
Setelah menyelesaikan beberapa urusan yang mendadak , Ayah segera menjemput Hanif dan Aqila yang masih berada di lapangan. Namun , Ayah Aqila hanya mendapati Hanif yang tengah duduk menyendiri disudut lapangan.
"Hanif ... dimana Aqila?" tanya ayah.
" Emmm ... papa ... tadi , Aqila diajak sama temannya untu merayakan kesuksesan mereka " jawab Hanif yang sedikit ragu.
Wajah Ayah Aqila tampak mengecewakan.
"ouh ... begitu ya. Ya sudah ... Hanif kamu ikut pulang ke rumah dulu ya!" pinta ayah Aqila.
"T-tapi .... " jawab hanif yang masih ragu , sebab di pondok pesantren baru saja ia dikabari , bahwa mereka semua tengah menunggunya.
"Ayah ... sudah meminta izin pada ustad. "
"ouh...b-baiklah "
Hanif terpaksa lagi mengiyakan apa yang dikatakan Ayah Aqila , walaupun didalam lubuk hatinya ia masih ingin bertemu seseorang dipesantren.
****
Setelah merasa pekerjaan rumah terselesaikan , ibu Aqila segera duduk diruang tamu menunggu kepulangan suami dan anaknya. Keresahan selalu menyelimuti didalam hatinya , sebab ia takut kebiasaan Aqila kembali muncul. Aqila selalu saja pulang malam semenjak Ayahnya jarang dirumah.
Entah apa lagi yang gadis itu lakukan! . (batinnya)
Selang beberapa lama kemudian , tampak Ayah dan Hanif yang muncul didepan pintu . Dengan segera , ia bangkit dan menyambut kedatangan mereka.
"Assalamu'alaikum " ucap Ayah dan Hanif kompak.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh ... dimana Aqila " jawab ibu , sekaligus langsung melontakan beberapa pertanyaan.
"Aqila ... lagi pergi bersama temannya...kita tunggu saja dia disini! " jawab Ayah yang mulai memanas.
Ibu dan Hanif hanya mengangguk . Mereka pun duduk disofa empuk yang sudah memang tersedia disana. Sedangkan , ibu pergi ke dapur dan menyeduh secangkir kopi dan coklat panas serta beberapa cemilan sebagai temannya.
"Ini ... silahkan diminum" pinta ibu Aqila sembari menyodorkan napan yang terdapat dua gelas minuman dan sepiring cemilan.
"Terima kasih " ucap Hanif yang menerimanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 22:00 dan Aqila belum juga sampai dirumah. Kecemasan memenuhi isi rumah . Ayah Aqila tampak mondar-mandir didepan pintu menanti kepulangan Aqila. Sedangkan , Ibu Aqila selalu saja meremas pakaiannya hingga tampak kusut.
__ADS_1
Hanif terus memperhatikan jam tangan hitamnya . Wajahnya penuh kecemasan dan penuh pertanyaan.
**Apakah dia sedang dalam masalah?
Apa yang dia lakukan sampai jam segini?
Apa yang terjadi?. ( batin Hanif )
Tiba-tiba suara motor besar berwarna merah berhenti didepan rumah.
Ayah segera menghentikan langkahnya dan menghampiri putrinya.
" Dari mana saja KAMU!!! " tanya ayah yang langsung menyerbu dengan banyak pertanyaan.
" Pulang jam segini dengan laki-laki pula...APA YANG KAMU LAKUKAN!!! " teriak Ibu yang melihatnya dari dalam.
Hanif langsung tersontak dari duduknya. Ia ingin sekali melihat keluar namun terhalangi oleh Ayah yang menguasai pintu.
Tamparan keras menghampiri pipi Aqila hingga membekas merah . Semua tampak ribut didepan pintu.
" Kamu ... masuk kedalam! " perintah Ayah pada lelaki yang masih mengenakan helm.
Ia segera masuk sesuai perintah ayah . Tatapan mengintimidasi tersarang pada ibu dan Hanif yang berada didalam mampu membuat hatinya resah.
" Nama saya Akhtar ... bu " ucapnya yang menjeda sedikit kalimatnya.
"Saya mengantar Aqila pulang , sebab ini sudah larut. Kami mengadakan perayaan lupa mengingat waktu dan setiap wanita dikelompok kami adalah tugas bagi lelaki yang mengantarnya pulang , karena tidak mungkin ... jika kami membiarkan mereka pulang sendiri. Lagi pula ini salah kami juga, Aqila sudah berkali-kali minta pulang , tapi tak ada yang menggubrisnya. MAAFKAN KAMI BU " lanjutnya yang berusaha menjelaskan secara rinci.
