
Surat perpindahan dari pondok pesantren Miftahul Khair , telah berhasil diurus oleh Ayah Aqila. Kini langkah selanjutnya , Ia akan mendaftarkan langsung Hanif Alfarezi ke sekolah umum tempat dimana Aqila berserkolah. Ya , SMA Negri 1 Nusantara. Hanif sudah memasuki usia ke 17 tahun. Maka ia akan menjadi murid baru dikelas 12.
" Baik , berkasnya sudah lengkap. Aku menerima Hanif Alfarezi untuk bersekolah disini. Tapi , jujur dia sudah ketinggalan banyak pelajaran dan sebentar lagi , mereka akan menghadapi beberapa simulasi dan ujian. Saya berharap kepada bapak agar terus mendukung dan mengawasi Hanif Alfarezi dalam pelajarannya " ucap kepala sekolah.
"ya ... terima kasih telah menerima Putraku disekolah ini. Saya yakin, Hanif alfarezi adalah anak yang pintar. Jadi, dengan mudah pasti ia akan menyesuaikan diri dengan pelajarannya dan lingkungan barunya"
" iya pak. Soalnya, setelah saya memeriksa nilai dan riwayat prestasi dari saudara Hanif Alfarezi ini sangat bagus , apalagi dalam ilmu agama . Jujur saja , disekolah ini cukup rendah dalam karakter dan yang berkaitan dengan agama. Jadi, saya percaya pada Hanif . Saya yakin dia bisa mengharumkan nama sekolah ini .... " ucap kepala sekolah dengan tersenyum.
Setelah berbincang cukup lama , akhirnya Ayah Aqila memohon pamit.
" Baik pak. Terima kasih atas waktu dan kesempatannya. Saya mohon pamit dulu. Ada beberapa hal yang perlu saya selesaikan "
Mereka saling menganggukan kepala seraya memberi hormat satu sama lain.
****
Setelah sampai ditempat tujuan , Ibu dan Hanif menatap sebauh apartemen besar didhadapannya . Mereka saling melontarkan senyuman pada bangunan nan megah itu.
"Ayo Hanif " ajaknya.
Hanif hanya menganggukan kepala dan mengikuti langkah ibu Aqila untuk menyusuri koridor apartemen itu untuk mencari nomor ruangan yang dituju.
" Ahhh sepertinya ini. Lihat angkanya sama dengan yang ada dikartu ini kan? "
"ya bu. No. 242-100-003 " ucapnya memastikan.
Ibu Aqila menatap sendu wajah Hanif. Anak ini harus mengalami masa yang kurang menyenangkan setelah ayah dan ibunya meninggalkan dirinya diusia yang masih muda. Disaat usia yang beranjak remaja menuju dewasa , Hanif dan Aqila harus mendapat perhatian dan pengawasan penuh.
" Selebihnya ibu serahkan padamu nak "
" Ya bu. Aku akan memecahkan misteri dari sandi ini hehehe "
Tawaan saling terlontar antara ibu dan Anak.
Ya, dia masih bisa tertawa. Walaupun banyak lika liku hidup yang pernah ia alami. Baginya , putus asa dan menyerah dalam keadaanya adalah hal bodoh yang pernah ia lakukan.
Mereka pun kembali kerumah . Setelah memperkenalkan apartemen yang diwariskan oleh Ayah dan Ibunya , perasaan ibu Aqila sudah lebih tenang. Ya, Amanah yang ia jaga selama kurang lebih 10 tahun , akhirnya sampai ditangan yang berhak memegangnya.
***
Suasana proses belajar mengajar terus berlangsung .
Jam yang ditempatkan di dinding bagian atas papan tulis selalu menjadi sorotan mata para penghuninya. Hmm , siapa sih yang pengen lama-lama dikelas. Apalagi kalau perut sudah lapar dan mata yang tak kuasa menahan rasa kantuk yang menghantuinya.
__ADS_1
Pelajaran yang membosankan bagi semua siswa di tempatkan pada mapel terakhir. Hufftt kebayang gak sih, mengantuknya luar biasa menjadi-jadi ditambah angin yang bersepoi-sepoi dari luar jendela semakin menambah rasa kantuk mereka.
" Aqila ... Ssssttt ... Aqilaaa " bisik Nawa yang mejanya bersampingan dengan Aqila.
Aqila mendapat bangku ketiga dari belakang dan lebih spesialnya lagi, dia dekat dengan jendela.
" Hikss nih anak gak bangun-bangun. Kan bahaya kalau pak guru memergokinya. Hedeh nyebelin banget sih "
Buummm....
