Jodohku Titipan Dari Surga

Jodohku Titipan Dari Surga
Bab 8 : Hukuman 1


__ADS_3

Mereka menyusuri koridor kelas yang mulai sepi. Dimana Aqila berjalan didepan dan Hanif mengikutinya dari belakang. Eeh kok gitu sii biasanya laki-laki kan imam , otomatis dia yang harus memimpin jalan. Astaga gak bolehlah , suasana hati Aqila lagi ngamuk abis , lagiankan hanya jalan menuju parkiran motor didekat gerbang. Kalau mau ikuti kemauan Hanif bisa-bisa dia bonyok atau mati konyol.


Saat sampai di parkiran tiba-tiba Hanif mendadak menghentikan langkahnya .


Astagfirullah...jadi aku harus duduk kayak tadi nih?. batinnya


Hanif berusaha mencari ide agar cara duduk memalukan tadi tak terulang kembali. Ia menatap sekitarnya berusaha mencari inspirasi. Tiba-tiba mata hanif sempat menatap beberapa buku paket yang dipegang Aqila.


Ya...itu dia! . Batin Hanif


"Aqila..." panggilnya


Gadis itu hanya membalikkan wajah menatap Hanif dengan tatapan kosong.


"Aku punya ide..."


"Bodoh amat!!!" balasnya


"Naik!!! aku udh laparrr" pinta Aqila dengan intonasi tinggi


Hanih hanya mengangguk. Ia duduk seperti biasa dan mengarahkan motor ke arah pintu gerbang.


" Aqila ... Berikan buku paketmu padaku" pinta hanif


Tumben banget nih anak jadi baik?. seru Aqila dalam hatinya


Tanpa pikir panjang Aqila langsung memberikan buku paketnya karena kelelahan memegangnya.


Hanif menerimanya dan menaruhnya menjadi perantara duduk mereka.


" Lihat..kalau ginikan gak jadi masalah" ucap Hanif dengan wajah polosnya


Aqila kaget. Ia mengernyitkan kedua keningnya merasa heran. Tapi sudahlah terserah dia mau apa , lagian perut lapar mana bisa pikir panjang. Aqila duduk tanpa omelan lagi. Sedangkan Hanif hanya tersenyum kecil. Yes, dia gak jadi duduk dengan model memalukan tadi. Hahaha


Motor mulai dikendarainya dengan tenang. Aqila sibuk memainkan handphonenya mencari tempat kesukaanya.


"jadi, terserah aku mau pilih tempat yang mana aja ya!!!" ucap Aqila dengan tegas


Hanif hanya mengangguk. Aqila ingin mencari makanan biasa saja agar bisa langsung dimakan.


Jalan lurus kemudian belok kanan. Jarak ke tempat yang diinginkan Aqila cukup jauh sekitar 2 Km.


Setelah menempuh jalan beberapa menit , akhirnya mereka sampai juga. Gadis itu langsung masuk tanpa basa basi dengan Hanif.


Lelaki itu menggelengkan kepala beberapa kali. Ia membenarkan posisi motor dan buku paket tadi. Kemudian masuk kedalam.


"Bu, pesan seblak yang pedasss 1 ya" pesan Aqila dengan suara yang keras agar pelayannya keluar melayani dirinya


Kaget. Aqila belum makan nasi dan perutnya kelaparan mana mungkin mau makan pedes , kan bahaya.


" ehh..bu, jangan! seblak yang biasa gak pedas aja 1" pinta Hanif berusaha mencegah


Pelayan itu hanya mengangguk dan pergi kedapur tapi dengan cepat Aqila mencegahnya.


" eehhh gak..gak...bu. Saya mau yang pedes!" usul Aqila melawan argumen


"Tidak-tidak!!! perut kamu masih kosong...jangan langsung diisi sama yang pedes-pedes titik!." bentak Hanif tapi masih hanyut dalam kelembutan suaranya

__ADS_1


Aqila menggeleng-gelengkan kepala. Tak mau kalah dengan Hanif, ia tetap mau memesan yang pedas.


Kebisingan yang dibuat Hanif dan Aqila mampu meramaikan rumah makan yang semula sepi . Pelayan kebingungan. Dilema yang dirasakannya membuat kepala sedikit pening. Dia lebih pilih masuk dan akan membawa pesanan mereka setelah siap.


