Jodohku Titipan Dari Surga

Jodohku Titipan Dari Surga
Bab 20 : Apa salah???


__ADS_3

"Aqila???... kau cemburu???" ucap salah seorang yang melihatnya dari belakang.


Seketika Aqila berhenti dalam tingkahnya. Ia menatap lurus ke depan , seolah berpikir siapa yang melihatnya dari tadi?.


Tanpa pikir panjang Aqila segera membalikkan badan dan melihatnya. Matanya seketika membola kaget.


Menelan salivanya. "A-apa???" tanya Aqila bingung.


Di belakangnya terdapat tiga orang lelaki yang berdiri menatap tingkahnya sembari tertawa kecil.


Ya , mereka tidak lain adalah Akhtar , Hanif dan Raffa. Mereka tampak akur walau belum mengenal satu sama lain. Aneka tingkah yang mereka tunjukan. Dimana Akhtar melipat tangannya ke depan seakan menunjukan tingkah kerennya dan santai tapi cool. Tak lupa pula , ia menyunggingkan senyumnya dengan tulus.


Sedangkan Hanif melipat tangannya ke belakang dengan santai , menatap Aqila penuh harapan. Sesekali hanif tersenyum malu. Ternyata keberadaannya selama ini sudah dianggap oleh Aqila. Walau tak pernah di ungkapkan dalam kata-kata.


Apa lagi Raffa , tingkahnya yang terkenal konyol dengan percaya diri melipat kedua tangannya ke depan , sesekali kakinya bergoyang angkuh. Lelaki itu memiliki perasaan pada Aqila cukup lama. Pernyataan cintanya pada Aqila selama 3 tahun ini hampir 99x ditolak mentah-mentah. Namun itu tak pernah menggoyahkan perasaannya pada pujaan hati.


Mereka tertawa dan tersenyum kecil bersamaan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kali ini mereka datang dengan tujuan tertentu. Sebab salah satu teman Aqila yang tidak lain adalah Nawa , melaporkan tingkah Aqila pada mereka bersamaan. Dan memohon untuk menetralkan emosi Aqila agar tidak berulah lebih nekat lagi. Demi melindungi keamanan bersama , mereka bertigalah yang mampu menyadarkan Aqila.


"Kamu... bi-bilang apa tadii? Aqilaa?" tanya Raffa sedikit menggoda.


Aqila membulatkan matanya. Menatap tiga orang itu lekat. Tak percaya mereka berdiri di belakangnya sedari tadi.


Apakah mereka mendengar apa yang aku katakan? . batin Aqila


Eh apa yang aku katakan tadi???... apakah sangat memalukan???... sampai-sampai banyak yang menatapku dari pintu maupun jendela... hikss menyebalkan! . lanjutnya


Aqila menyapu pandangannya pada semua orang di sekelilingnya. Kini gadis itu salah tingkah. Tapi , untuk menutupi rasa malu dan salah tingkahnya itu , kembali ia melanjutkan aksinya yang kejam.


Brukkk...


" Apa maksud kalian???" tanya Aqila dengan lantang setelah menendang meja miliknya.


Tas Aqila yang masih ada disana sedikit lagi akan jatuh sebab posisi meja yang baru di tendangnya miring.


Gadis itu membulatkan matanya lagi. Sebab, ia sempat berpikir bahwa di dalam tasnya masih terdapat handphone miliknya. Sayang bila jatuh.


Tanpa berpikir lama , ia langsung mengambil tasnya dan membetulkan mejanya. Tingkahnya kembali membuat mereka tertawa kecil. Aneh tapi lucu , ungkapnya.


" Ke-kenapa tertawa?" tanya Aqila berulang membuat semuanya berhenti tak berkutik.

__ADS_1


"Aqila...cukup jangan begitu" jawab hanif dengan lembut.


Namun ucapan lembut itu di balas dengan tatapan tajam dan sinis dari Aqila.


Jadi, maksudnya aku berulah? hah! . pikir Aqila


Setelah mantap dengan apa yang dipikirnya , kembali lagi ia berulah. Menghamburkan meja dan kursi yang baru ia susun kemarin.


Bruukkk...Braakkk...


Semua mata melototi Aqila. Ingin sekali menghentikan tingkahnya . Namun, guru BK sudah lebih dulu datang.


Dengan serentak mereka menelan salivanya dengan paksa. Entah ini adalah pelanggaran yang ke berapa kali bagi Aqila. Yang jelas , guru BK segera merangkul Aqila membawanya ke ruangan untuk di interogasi hahaha.


Sebelum mendapat perintah dari guru , mereka segera membenarkan kursi dan meja yang berhamburan karena ulah Aqila.


***


Seperti biasa , Hanif mengantar Aqila pulang ke rumahnya. Tak ada pembicaraan sedikit pun diantara mereka. Hening , hingga suara ibu Aqila menyambut.


"Aqila!!!"