Suara lemparan Penghapus plastik melayang dikepala Aqila. Aqila masih terbuai dalam mimpi indahnya , namun harus dikagetkan dengan lemparan penghapus papan tulis yang hitam akibat warna spidol yang menempelinya.
" Aaaaaaaauuuuhhh ... siapa sih yang berani macam-macam sama aku Hah?! . Ngajak berantem??? AYOO!!! " teriak Aqila , saat tubuhnya tersontak kaget dalam keadaan setengah sadar.
Langkah sepatu yang berbunyi khas sepatu guru mendekati Aqila yang masih berdiri ditempatnya .
Pak guru mengambil penghapus hitam tadi dan menggosokannya ke pipi Aqila.
Sreeekkk....
Warna pipi Aqila menghitam . Tawaan dari teman-temannya yang menggema disetiap sisi ruangan langsung menghilangkan rasa kantuknya.
" Masih mau tidur lagi dikelas?!! " tanya pak guru dengan intonasi yang tinggi.
" Ya sudah. Keluar!!! " perintah pak guru dengan tegas.
Aqila yang tadinya masih tertunduk langsung mengangkat wajahnya dengan pipi yang masih menghitam.
"Apa , Pak? ... Pak saya masih mau belajar, jangan keluarkan saya " ketus Aqila dengan munculnya garis diantara kedua alisnya.
" Saya suruh kamu keluar supaya basuh wajahmu agar menghilangkan easa kantukmu. Sudah pergi sana! "
Aqila dan Guru matematika itu menjadi sorotan mata teman-temannya. Entah itu ada hiburan yang menyenangkan sekaligus menegangkan.
Gadis cantik itu menghela nafas panjang untuk membuang rasa bersalahnya dan berjalan keluar.
Tiolet wanita....
Aqila membasuh wajahnya dan menatap dirinya di depan cermin. Seketika matanya membola saat melihat wajah seorang gadis yang menghitam dicermin.
" Aaaaaaaa!!! " teriaknya di depan cermin.
Astaga siapa ini?. Aku? inikah aku ... Aqila Az zahra? . Rambut yang acak-acakan dengan bekas penghapus yang menghitam dipipiku? , pantas saja mereka menertawakanku. Huuffft benar-benar memalukan. Ini adalah Hari yang menyebalkan!!! . batinnya
__ADS_1
Kring ... Kring ... Kring. Bel pulang berdering keras. Suaranya yang nyaring membuat orang disetiap sudut sekolah pasti mendengarnya.
Anak-anak yang bolos pelajaran dengan duduk didekat pagar sekolah pun pasti mendengarnya.
Suara-suara teriakan kemenangan saat mendengar bel pulang menyelimuti sekolah yang tadinya sepi.
Aqila bergegas membersihkan wajahnya dan berlari menyusuri koridor-koridor kelas. Sebelum ruangan terkunci , ia harus tiba lebih dulu.
Gubraakk....
Aqila tersungkur jatuh tepat dibawah kaki orang yang ditabraknya.
*A*iiihhh memalukannn! . Batin Aqila , saat melihat sepatu orang itu tepat didepan matanya.
"Hei...Aqila kan?" tanya orang itu
*E*eehh sepertinya aku kenal? . tanya Aqila dalam hatinya.
Aqila mendongakan wajahnya yang masih basah , akibat basuhan air tadi.
"Eeehh akhtar .... " pekiknya menahan rasa malu.
" Bangun!!! gak malu apa dilihat orang? " sahut Akhtar dengan memberikan tangannya.
Aqila menerima tangan Akhtar dan berusaha bangkit kembali.
" Bagaimana? Ayahmu masih marah? " tanya Akhtar dengan menaikan kedua alisnya.
" Hmmm ... tau ah " Ringis Aqila , kemudian pergi meninggalkan Akhtar yang masih penuh pertanyaan.
***
Tubuh yang kelelahan menjalankan aktifitas kesehariannya tak sabar untuk merebahkannya di ranjang favoritnya.
" Aku pulang! " sambut Aqila yang langsung memasuki pintu rumahnya.
Hanif yang sedang menyapu halaman rumah hanya menggelengkan kepala seraya mengucapkan , " Assalamu'alaikum. "
Mendengar itu Aqila langsung menyipitkan matanya dengan tatapan tajam pada Hanif.
Dia pikir aku bodoh apa!!! . Batinnya
Aqila malas tau dengan keadaanya saat ini. Ia hanya masuk mencari pintu kamarnya untuk merebahkan tubuhnya yang kelelahan.
__ADS_1