
Suasana sekolah kembali ramai saat kesunyian menyelimutinya. Kegelapan diganti dengan cahaya dari sang mentari.
Bel pagi mengantarkan mereka untuk kembali ke kelas masing-masing setelah melaksanakan apel pagi .
Udaranya hari ini cukup dingin . Batin Aqila sembari mendekapkan tubuhnya pada switer yang ia kenakan.
Sesekali ia menghembuskan nafasnya dan mengusap telapak tangannya beberapa kali. Matanya menyapu semua wajah yang di lihatnya. Seperti biasa , pergantian musim mulai tiba.
Kali ini akan memasuki musim hujan . Apakah kalian mampu menghadapinya?. Musim hujan sering kali membuat kita merasa malas untuk menjalankan aktifitas seperti biasa. Udara yang dingin selalu saja membuat kita untuk menarik selimut dan melanjutkan mimpi.
Tetesan embun di pagi hari menyelimuti rerumputan hijau di sekelilingnya. Ini adalah pemandangan yang indah namun menyakitkan , sebab sepatu yang baru saja kering dan bersih harus di terpa dengan air dari embun dan beberapa rumput kering itu.
Hissshh...menyebalkan! . kesal Aqila , sesekali ia memukulkan sepatu di kakinya pada tanah berlapis semen itu.
Matanya sempat menangkap sosok orang yang familiar olehnya.
" Raffa???" pikirnya
Dengan segera ia melambaikan tangannya menatap lekat lelaki berjaket hitam itu.
" Raffa!!!... Raffa!!!...." teriak Aqila .
Lelaki itu menoleh mencari sumber suara. Baginya itu adalah suara yang ingin sekali di dengarnya.
"Aqilaaaaaa!!!" balasnya dengan berlari konyol.
Gadis itu menatap Raffa dengan tatapan kosong. Tingkahnya sama sekali tidak berubah , pikirnya .
"Aqilaaa..." teriaknya dengan lebay dan ingin sesekali memeluk Gadis itu. Namun pergerakannya di hentikan dengan cepat oleh Aqila. Sebab Wanita itu menampakkan kepalan tangan yang tebal di hadapan Raffa.
" Mau apa hah?!" ketus Aqila.
Lelaki itu terdiam dalam gerakannya. Ia tak berkutik sama sekali.
" uh...heheh...maaf Aqilaa" kata Raffa.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu?. Kenapa gak kelihatan sama sekali akhir-akhir ini?" tanya Aqila dengan heran.
" uuhhh kau merindukanku kaannn " goda Raffa dengan tawa kecilnya.
Menyebalkan sekali , tingkahnya sama sekali tidak berubah huh!!!. batin aqila.
Menatap lekat lelaki itu , " Gak!!!" ucapnya singkat
Raffa menghela nafas panjang. Ia harus menerima kenyataan bahwa mendapatkan hati Aqila tidaklah mudah. Guys , masih ingat raffa kan? itu loh yang author munculkan di episod 1.
"Ya udah...aku jawab nih. Aku izin beberapa minggu untuk menghibur diri sejenak" ucapnya dengan tertawa kecil.
"Bohong!!!" bentak Aqila.
Raffa tersontak kaget saat mendengar pengakuan dari Aqila. Ternyata gadis itu paham tentang apa yang ia alami saat ini.
" eh...iya. Maaf , aku salah karena tak memberitahumu" sesal Raffa sembari menjatuhkan pandangannya.
"humm... kamu kenapa??? cerita dong" Aqila berusaha tersenyum karena ada yang aneh pada temannya yang satu ini.
"Se-sebenarnyaa..." ucapan Raffa terpotong ketika udara yang masuk dalam organ pernafasannya terhalang. Ia tak sanggup untuk mengatakannya.
"I-iya...sebenarnyaa akuu" baru saja ingin melanjutkan kalimatnya , mata Raffa sempat menangkap sosok siswi yang baru dilihatnya melintas di belakang Aqila. Pandangannya selalu dibawah , membuat Raffa penasaran dengan sosok wanita itu. Matanya tak berkedip saat melihatnya.
Sementara di sisi lain Aqila tengah fokus pada ucapan Raffa. Mulutnya pun ikut bergeming mengikuti kosa kata yang akan di ucapkan Raffa. Bahkan tubuh Aqila mengikuti arah mata Raffa. Namun sama saja , yang di fokuskan raffa bukanlah Aqila melainkan gadis bercadar itu.
