
" Berhenti!!!..." teriak Aqila yang masih meringis kesakitan.
" Turunkan senjata kalian!... Argh... Kami masih pelajar. Jika kalian menyerang kami dengan senjata itu berarti kalian penakut!!!" lanjutnya dengan lantang.
Tiga orang lelaki itu tak peduli , mereka tetap maju perlahan hingga suara dari dalam masker ninja berwarna hitam yang mereka kenakan keluar.
" Kami hanya membantu kalian , agar tidak merasakan sakit . Ketika , maut menjemput kalian!" jawabnya.
Aqila terbelalak. Gemetar tubuhnya semakin menjadi-jadi. Apalagi darah di kakinya mulai menembus kain yang telah diikat oleh Hanif.
" Heh... kami masih pelajar! Kami masih remaja yang belum tau apa-apa... Kalau berani mari kita adu kekuatan. Satu lawan satu!" ajak Hanif agar memalingkan perhatian mereka.
Spontan tiga lelaki itu berhenti dalam gerakannya dan berdiri tegak menatap lekat Hanif dan Aqila.
" Dasar bocah!... keras kepala sekali kalian!" ucap salah satu teman dari tiga orang pengikut Mafia itu.
"Hey!... kau mau menantang kami?. Ingat ya... kami sudah berpengalaman dalam membunuh orang. Jadi, bersenang-senanglah dulu anak muda!. Nyawamu sudah diambang pintu kematian." Sahut pengikut mafia yang lain.
"Benar!... Aku tau kalau kalian hebat. Tapi kalau memang kalian pria sejati, mari kita... satu lawan satu" alih Hanif yang mulai berhasil memancing emosi para mafia itu.
__ADS_1
Mereka bertiga memandang satu sama lain. Kemudian menurunkan senjata ke aspal. Mereka kembali menatap ke arah depan.
" Baiklah... sebelum membunuh kalian , alangkah lebih baik jika kita bersenang-senang dulu. Sudah lama tangan ini tak memukul melainkan hanya menekan pelatuk senjata dari jauh" ungkap pemimpin mafia dari dua temannnya itu.
" Wah Bro... Kayaknya bakalan seru nih... Hahaha. Kita siksa dulu mereka . Lalu setelah itu kita bunuh!" lanjut temannya yang lain.
" eh tunggu... Kalau kita begini... Ketua Mafia gak marahkan?" tanya mafia yang ke tiga
"Hah gak bakalan!... Dia sedang di markas rahasia. Mana mungkin tau. Kan tugas kita cuma membunuh" jawab Mafia 1
Ketiga mafia itu tampak berdiskusi satu sama lain. Hanif mengernyitkan kedua keningnya. Seoalah berpikir , apa yang di rencanakan mereka?.
Setelah berdiskusi cukup lama, ketiga mafia itu menatap ke arah depan. Dengan spontan , mereka membuka masker ninja yang di kenakan dengan kompak.
Wajah yang putih bersih dengan rambut ala korea mulai menampakkan diri. Peluh membasahi wajah mereka yang membuat kilauan mentari menyergap wajahnya.
Tubuh berlapis pakaian hitam dan jeans hitam tampak kekar saat membuka jaket peluru yang baru saja mereka lepas.
Baju hitam berlengan pendek sangat memancing suasana. Kulitnya yang putih bersih sangat mencolok pada baju yang mereka kenakan. Dengan gagah berani mereka maju satu persatu.
__ADS_1
" Tunggu... Sebaiknya gadis itu harus dalam pengawasan kita. Takutnya dia menelpon polisi" timpal Mafia ke 2
Mereka mengangguk. Dan mafia pertama langsung mengambil tindakan dengan berjalan ke arah Aqila.
Tubuhnya yang atletis mulai menghadapi Aqila. Sekiranya mereka adalah Mafia elit termuda. Umurnya baru menginjak 21 tahun. Namun sudah bergabung pada kelompok mafia.
" Apa yang kalian lakukan! " tanya hanif dengan intens. Tangannya masih ia rentangkan agar aqila bisa ia lindungi dengan mudah dari arah depan.
" Kami tak akan curang. Aku hanya akan menahannya... Agar tidak menelpon polisi " Ucap mafia 1 yang masih tak menghentikan langkahnya.
Hanif berdiri tegak , memberi sinyal bahwa ia tak ingin Aqila di sentuh oleh mereka.
"Tidak!... Tak akan aku biarkan Aqila disentuh oleh kalian!"
"heh... banyak bicara kamu!" teriak mafia 2 dengan berlari menuju hanif.
Sedangkan mafia 1 masih tetap berjalan perlahan menuju aqila. Tatapannya yang dingin dan intens sangat membuat jantung Aqila hampir copot. Luka kikisan peluru yang dikenainya tak terasa apapun. Tubuhnya canggung dan mulai salah tingkah.
" D-dia sangat tampan..." gumam Aqila yang masih terus menatap kagum tiga orang mafia itu.
__ADS_1