Jodohku Titipan Dari Surga

Jodohku Titipan Dari Surga
Bab 2 : Pertemuan yang tak diinginkan


__ADS_3

Setelah beberapa kali berlatih dan menyiapkan diri sebelum harinya tiba , akhirnya mereka sukses dengan kekompakan yang menyelimuti marching bandnya . Sorakan kebahagiaan serta canda dan tawa menghiasi ruangan luas tempatnya berlatih.


Baju berwarna biru dipadukan dengan celana dan rok silver yang dikenakannya membuat penampilan mereka sangat menawan, anggun dan keren. Cantik dengan riasan-riasan make up menghiasi wajah cantik para pemainnya termasuk Aqila.


"Aqilaa ... kamu cantik bangettt. Siapa yang riasin wajah kamu?" tanya Nawa.


" ekhm ya aku sendirilah "


" Kayaknya kamu cocok deh diriin salon kacantikan "


Canda tawa selalu menghiasi kelompok mereka , agar menghindari ketegangan saat tampil dihadapan peserta upacara maupun para tamu undangan.


Tiba-tiba suara tepukan tangan menggema diruangan , hingga kebisingan yang dibuat tadi perlahan menjadi hening.


" Bagus yah ... senang-senang disini sedangkan diluar sana orang sedang mengatur barisan upacara , kenapa kalian tidak ikutan saja! ... sekalian latihan untuk mempersiapkan diri! " gertak pelatih yang tiba-tiba muncul.


" maaf pak ... kami sudah berlatih sebaik mungkin ... jika terlalu memaksakan diri maka penampilan akan menjadi buruk , " jawab Aqila dengan santai.


" ya sudah ... terserah kalian saja ... yang penting saya tidak mau , kalau penampilan kalian kali ini dapat memalukan sekolah dan sebaiknya cepat ambil tempat yang sudah dipersiapkan, " pinta pelatih dengan tegas.


" baik pak! " jawab mereka dengan kompak.


Semua anggota marching band dengan alat yang dikenakannya berjalan rapi menuju tempat yang telah disediakan . Aqila dan Rosy memimpin barisan para merching dengan aksi-aksi yang mengagumkan , serta melodi yang dihasilkan oleh anggotanya.


Kedatangan mereka membuat sepasang mata banyak yang melihatnya , sebab kemeriahan dari kedatangan para marching band yang dipimpin oleh dua wanita cantik dengan tubuh ideal , serta riasan yang cantik dan natural mampu membuat lelaki yang melihatnya meleleh.


Rombongan Aqila dan rosy melewati sekelompok para santri yang mengenakan kaos hitam dan celana hitam , serta kopiah yang dikenakannya mampu membuat mereka terbuai akan suasana melodi yang diiringkan.


Hanif melihat Aqila memimpin anggota marching bandnya dengan beberapa aksi yang ditunjukan , mampu membuatnya terpukau .


Setelah tersadar dari lamunannya , Hanif sesegera mungkin menundukkan pandangannya . Ia juga mengelus mulus dada bidangnya sembari menggelengkan kepalanya merasa bersalah.


Astagfirullah . batinnya


Suasana semakin meriah setelah keberadaan marcing band sampai pada tempat yang disediakan.


Setelah beberapa lama mempersiapkan diri untuk menampilkan yang terbaik akhirnya Upacara peringatan HUT NKRI akan dimulai.


Barisan Para santri ditempatkan tak jauh dari anggota Marcing band yang membuat Hanif harus terus menundukan pandangannya , sebab kecantikan yang ada disekitarnya mampu membuat dirinya terbuai akan suasana.


Hanif dan Aqila serta Rosy berdiri didepan barisannya untuk memimpin anggotanya masing-masing .

__ADS_1


Disela-sela ia berdiri hanif sempat melirik sosok Aqila yang berada tepat disampingnya .


Ia hanya tersenyum tipis setelah sekian lama harus dipisahkan , akhirnya ia bisa melihat sosok wanita yang pernah ditunangankan oleh sang ayah beberapa tahun yang lalu. Namun aqila tampak cuek saja , ia hanya fokus ke depan tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Setelah menyiapkan para anggota , mereka pun kembali ketempatnya masing-masing.


Suasana upacara mulai berjalan dengan lancar bersama dengan para Marching bandnya. Aksi-aksi dari para komandan lapangan mampu menggoyahkan rasa lelah orang yang berdiri di upacara. Ajaibnya, Setelah melihat aksi dari para komando cantik bersama anggota marching bandnya mampu menciptakan Perasaan bahagia serta semangat terus muncul dilubuk hati setiap orang yang menyaksikannya.


Disela-sela aksi melompat dan banyak lagi , Aqila sempat melirik sosok Hanif yang terus memperhatikan dirinya sedari tadi.


Upacara berjalan cukup lama hingga acara yang dinanti-nantikan pun tiba. Penampilan dari para Santri yang dipimpin oleh Hanif mulai berjalan mengelilingi lapangan .


Koreografi dan berbagai aksi mengejutkan lainnya mampu membuat teriakan histeris dari para penonton termasuk Aqila.


