
"Aduh kakak ini kenapa belanjaannya banyak sekali", ucap firda yang menenteng kantong belanjaan penuh di kedua tangannya. "Sabar ya de sebentar lagi kelar kok, kakak tinggal beli kelapa saja", ucap desti yang kini sedang menunggu kelapa di parut.
"Ini mba kelapanya", ucap pedagang itu meyerahkan 2 kantong punuh kelapa yang sudah di parut. "Iya terimakasih pak ini uangnya", ucap desti kini memberikan uang dan mengambil kelapa itu.
"Nah sudah ayo kita pulang dek, belanjaannya sudah semua", ucap desti berjalan keluar pasar di ikuti oleh firda. Firda yang tidak sengaja melihat kearah tukang bebek sepertinya ingin makan bebek rica-rica buatan desti dan firda kemudian memanggil desti, "Kakak lihat ini", ucap firda menghentikan desti yang saat ini sedang berjalan dan langsung melihat kearah firda.
"Ada apa?", tanya desti. Firda menunjuk ke pedagang bebek itu dan membuat desti bingung tidak mengerti. "Ada apa si de tinggal jawab saja kakak tidak mengerti", ucap desti bingung. "Ih kakak ini tidak peka, belikan aku bebek dan tolong buatkan aku bebek rica-rica, aku ingin makan itu", pinta firda tersenyum. "Oh teryata kau ingin makan bebek", ucap desti berjalan ke penjual bebek itu.
"pak bebeknya 1 ekor ya sekalian di potong-potong", ucap desti. Firda yang melihat desti membeli bebek itu tersenyum bahagia. "Kakak memang terbaik", ucap firda berbisik di telinga desti. "Hehe... Pasti dong tapi ini akan kakak potong dari bayaran mu", ucap desti terseyum jahat. "Ah... Kakak ini pelit sekali", ucap firda cemberut. "Iya baiklah karena kau sudah semangat hari ini jadi akan ku beri bonus bebek ini saja", ucap desti dan membuat firda yang mendengar itu begitu senang.
"Ini mba bebeknya sudah selesai", ucap pedagang bebek itu menyerahkan kepada desti. "Oh sudah selesai pak, ini uangnya pak terimakasih", ucap desti memberikan uang kepada pedagang itu dan mengambil bebeknya.
"Sudah selesai ayo kita pulang", ucap desti. "Tunggu dulu kak, kakak tidak memberi bumbu untuk masak bebek ini?", tanya firda menahan desti. "Tidak usah kita pulang saja, apa kamu lupa siapa orang tua kita", jawab desti. "Oh iya ya bener juga kakak", ucap firda polos dan mengikuti desti dari belakang.
Sesampainya di pinggir jalan raya pasar desti seperti menunggu taksi online yang ia sedang pesan.
"Ting...", pasan masuk dari taksi online. "Mba saya di depan halte", isi pesan itu dan desti yang melihat itu langsung berjalan kearah halte. "Dek ayok jalan ke depanan sedikit", ucap desti berjalan dan di ikuti firda. Desti sampai duluan di depan halte itu langsung mengetuk kaca mobil taksi itu.
"Dengan ibu desti", ucap supir taksi itu. "Iya pak, pintunya belum bisa di buka", ucap desti. "Oh iya sebentar bu", ucap supir itu langsung membuka kunci pintu mobil itu. Kemudian desti membuka pintu mobil itu dan memasukan barang-barangnya ke dalam, "Dek kamu duduk di belakang dan kakak akan duduk di depan", ucap desti langsung duduk di samping supir itu dan firda lalu masuk di kursi belakang. "Sudah pak ayok jalan", ucap desti memakai sabuk pengaman dan supir taksi itu langsung melajukan mobilnya.
######
Desti dan firda sudah sampai di rumah, saat ini desti sedang menyusun keperluan yang ia butuhkan besok secara cepat dan tepat, firda yang melihat desti melakukan pekerjaannya seperti merasa capek. "Kak kenapa aku yang duduk melihat mu seperti capek sekali hanya melihat mu saja melakukan ini?", tanya firda. "Iya kau capek melihat ku karena kau hanya diam saja di sana tidak membantu", jawab desti dan di balas tertawa oleh firda seperti orang tidak bersalah.
"Kalau kau hanya diam saja di sana lebih baik kau bersihkan bebek ini, bukannya kau ingin makan bebek rica-rica", ucap desti sedikit kesal. "Iya iya baiklah aku akan bersihkan", ucap firda mengambil daging bebek itu dan pergi mencucinya.
__ADS_1
Desti yang melihat kepergian firda terdiam sebentar sambil melihat kearah firda, "Sepertinya aku salah memilih asisten", ucap desti geleng-geleng kepala dan melanjutkan kegiatannya.
"Kelihatannya sudah rapih", ucap desti yang sudah memasukan bahan-bahan ke dalam sebuah box besar. "Besok hanya tinggal memakainya", ucap desti mendorong box itu kepinggir rak piring. Kemudian firda datang menemui desti yang sedang berdiri di dekat rak piring, "Kakak sudah ku bersihkan, lalu apa yang harus aku lakukan pada bebek ini? ", tanya firda. "Kau sudah membersihkannya letakan saja di meja sana", ucap desti kini berjalan kearah kulkas untuk melihat bahan-bahan membuat bumbu rica-rica.
"Ehm... Sepertinya bahan-bahan ini cukup lengkap", ucap desti mengambil bahan-bahan itu semua dan mulai memilah-milah lalu firda hanya duduk diam memperhatikan.
