
Azan Subuh berkumandang membangunkan mereka yang masih terlelap dalam tidurnya.
Hanif , seorang Remaja yang melangkahkan kakinya keluar rumah menuju sumber suara.
Wajah yang putih berseri masih dibasahi dengan air wudhu hingga tetesan airnya jatuh kebawah. Tak lupa pula , Air wudhu yang terus menetes dari rambutnya harus ia tutupi dengan kopiah hitamnya.
Baju Kokoh yang berwarna biru bergaris putih dan kuning keemasan dengan sarung coklat yang terukir indah lengkap dengan Sajadah yang ia sandingkan pada bahu kanannya siap untuk menunaikan salat subuh berjamaah.
***
Langit yang masih gelap dan diselimuti banyaknya bintang membuat suasana tersendiri. Keheningan dan udara segar menyegarkan tubuh yang siap untuk melakukan aktivitas kesehariannya.
"Assalamu'alaikum" ucap Hanif dari balik pintu yang baru saja selesai melaksanakan kewajibannya dimasjid
"Wa'alaikumussalam...!" Jawab Ibu Aqila dari dapur
Ibu Aqila masih menyiapkan sarapan untuk Aqila dan Hanif dan menaruhnya diatas meja makan.
Hanif Masuk dan langsung menuju sumber suara yang baru saja menjawab salamnya. Ia mencium punggung tangan ibu Aqila.
"Biar aku bantu bu" pinta Hanif yang mengajukan diri saat melihat ibu Aqila mengambil beberapa piring dan gelas
Ibu Aqila hanya mengangguk terima kasih.
" Seandainya Aqila selalu bangun sepagi ini pasti bakalan mamah suruh untuk membantu ini semua " ketusnya merasa kesal dengan anak gadisnya
Hanif hanya tersenyum tipis mendengar apa yang diungkapkan oleh calon mama mertuanya.
"Mungkin dia sedang kelelahan bu" jawab Hanif dengan wajah polosnya
"Kelelahan apa coba , hanya belajar aja masa lelah...pulang juga bukan jalan kaki tapi naik motor" keluh Mamah
Setelah semua siap , hanif izin ke kamarnya . Namun mamah Aqila mencegahnya.
"Hanif..." panggilnya
" iya bu.."
" Ikut aku ya" ajak mamah Aqila sembari berjalan menuju ruangan khusus pakaian
" ouh iya..bu" jawabnya sembari berjalan menuju ruangan itu
"Ini..seragam sekolahmu...hari ini adalah hari pertamamu di Sekolah umum...Tolong, berikan yang terbaik ya" pinta ibu sembari memberikan seragam sekolah yang telah disetrikanya
Hanif menatap sendu seragam itu , sebab dipesantren ia biasanya hanya menggunakan baju kokoh lengkap dengan sarungnya.
__ADS_1
Kemudian ia menengadahkan tangannya untuk menerima pemberian dari ibu Aqila.
"Makasih...Umi" ucapnya langsung melontarkan kata yang sering ia sebut dipesantren
" kok umi sih..kan biasanya panggil mamah atau ibu hahaha..kamu ingat umi kamu ya?" kata ibu Aqila dengan cengiran tipisnya
Lelaki muda itu hanya menunduk mengingat masa-masanya dipesantren . Air matanya menguraikan kesedihan dirinya , tak mampu menahan rindu dengan orang yang dikasihinya dipesantren. Baginya sahabat santri disana adalah keluarganya sendiri.
Dimana tempatnya menyimpan suka duka dan Kelakuan jahil teman-temannya saat melihat para santriwati yang berjalan bersama menuju masjid.
Saat-saat dimana mereka dihukum untuk membersihkan toilet bersama, namun pada akhirnya ia dan teman-temannya kepergok konser bareng ditoilet oleh ustad .
Kelakuan menggeleng-gelengkan kepala selalu saja menjadi bahan lelucon antara persahabatan mereka.
Kemana-kemana berjalan bersama selalu memakai sarung , baju kokohnya lengkap dengan kopiah hitam sembari memeluk kitab Al-Qur'annya masing-masing.
Namun kali ini , ia ke majelis ilmu dengan menggunakan seragam sekolah tanpa sarung lagi melainkan celana berwarna abu-abu.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 06:25 .