Aksi yang mampu membuat beberapa penonton pingsan adalah teknik bela diri silat dan aksi melewati kumparan api yang membentuk lingkaran kecil tanpa pengaman sedikitpun serta semburan api yang membuat salah seorangnya kesulitan menghirup udara segar.


asap-asap hitam mengelilingi lapangan upacara itu serta sorakan para penonton dan tepukan tangan menghiasi kemeriahan lapangan.


Air mata kebahagiaan menyelimuti para tamu undangan bahkan para pejabat besar sekalipun , sebab pesantren yang dianggap tempat masuknya kumpulan anak nakal itu dapat menampilkan aksi menengangkan yang mampu membuat orang-orang merasa bangga dengan kehadiran mereka.


Setelah menampilkan cukup banyak aksi , mereka pun mohon pamit atas selesainya pertunjukan yang diberikan dan kembali ke tempat yang disediakan tadi.


Perasaan bangga terselimuti di diri mereka. Semuanya tampak kelelahan dan kesulitan menghirup udara ( ngos-ngosan ) , tapi mereka tetap memperlihatkan senyuman yang tulus pada para penonton.


Usai upacara selesai , semua kembali bubar dan separuh diantara mereka merayakan kemenangan dan kesuksesan penampilannya.


Ayah dan ibu Aqila menghampiri sosok lelaki bertubuh atlet itu.


" Hanif .... " teriaknya


Mereka berlari dan memeluk tubuh Hanif seerat mungkin dengan beberapa tetes air mata membasahi kaos hitamnya yang basah akibat keringat yang bercucuran.


" Kau sudah tumbuh dewasa nak .... " ucapnya sembari membelai rambut yang masih ditutupi kopiahnya.


Hanif hanya tersenyum dan membalas pelukan dari ibu dan ayah angkatnya.


"Penampilanmu sangat bagus , Nak. Tidak sia-sia latihanmu beberapa bulan terakhir ini" ucap ayah yang membelai halus wajah Hanif.


" Terima kasih pah ... udah mau hadir dan menonton aksi kami " kata Hanif dengan senyuman tulusnya.


Dari kejauhan Aqila hanya menatap sendu orang tuanya yang lebih memperhatikan sosok hanif yang hanya sebagai tunangan masa kecilnya .

__ADS_1


Tak lama kemudian teriakan ibu menghiasi lapangan memanggil sosok aqila yang menatap jauh mereka.


" Aqilaa ... sini , Nak " teriaknya , sembari melambaikan tangannya disertai hanif yang berbalik badan melihat Aqila dari kejauhan itu.


Dengan berat hati , Aqila melangkahkan kakinya mendekati ibu dan ayahnya yang masih bersama Hanif dihadapannya.


"Aqila ... apa kabar?" tanya hanif dengan lembut.


" Baik!" jawab aqila dengan nada tinggi.


Tapi , tingkah yang diberikan Aqila tak mampu membuat Hanif merasa sedih. Justru , Hanif hanya melontarkan senyuman kebahagiaan untuknya.


" Nak ... penampilanmu juga bagus ... kamu sangat terampil dalam aksimu ... mama bangga sama kamu , Nak " ucap mama dengan pelukan yang menghampirinya.


Tak lama kemudian , suara telepon membuyarkan kebahagiaan itu.


"Halo ...ada apa?"


"Pak sebaiknya anda kemari soalnya ada pertemuan mendadak "


" oke baik " ucap ayah sembari menutup panggilan dari ponselnya.


" semuanya ... ayah dan ibu pergi dulu ya, ada pertemuan mendadak. Hanif tolong jaga Aqila sebentar ya "


" ouh baik ayah! " jawab Hanif dengan semangat.


selalu saja begitu...menyebalkan! . batin Aqila


Mereka pun pergi meninggalkan Hanif dan Aqila bersama.


Kegelisahan menyelimuti hati Aqila, sebab ia tak suka jika berada dalam jangkauan Hanif yang selalu memantaunya.


Tak lama kemudian, Seorang gadis berlari tergesa-gesa mencari sosok yang dicarinya.


"Aqilaaa ... ternyata kamu disini ... yuk kita rayain kesuksesan kitaa! " teriakan Nawa mampu menghancurkan suasana.


"Ehhhh ... kang Santri yaa? ... uuuhh tampan bangett siii ... ehhh penampilan kamu bagus banget loh ... aku fans deh sama kamu. Pokoknya kamu the bestt " ucap Nawa dengan kalimat yang bertele-tele membuat Aqila merasa tidak nyaman.


Aqila langsung saja mengarahkan kepala nawa , agar berbalik dan pergi meninggalakan hanif sendiri.


" Aku izin ... mau rayain kesuksesan kami! " teriak Aqila yang tidak memperdulikan keberadaan Hanif.

__ADS_1


" Ehhhhh .... " Hanif ingin mengatakan sesuatu , tapi kalimatnya terpotong . Sebab Aqila sudah lebih dulu meninggalkannya.


Perasaan bersalah dan menyesal terselimut dihatinya , karena Hanif terpaksa meninggalkan kelompoknya untuk meluangkan waktu bersama calon keluarganya. Namun , tak ada yang memperdulikan keberadaannya saat ini.


__ADS_2