Ibu Aqila dan Hanif sudah mulai mengerti dengan penjelasan dari Akhtar. Sedangkan , Aqila dan Ayahnya masih ribut didepan pintu.
Percekcokan Antara Ayah dan Anak tak kunjung berhenti , hingga Aqila memaksa masuk dan menerobos pintu yang dihalangi ayahnya.
Aqila berjalan menghentakan kakinya dengan keras , serta sesekali ia mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Aqila juga sempat menyenggol kaki meja , hingga minuman yang diatasnya jatuh berserakan dilantai rumah. Tetapi , Aqila tidak memusingkan kondisi rumah saat ini . Ia hanya berlalu dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Hanif dan Akhtar menatap sendu apa yang Aqila rasakan saat ini. Sedangkan , ibu Aqila merasa malu atas perbuatan putri semata wayangnya.
Dengan cepat Akhtar memohon pamit agar tidak menambah rusuh keadaan rumah. Pikirannya tertuju pada ayahnya di depan pintu.
Nanti mereka saja yang menjelaskannya ... karena kalau aku pasti ayahnya malah semakin marah pada Aqila ... sebaiknya aku pamit saja. ( batinnya )
__ADS_1
Akhtar yang mendapat cela untuk keluar langsung memanfaatkannya . Disela-sela ia berlari , sempat mengucapkan salam pada keluarga Aqila . Dan yang mendengarnya hanyalah Hanif . Hanif menjawab salam yang diberikan dengan nada yang kecil.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh " gumamnya.
Hanif yang melihat serakan gelas yang pecah dilantai tidak perlu memikir panjang. Ia segera turun dari sofa dan membereskannya. Namun , pergerakan Hanif dihentikan oleh mamah Aqila.
" Sudah ... biar aku saja "
Sedangkan , Ayah Aqila masih mengepal kedua tangannya menahan emosi yang meluap - luap.
" Hanif!!! aku ingin kamu melindungi Aqila. Akan aku urus surat pindahmu. Kamu akan Kusekolahkan saja di sekolah umum bersama Aqila. Sebab , jika dibiarkan begini terus , tingkah Aqila akan semakin merajalela. Dia semakin KURANG AJAR!!! " ucap Ayah Aqila dengan nada tinggi.
Dia tidak sempat berpikir panjang dalam memutuskan sebuah keputusan besar , sebab pikirannya sedang kacau barau.
Sedangkan , Hanif masih syok dengan permintaan mendadak dari Ayah angkatnya.
" Hanif ... untuk malam ini kamu menginap dulu di sini ya? " pinta mamah Aqila yang masih membereskan pecahan gelas yang berserakan.
"iya mah ... " jawab Hanif dengan pasrah.
Ayah Aqila berjalan mendekati Hanif dan memeluknya dengan erat.
" Aku percaya padamu Hanif ... tolong ubah sikap Aqila yang keras kepala itu " pinta Ayah Aqila dengan deraian air mata yang membasahi bahu kanan Hanif.
Hanif Merasakan dekapan hangat yang kedua kali diberikan oleh sosok ayah , sebelum Ayah kandungnya pergi meninggalkannya. Ia merasa damai dan terbuai akan suasana.
" Baik ... Ayah. Akan kuberikan yang terbaik untuk Putrimu " jawab Hanif dengan tenang.
" Terima kasih , Nak. "
Setelah membereskan pecahan gelas dan piring yang berserakan , mama Aqila berdiri dan menghadap Hanif yang masih membelakanginya.
" Hanif ... kamu mengingap dulu yah ... nanti besok kita pergi mencari apartemen Ayahmu yang kosong . Okee! " ucap Mama.
" Benarkah? Ayahku punya Apartemen? " tanya Hanif gembira.
Jadi, Ayah hanif selaku jenderal militer sempat membelikan Hanif apartemen untuknya tinggal , sebab mereka dulu hanya tinggal diperumahan khusus aparat militer.
Sebelum ia pergi meninggalkan putra semata wayangnya untuk berjihad dijalan Allah.
__ADS_1
" Ya ... Ayahmu sempat memberikan aku alamatnya tapi tidak dengan sandinya ... maaf ya "
" iya ... tak apa ... masalah sandi bisa aku pecahkan nanti " ucapnya dengan tersenyum tipis.