Hanif dan Aqila duduk berhadapan dimeja. Tubuh lelaki itu merasa tidak nyaman. Baru pertama kali ia berada di rumah makan dengan seorang wanita. Remaja lelaki itu berusaha menghindari Aqila. Sesekali dia bergeser hingga ke ujung bangku agar tidak saling berhadapan dengan Aqila.


Menggeleng-gelengkan kepala , ya itu yang dilakukan oleh Aqila. Tingkah konyol hanif membuatnya sedikit terhibur.


Pesanan datang. Pelayan itu membawa dua buah piring seblak yang dipesannya tadi.


Perasaan pesannya satu deh. batin Hanif


Aqila juga kebingungan. Tanpa pikir panjang , ia langsung protes.


" Aku pesannnya satu bukan dua!"


"Maaf...saya bingung. Jadi saya membawa dua porsi saja, yang satu pedas dan yang satunya lagi tidak" jawabnya lalu pergi


Aqila mengangguk mengerti. Satu piring yang tidak pedas ia berikan pada Hanif.


"Ini makan!!!"


Hanif menaikkan kedua alisnya. Saat dimana ia melihat piring yang ada didepan Aqila adalah yang pedas.


" Tidak!!!...perutmu masih kosong sebaiknya kamu makan yang ini saja"


"Tidak..mau!!! mau bentak aku???"


" Tidaakk...kamu gak boleh makan itu...bahaya!" jawabnya dengan santai dan tegas


Aqila terus melawan tak mau mengikuti apa yang dikatakan Hanif. Ia terus mendorong semangkuk seblak yang tidak pedas pada Hanif agar dimakannya. Merasa tak aman , Hanif berpikir dan mendapatkan ide.


Baru saja gadis itu ingin menyuapkan sesendok seblak pada mulutnya , ia harus mengurungkan niatnya. Mengingat kesini ada dua tujuan, Yaitu Makan dan Mengerjai Hanif agar ia tau hukuman apa yang boleh saja ia dapati saat mengganggu kesenangannya.


" Umm baiklah...tapi kalau aku makan dua mangkuk sekaligus , maka perutku tak akan mampu menampungnya. Jadi, bagaimana kalau kau membantuku" usulnya dengan mengedipkan sebelah matanya


Hanif mengangguk polos. Tak tau apa yang akan terjadi. Di pikirannya saat ini adalah yang penting Aqila terlebih dahulu makan semangkuk seblak yang tidak pedas itu.


Aqila mulai memakannya dengan santai . Namun disela-sela ia menyuapi setiap sendok kuah seblak itu ke mulutnya , ia sesekali tertawa kecil. Bahkan sempat tersedak. Sedangkan Hanif hanya melihatnya dengan tatapan prihatin.


Habis , dalam beberapa menit semangkuk seblak itu ludes di santap Aqila.


" nah , sekarang bantu aku memakan semangkuk seblak pedas ini!!!" pinta Aqila dengan sedikit tersenyum


Tatapan kosongnya kini berubah membola. Kaget menghiasi wajah Hanif. Selama di pesantren ia belum pernah memakan makanan pedas. Ini adalah yang pertama kali dalam hidupnya.


"Ayo!!!... aku sudah hampir kenyang!. Jika tak dimakan maka akan mubazir" menjedanya sedikit


"Jadi, kalau kau mau makanan itu dibuang begitu saja. Ya silahkan!!!. Ini juga kan permintaanmu. Sekarang bantu aku makan!!!" pintanya sembari melihat Hanif dengan tatapan mematikan


Mangkuk itu terlihat merah pekat. Banyak biji-bijian cabai menyelimutinya. Ini pertama kali baginya. Bagaimana bisa ia memakan makanan pedas itu.


Hanif menelan salivanya. Apa yang harus dilakukannya?. Pikirannya saat ini sedang kacau. Bingung apa yang harus ia katakan pada Aqila.


"Bantu Aku!!!" suara Aqila membuyarkan lamunan Hanif


Ia hanya mengangguk tak sadar . Sebuah senyuman merekah di bibir aqila.

__ADS_1


Pasrah , menyendok makanan pedas yang menggilakan itu kemulutnya. Kekakuan membuat mulut Hanif sulit untuk membukanya. Ia berharap hari ini akan segera berakhir.


