
"Duh males sekali sebenarnya datang, tapi mau gimana lagi kalau bukan karena mereka orangnya rese w juga malas ke sana", ucap desti yang kini sudah memasukan barang-barangnya semua kedalam tas.
"Tan aku sudah selesai kalau begitu aku pulang dulu", ucap desti pamitan kepada arum. "Oh iya des makasih, hati-hati yak des nanti tante transfer uang bayaran mu", jawab arum. "Oke tante, dadah", ucap desti pergi meninggalkan salon arum.
Dalam perjalan pulang desti memikirkan cara untuk membalas rido dan nita yang keduanya begitu menyebalkan.
"Cara apa ya yang harus w pakai biar nutup mulut tu dua orang lemes yak", ucap desti berfikir sambil berjalan.
"Apa w bawa kodok aja yak jadi nanti w masukin ke baju salah satu dari mereka, biar tambah ramai pestanya", ucap desti tertawa jahat membayangkannya saja sudah sangat geli.
"Haha... Bisa si tapi kasian juga nanti w kalau nikah ada yang ngejailin lebih parah gimana, wah gawat si itu lebih baik jangan deh", ucap desti yang kini sudah hampir sampai rumahnya.
"Mobil siapa ini?", ucap desti yang memasuki halaman rumahnya dan melihat kearah mobil itu sambil berjalan dengan pelan-pelan dan akhirnya desti sampai di depan pintu lalu melihat kearah kiri bangku teras memperhatikan seseorang yang sedang duduk sambil bermain dengan ponselnya dengan serius.
"Bukankah itu anak tante ratna", ucap desti yang kini berjalan kearah kursi itu untuk memperjelasnya.
__ADS_1
Tanpa riki sadari kini desti telah berdiri di depannya den memperhatikan riki yang begitu serius sampai-sampai desti berdiri di depan riki, riki tidak mengetahuinya.
"Ehem...", ucap desti membuat konsentrasi riki pudar dan kaget melihat kearah desti.
"Eh kamu", ucap riki langsung berdiri dan mematikan ponselnya.
"Ini bang riki yak anak tante ranta?", ucap desti bertanya. "Ah iya saya riki, kamu pasti desti keponakan tante santi", jawab riki kikuk sambil terseyum kaku karna tidak tau harus menjawab seperti apa.
"Kok duduk di luar bang memangnya tidak ada tante santi?", tanya desti. "Sepertinya tidak ada orang di dalam rumah kamu, aku dari tadi sudah mengetok pintunya tapi tidak ada yang menyahut dari dalam", jawab riki.
"Oh begitu, ya sudah ayok masuk bang masa tamu duduk di luar", ucap desti berjalan kearah pintu dan membuka pintu itu dengan kunci yang ia punya.
"Sepertinya tadi ada tante santi dan firda di rumah, apa mereka berdua tidur siang sampai sore seperti ini", ucap desti dalam hati yang kini masuk ke dalam rumah.
Saat ini desti dan riki sudah berada di dalam rumah, desti yang kini melihat sekitar ke adaan dalam rumah nampak sepi tidak seperti biasanya.
"Oh iya silahkan duduk bang jangan berdiri saja", ucap desti yang melihat kearah riki tetap berdiri seperti dirinya.
"Iya, kamu juga belum kasih saya ijin duduk jadi saya tetap ikutin kamu", jawab riki yang kini duduk.
"Hehe... Iya maaf lupa, abang mau minum apa?", tanya desti menawarkan minun.
"Apa saja", jawab riki terseyum. "Oke tunggu sebentar yak bang", ucap desti ramah dan pergi meninggalkan riki ke dapur.
"Kenapa w jadi ramah banget kaya gini sama anaknya tante ratna", ucap desti bingung dalam hati sambil berjalan.
######
Desti yang kini sedang membuat minuman untuk riki melihat kedatangan santi ke dapur untuk minum.
"Tante", ucap desti terlihat kaget melihat santi. "Kenapa kamu ngeliat tante kaya begitu?", tanya santi bingung dan menaruh gelasnya di meja.
"Tante dari tadi ada di rumah?", tanya desti. "Iya di rumah aja, tante dari tadi tidur ini baru bangun", jawab santi.
"Ada tamu tan dari tadi ketuk pintu sambil manggil-manggil di luar rumah tante gak dengar", ucap desti kini selesai membuat minuman dan menaruh beberapa kue kering.
__ADS_1
"Gak dengar mungkin tante terlalu lelap tidurnya des, memang tamunya siapa?", tanya santi. "Bang riki anaknya tante ratna", jawab desti dan membuat santi sedikit kaget.
"Riki yang benar", ucap santi sedikit kencang dan membuat desti merasa aneh. "Iya tante, kalau begitu aku ke depan duluan yak", ucap desti pergi membawa minuman itu ke depan dan di ikuti oleh santi dari belakang.