"Kak... kenapa kakak bisa masak dan aku tidak?", tanya firda sambil melihat desti yang sedang mengulek semua bumbu-bumbu itu. "Ehm... Kakak juga tidak tau jawaban dari pertanyaan mu", jawab desti. "Aku juga ingin seperti kakak yang pandai memasak", ucap firda sedikit murung. "Kalau kamu ingin mencoba belajar masak coba saja tapi jangan langsung menyerah jika hasilnya tidak bagus", ucap desti dan firda hanya terdiam.
"Sudah semua bumbu ini sudah kakak ulek dengan halus bagaimana jika kamu yang memasaknya", ucap desti menyuruh firda memasaknya. "Apa? Kakak yakin ingin aku memasaknya?", tanya firda sedikit bingung. "Yakin kau tinggal menumisnya saja, nanti aku akan membantu mu", jawab desti.
"Baiklah jangan menyesal", ucap firda yang kini menyalakan kompor dan memberinya minyak pada penggorengan untuk menumis bumbu yang sudah di haluskan oleh desti.
"Lalu apa lagi kak kalau bumbunya sudah di tumis dengan harum", ucap firda. "Kau tinggal masukan daging bebek dan berikan air untuk merebus daging dengan bumbu", ucap desti kemudian di lakukan oleh firda.
"Dek kalau sudah airnya mengering kau tinggal masukan saja kemangi itu, ucap desti bangkit berdiri. "Lah kakak kau ingin kemana?", tanya firda. "Aku ingin ke kamar sebentar nanti turun lagi", ucap desti pergi meninggalkan firda.
"Tapi kak bagaimana masakan ini", teriak firda bingung. "Pasti enak sudah jangan takut", ucap desti dari jauh.
"Biarkan saja enak atau tidaknya", ucap firda kini memasukan kemangi itu karena air dalam bebek itu sudah cukup mengering, lalu mencampurnya dengan rata. "Sepertinya sudah matang sebaiknya ku matikan saja", ucap firda mematikan masakannya tanpa mencicipinya.
######
Dari pintu depan rumah terlihat santi, rindu dan zaki baru saja pulang dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Ehm... Siapa ini yang masak? Harum sekali", ucap santi yang mencium bau masakan.
__ADS_1
Kemudian datanglah firda dari belakang karena mendengar suara mobil yang masuk ke halaman rumahnya, "Loh kok mama, bapak dan tante sudah pulang baru jam berapa?", tanya firda karena melihat kedua orang tuanya dan tantenya sudah pulang.
"Ya sudah pulanglah dong firda kami bertiga abis pergi pijat", jawab santi. "Oh kirain aku pergi ke warung", ucap firda mengerti.
"Seperti ada yang masak di rumah baunya harum sekali, apa kau sedang memasak firda?", tanya rindu. "Hehe... Bisa di bilang seperti itu mah", jawab firda malu-malu.
"Wah benarkah pas sekali bapak sudah lapar", ucap zaki langsung masuk ke dalam dapur di ikuti oleh yang lain. "Firda kau memasak bebek rica-rica", ucap santi yang melihat masakan firda dalam penggorengan. "Ah... Iya tante", jawab firda kikuk.
"Sepertinya enak kalau begitu kita makan bersama-sama", ucap rindu yang kini memindahkan masakan itu ke dalam mangkuk besar. "Aku akan meyiapkan nasinya mba", ucap santi mengeluarkan nasi dalam mejikom dan menaruhnya di meja makan.
Firda yang hanya diam saja duduk bersama dengan zaki di meja makan kini memperhatikan mama dan tantenya yang sibuk sedang menyajikan makanan dan peralatan makan. Zaki yang memperhatikan tidak ada desti langsung bertanya pada firda, "Dimana kakak mu? Apa dia tidak ada di rumah", tanya zaki. "Ah... Itu kakak ada di kamar sebentar lagi akan turun pak", jawab firda dan zaki langsung mengerti.
Tak lama desti turun dari kamar dan menemui mereka semua di meja makan.
"Wah ternyata sudah matang dek", ucap desti kini duduk di samping firda. "Iya", jawab firda malas. "Wah pasti ini enak", desti mengambil beberapa potongan bebek.
"Semuanya sudah kumpul lebih baik kita sebelum makana berdoa dulu", ucap zaki kini memimpin doa.
"amin...", doa sudah selesai dan kemudian mereka semua mulai makan dan tidak dengan firda yang hanya diam melihat kearah mereka satu persatu yang kini sedang memakan masakannya, santi yang menyadari itu langsung bertanya pada firda, "Kenapa tidak makan firda?", tanya santi dan membuat yang lain melihat kearah firda.
"Ah... Itu bagaimana rasanya", ucap firda sedikit ragu. "Enak kok de", ucap desti cepat. "Yang bener kakak tidak bohong?", tanya firda. "Bener enak kalau tidak percaya coba makan saja", ucap desti yang kini mulai melahap makanannya.
Firda yang tidak percaya lalu memakannya, satu suapan, dua suapan dan seterusnya, "Wah ternyata masakan ku enak juga", ucap firda dalam hati begitu senang. "Gimana udah percaya", ucap desti meledek. "Udah kak, ternyata aku bisa masak juga kak", ucap firda senang dan membuat yang lain tertawa.
"Wah berarti mama bisa dong di buatkan masakan yang lain sama kamu", ucap rindu sedikit melek. "Huh... Mama ini baru juga mulai belajar aku", ucap firda. "Hehe... Kamu mau masak aja mama sudah senang jadi mama gak khawatir lagi kalau mau ninggalin kamu sendirian", ucap rindu dan membuat yang lain tertawa. "Mama ini ada-ada saja, sudah jangan ledekin firda nanti dia gak semangat lagi", ucap zaki. "Ehm... Mama sama bapak itu sama saja suka ledekin aku terus", ucap firda kini memakan hasil masakannya dengan lahap.
__ADS_1