"Assalamu'alaikum" ucap Hanif sebagai pembuka


" Wa'alaikumussalam!" jawab ibu Aqila dengan tegas.


Menatap tajam putrinya , " Cepat Masuk!!! " pintanya dengan cukup tegas.


Mereka berdua mengangguk paham , dengan langkah yang kaku mereka masuk ke rumah sesuai perintah ibu Aqila.


Puuk...


Ibu Aqila menutup pintu rumah dengan keras. Sedangkan Aqila dan Hanif tersontak kaget dalam pendiriannya. Entah kali ini hukuman apa yang akan di dapatinya. Tapi , cukup jelas dari wajah ibu Aqila sudah menggambarkan kemarahan yang cukup besar.


"Apa yang kamu lakukan di sekolah?! sampai-sampai ayahmu di telpon oleh kepala sekolah?!" tanya ibu dengan tegas dan lantang.


Aqila menengguk salivanya dengan kuat. Ternyata apa yang di pikirnya tadi benar.


"A-aku..."Aqila tak berani melanjutkan kalimatnya. Rasa takut yang ia rasakan menjerat hatinya semakin dalam hingga membuat perasaan sesak yang cukup dalam.


Hanif yang sedari tadi menunduk sempat melirik Aqila dengan sendu. Baru kali ini ia melihat gadis dengan tingkah yang berulah tampak ketakutan saat mendengar kemarahan ayah dan ibunya yang penuh pertanyaan.

__ADS_1


"A-akuuu...t-tadi" Lanjutnya dengan terpotong. Suaranya terengah-engah seperti di kejar hewan buas. Sesekali gadis itu menitikkan air mata.


" Jangan menangis!!!... mama tidak menyuruhmu menangis! . Cepat jawab pertanyaan mama!" bentak ibu Aqila.


Tak ada yang bisa di lakukan hanif selain mendengar ocehan dari ibu Aqila. Ia selalu menunduk tak berani menatap ke depan. Tangan yang ia silangkan di belakang meremas tas yang berisi buku itu. Ingin sekali membantu Aqila , namun jika ia ikut campur sama saja akan menambah masalah.


" Hanif!!! " tanya ibu Aqila dengan suara lantang.


Lelaki bertubuh atletis itu tersontak kaget.


"I-iya mah...."


" Apa yang di lakukan Aqila di sekolah?!"


Bingung. Ingin sekali ia berada di pihak Aqila . Namun , ia harus mengatakan kebenaran yang sesungguhnya.


"Se-sebenarnya... Aqila mengamuk di kelas. Dia marah karena temannya atau sahabatnya di rebut sama murid baru itu" jawab Hanif dengan kaku.


Plaaakkkk...


Tamparan keras mendarat di pipi Aqila. Mata ibu Aqila semakin menajam bahkan berkaca.


" Jangan pernah kamu ulangi tingkah ke kanak-kanakanmu itu!!!..." kata ibu Aqila dengan lantang.


Aqila meringis kesakitan. Tangannya memegang bekas tamparan sang ibu. Ini adalah yang kedua kali dalam hidupnya setelah Ayah menamparnya dahulu.


Apakah salah jika kita mengeluarkan ego atau apa yang kita rasakan pada sekitar kita? . pikir Aqila


Apa salah? jika kita ingin di mengerti oleh orang lain?. Selama ini tak ada yang mengerti apa yang aku rasakan selain Akhtar. Jadi , aku takut jika... sahabat yang aku dambakan selama ini akan di ambil oleh orang yang aku benci. batinnya


Kembali ia menjatuhkan deraian air mata tiada henti. Nafasnya tersedak memberi sinyal rasa sakit hati yang mendalam.


Gadis itu tak mau berbicara sepatah kata pun pada sang ibu. Ia berlari ke kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.


"Ibu tak mau mendengar apa lagi ulahmu di sekolah!!! . Kalau sampai kepala sekolah menelpon lagi ke rumah... terpaksa Ayah dan Ibu akan memberhentikanmu!!!" teriak ibu Aqila berusaha apa yang ia katakan masih di dengar oleh Aqila.


"Ibu dan Ayah menyekolahkanmu untuk menjadi anak yang pintar!... anak yang terdidik!!!... bisa membuat orang tua bangga!...bukan malah mempermalukan orang tuamu dengan tingkah ke kanak-kanakanmu seperti itu!!!... Apa kamu kurang didikan Hah!" lanjut ibu Aqila dengan lantang.


Hanif terdiam tak bisa apa-apa. Ia hanya menatap ibu Aqila dengan lekat. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ibu Aqila.


" Hanif!!! tugas pertamamu bersekolah disana untuk menjaga Aqila!!! Bantu kami mendidiknya... bukan hanya santai dan bersenang-senang di sana!... Kau sama sekali tak bisa memberi perubahan apa-apa pada Aqila! . Pokoknya mama harap jangan pernah kecewakan kami!!!" ucap ibu Aqila berusaha menjelaskan emosinya

__ADS_1


__ADS_2