"Lama...banget sih!"


Tak sabar ingin melihat hiburan yang menyenangkan. Aqila langsung memaksa sendok itu agar masuk ke mulut hanif. Dan kemudian mengambil satu sendok yang disebelahnya untuk mencicipi kuahnya saja.


" umm...pedes ya ...tapi aku kenyang. Kamu aja ya yang habiskan!"


Bulu kuduk Hanif seketika berdiri tersusun rapi menghiasi lengannya . Rasa pasrah dan bersalah menjadi satu. Mau tidak mau , iya harus memakannya.


Satu jam berlalu...


Lelaki itu hanya mampu menghabiskan setengah dari mangkuk seblak pedas gila itu . Mulut hanif membesar dan memerah. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada bangku itu sambil menghela nafas dalam-dalam.


Aqila tersenyum puas saat rencananya saat ini berhasil. Tapi belum semuanya.


"Aqila..tolong habiskan setengahnya aku tak mampu...ini sangat pedaas" ucapnya pasrah


***


Setelah menghabiskan waktu 1 jam lebih disana, mereka akhirnya pulang. Hanif membawa motor dengan perlahan. Perutnya terus berbunyi begitupun Aqila. Ya , karena Aqila baru saja menghabiskan setengah mangkuk tadi dalam keadaan terpaksa.


"Awww...perutku sakit sekaliii...haniff cepattt!!!"


" Aku tidak bisa!!! perutku terasa pedis dan ini sangat menyakitkan" balasnya dengan satu tangan memegang perutnya yang terus berbunyi


"Stop!!!Stoppp!!!" pinta Aqila tak sabar


Hanif segera menepi . Wajahnya mengeluarkan keringat cukup banyak. Ia turun dari motor dan jongkok di pinggir jalan sembari memegang perutnya.


" hei!!! kau sedang apa?... cepat naik aku tak tahan , aku ingin ke toilet!!!" ucap Aqila yang duduk didepan


"Aku tidak mampu Aqila, perutku sakit sekali"


" Makanya cepattt , biar aku yang bawa...aku sudah tidak tahann...CEPATTT!!!"


Hanif langsung duduk dibelakang. Aqila memboncengnya. Motor yang dibawa Aqila sangat laju bagai pembalap profesional. Lelaki berbadan atletis dengan kopiah dikenakannya berteriak disepanjang jalan.


"Aaaaaaaaaa!!!!! Aaaqilaaa...tolongg perlahann...aku mau terbang" teriak hanif sembari memegang penghalang tempat duduk dibelakang


Hanif terpaksa duduk miring selayakanya posisi perempuan karena keadaan perutnya sedang bermasalah tak mungkin ia banyak gaya dalam berduduk.


Perjalanan dengan jarak 2 kilo sampai selama waktu 5 menit. Setelah tiba, Hanif tersungkur jatuh kebawah , mulutnya mual dan perutnya sangat sakit.


Ekor matanya sempat menangkap Aqila berlari masuk kedalam rumah , tidak lain tujuannya adalah Toilet. Merasa perut yang tak mampu menahannya , ia segera berlari. Dan terjadilah adegan lomba lari antara mereka berdua.


Sofa dan meja tak mungkin menjadi penghalang bagi mereka. Melompatinya adalah jalan satu-satunya. Hanif dan Aqila sempat menabrak dinding bersama. Tapi, melihat toilet yang sudah dekat bukan menjadi alasan untuk berhenti.


( Puuukkk ). suara pintu toilet berbunyi keras. Hanif berhasil sampai lebih dulu. Tapi, aqila tak mau kalah. Ia mendorong pintu itu dari luar dan hanif berusaha menahannya.


" Hanif..aku duluann!!! aku sudah tidak tahan!!!" teriak Aqila meringis kesakitan


Huffttt...Siapa suruh mau kerjain orang hah? kena sendirikan?. seru Hanif dalam batinnya yang kesal


" Maaff...aku sudah tidak tahan!!!" jawab Hanif dari balik pintu


Ia segera mengunci pintu. Sedangkan dari luar Aqila terus mengetuknya dengan keras.

__ADS_1


Lain kali aku bakalan suruh mamah untuk membuat toilet sebanyak mungkin. pikir Aqila dengan memegang perut yang terus mengeluarkan bunyi .


__ADS_2