"Sebbeenaarnyaa???... Apaa!!!" bentak Aqila yang semakin kesal saat mengetahui arah mata Raffa.
Namun ucapannya tak mampu membuyarkan kesadaran lelaki itu. Dengan segera tamparan keras mendarat di pipi Raffa.
Puuukkk...
"Dasar centil...mata tuh di jaga!!!" kesal Aqila dengan emosi yang memuncak.
"Auhhh..saakiit tauu" balas Raffa dengan tangan yang ia tempelkan pada pipi kirinya berusaha meredakan rasa sakit itu.
__ADS_1
"ehh...cewe itu siapa sih? aku baru lihat" lanjutnya dengan mata yang tak pernah lepas memandang Nissa yang menjauh.
Sekali lagi Aqila mendengkus kesal , "Saking cantiknya yaa perempuan itu!!! sampai-sampai semua mata lelaki tertuju pada dia!!!. Sebenarnya apa cantiknya sih muka yang ditutup gitu?!!" teriak Aqila berusaha mengambil perhatian semua orang.
Dalam sekejap aktifitas semua orang terhenti. Menatap Aqila dengan sinis dan penuh kebencian.
" Heh...kenapa mereka?!" tanya Aqila kebingungan.
Seketika raffa menutup mulut Aqila agar berhenti bicara.
" Hei...kalau bicara hati-hati...pikir dulu pakai otak!... jangan gitu hah!...."bisik Raffa di telinga Aqila berusaha mencairkan suasana.
Sedangkan Nissa menghentikan langkahnya saat baru saja melintasi Aqila dan Raffa yang mulai menjauh . Ia masih menunduk ke bawah. Rasanya sakit saat mendengar kalimat itu. Namun ketika hati bertekad kuat menuju pada kebaikan , itu bukanlah penghalang bagi Nissa. Ia pindahan dari pesantren dan bersekolah di sekolah umum bukan berarti ia mau melepas cadar yang sejak lama ia kenakan dengan begitu saja.
"Hufff...Astagfirullah..."bisiknya pada diri sendiri sembari melantunkan doa memohon kekuatan.
Setelah merasa cukup tenang , Nissa kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Tatapan semua orang tertuju padanya. Namun sama sekali tak ia hiraukan. Karena titik fokusnya adalah kelas dan bangkunya.
"Apaan sih!" Sontak Aqila melepaskan tangan Raffa di mulutnya.
" Kenapa? aku salah???... kok kamu dalam sekejap berubah sih? heran aku!" lanjut Aqila yang kemudian masuk ke kelas meninggalkan Raffa begitu saja.
Brukkk. Aqila melempar tasnya pada meja tempatnya belajar.
Gubrakk. Kembali lagi Aqila menendang kursinya dengan kuat hingga terpental jauh.
Rasa amarahnya mulai memanas memadamkan hawa dingin yang menyengat.
"Sebenarnya kenapa sih?... Kemarin dia main surat-suratan sama Hanif sekarang mau rebut temanku Raffa? besok??... dia mau rebut Akhtar??? atau rebut dua sahabatku?!" ucapnya dengan emosi sembari berandai sesuatu yang tak terpikirkan olehnya.
Sebelumnya Aqila mendapati surat yang diberikan Nissa tepat di meja Hanif ketika ia ingin mengambil sapu di kelas mereka. Kemarin adalah piket harian Aqila. Sapu yang biasa mereka gunakan tak ia dapati dikelas. Jadi , Aqila berinisiatif untuk meminjam sapu dikelas sebelah.
Namun , Aqila tak sengaja menyenggol meja tempat hanif belajar. Dan sebuah kertas lusuh jatuh dari laci Hanif. Dimana Aqila sempat membaca isi surat itu.
Perasaannya tercampur aduk. Antara marah dan senang. Akan tetapi , geram yang dirasakannya sama sekali tak bisa membohongi perasaan Aqila. Ia meremas kertas itu dengan kuat hingga menjadi bentuk terkecil sekalipun.
__ADS_1
"Pokoknya tak bisa dibiarkan!!!... jangan sampai dia merebut Akhtar dariku. Cukup Hanif dan Raffa!!!... yang mulai berpihak padanya. Tapi jangan!!!...jangan sampai dia merebut Akhtar dariku... AWAS SAJA!!! JIKA DIA BERANI!!!...." teriak Aqila tak karuan.
Kemarahan Aqila semakin memuncak saat ia membayangkan apa yang sedang dipikirnya.