Aqila keluar dari kamar dalam keadaan rapi . Seragam yang dikenakannya sangat rapi dan dilapisi dengan switer berwarna biru moka akibat suhu dipagi hari sangatlah dingin.
Rambut hitamnya terurai rapi hingga ke bahunya dengan hiasan ikat pita berwarna merah melingkar dikepalanya.
Suara pintu pun terbunyi lagi. Dimana Hanif juga siap pergi kesekolah di hari pertamanya.
Seragam yang dikenakannya lengan pendek , ia merasa tidak nyaman. Jadi, Hanif selalu melapisinya dengan menggunakan switer hitamnya.
Akibat kebiasaan Hanif di pesantren , ia memakai kopiah dikepalanya. Sedangkan dari balik dinding, Aqila sempat melihatnya dan membuat matanya membola karena kaget.
Ini hanif? Dia mau sekolah, di Sekolah umum?. Kok bisa, kapan pindahnya?. Tapi, kok dia ganteng banget siih. batin Aqila
Tanpa ia sadari tatapan dari Aqila, hanif langsung menuju ruang makan. Ia mulai menyantap makanannya dengan cepat karena kebiasaan mereka atas kedisiplinan .
" Makan ya Hanif , nanti kamu lapar disekolah...umm mana Aqila ya?"
" Gak tau mah...eh kok dari kemarin papa gak kelihatan?"
" Dia sedang ke luar kota , ada acara keluarga yang harus ia hadiri"
" kok mamah gak ikut? "
" Iya...karena mamah belum menyelesaikan beberapa berkas jadi masih tertunda sebentar...lagian acaranya selama 2 bulan"
__ADS_1
" ouh gitu...Aqila gak ikut?"
" entahlah... dia selalu sibuk sendiri"
Aqila sempat mendengar sepotong ucapan mamanya karena ia baru saja tiba diruang dapur.
Dia selalu sibuk sendiri???. batinnya mengingat perkataan dari ibunya
Perasaan kecewa terselimut ulang didalam dirinya. Sebab , baru hari ini ia berusaha untuk mulai bersikap normal pada keluarganya , tapi nyatanya ia harus mendengar kalimat yang menyakitkan di pagi ini.
Sedangkan mereka yang berada dimeja makan baru menyadari posisi Aqila yang sudah berada dibelakang mereka .
Genggaman tangan dibuat Aqila hingga meremukkan beberapa jemarinya karena tak kuasa menahan amarah yang meluap-luap.
Dengan segera ia keluar dari rumah tanpa pamit ke orang tuanya.
Hanif dan mama Aqila tersontak kaget dan berdiri dari kursinya.
"Ada apa dengan dia?" tanya mama
" Entah...mungkin dia mendengar ucapan terkahir mama...jangan sampai dia tersinggung" jawab hanif
" Dia belum sarapan..."keluh mama
Dengan segera mama Aqila menyiapkan kotak makanan untuk Putrinya dan memberikan kunci motor pada Hanif.
"Ini... Mamah berharap sama kamu , Nak"
Hanif kaget saat melihat sekotak bekal dan kunci ditangan mama Aqila
"Kunci motor ibu yang pegang..jadi kemungkinan dia jalan kaki"jawabnya
" ouh iya bu..."ucap hanif sembari mengambil pemberian dari mama Aqila
" Tolong...berikan pada dia ya...dan motor itu kamu yang bawa oke...kalian kesekolah sama-sama. Mulai sekarang kunci motor ini kamu yang pegang soalnya kalau Aqila yang pegang pasti dia bakalan keluar sampai malam terus"
Mamah Aqila tampak khawatir dengan putrinya , sebab dari semalam ia belum makan ditambah lagi terjadi kesalahpahaman pada mereka .
Hanif mencium punggung tangan mama Aqila dan berjalan keluar .
" Hanif!!!" teriak ibu sembari melangkahkan kaki dengan cepat menghampiri remaja lelaki itu.
"Ibu...percaya sama kamu nak...kamu pasti bisa mengubah Aqila dari tingkahnya yang menjadi-jadi saat ini" pintanya
Hanif tersenyum tipis dan mengangguk. Ini adalah langkah awalnya ia menjadi seorang lelaki sejati yang akan menjaga , melindungi dan mengubah wanitanya menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
__ADS_1