Jodohku Titipan Dari Surga

Jodohku Titipan Dari Surga
Bab 9 : Hukuman 2


__ADS_3

Hari pun berganti , seperti biasa para pelajar sejak pagi sudah siap dan berada disekolahnya masing-masing. Dari meja paling belakang dekat jendela , terlihat seorang siswi yang sedang mengetuk pulpennya ke meja beberapa kali .


Pandangannya tertuju diluar jendela yang tidak lain adalah halaman belakang sekolah.


Ia tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan didepan , sebab dirinya saat ini sedang hanyut dalam buaian lamunannya.


Senyum kembali merekah dibibirnya. Pandangannya tetap tertuju pada pagar sekolah dengan tembok yang mulai berlumut.


hmmm benar...kali ini aku tidak akan kalah lagi!!!. Cukup kemarin aku gagal. batinnya


(Gupraakkk)...kembali lagi , lemparan penghapus tepat dimeja Aqila.


Wajahnya pucat dan kaget kini kembali menghadap ke papan tulis. Jantung yang berdegup cukup kencang sulit untuk menghembuskan nafas.


" Coba jelaskan ulang!"


Mulut Aqila kembali kaku. Pikirannya kacau dan refleks.


Aiiiihhhh...apaan nih!!! . batinnya


Kembali ia membuka setiap lembaran buku paketnya. Melihat judul yang tertera dipapan. Pikiran Aqila kembali jernih.


Menghembuskan nafas panjang untuk menghilangkan rasa gerogi. " Jadi , begini pak. Menurut saya pertumbuhan adalah proses bertambahnya jumlah atau ukuran sel dan tidak dapat kembali seperti semula serta dapat diukur." menjeda kalimatnya sebentar sembari mengatur nafas perlahan


"Sedangkan perkembangan adalah suatu porses menuju kedewasaan/pematangan" lanjutnya


Semua siswa dan siswi didalam kelas itu bertepuk tangan riang. Tak disangka Aqila bisa menjawab pertanyaan pak guru dengan benar dan jelas.


Setelah mendapat jawaban yang cukup puas dan menarik , Guru biologi itu kembali kedepan dan melanjutkan penjelasannya semula.


"Sssttt...gila..Aqila loh benar pintar deh...aku aja yang perhatiin dari tadi , gak bisa juga tuh jelasin serinci kamu" bisik Nawa


Bangku Nawa dan Aqila diberi jarak. Ya karena itu sudah peraturan sekolah.


Aqila hanya mengangguk dan memberikan bahasa isyarat dengan dua jari yang ia lekatkan pada pipinya. Itu menandakan seperti pose cantik ekhmmm...


KRING..KRINGG..KRINGG


Bel istirahat berbunyi keras. Menggemparkan seluruh murid yang kelaparan dan bosan didalam kelas.


Suasana kelas mulai tampak kosong sebab satu-persatu mereka keluar menuju kantin.


Aqila membereskan buku-bukunya kedalam tas dan keluar.


Langkah kakinya tak sengaja melewati kelas Hanif. Ekor mata Aqila sempat menangkap sesosok lelaki yang duduk termenung dibangkunya. Tempat duduk hanif sama seperti aqila. Ia mendapat tempat dibelakang dan disamping jendela.


Aqila kembali mengurungkan niatnya. Ia mengendap ke balik pintu dan berusaha mengintipnya dari sana. Mulut yang membentuk huruf O seakan kaget dengan yang dilihatnya.


Itu Hanifkan?...hmmm baguslah...kali ini akan berhasil!. batinnya


Setelah merasa cukup puas dan mendapat ide baru , Aqila kembali ke kelasnya mencari dua orang yang ada dipikirannya.


"Nawa...Rosyy!!!" teriaknya


Aqila berlari menyusuri koridor-koridor kelas , berusaha untuk sampai pada orang yang dimaksud.


" Hufff...hufff..hufff...kalian aku panggil kok gak denger sii"


" eh...? maaf ya..aku pikir kamu masih marah sama kami?" jawab Rosy


" Gak...kok. Ehh aku ada rencana nih! kira-kira kalian mau gak bantuin aku?" tanya Aqila

__ADS_1


" Apa ???" bisik Nawa sembari membungkukkan badan memegang pundak kedua temannya


Aqila membisikkan rencananya dan dibalas dengan anggukan dan gelengan kepala temannya.


" Wih gilaa...Aqila...loh jangan macam-macam" ucap Nawa khawatir


" Iya...kalau terjadi sesuatu gimana?"


" Gak bakalan..udh kalian ikuti perintah aku aja ya" jawab Aqila dengan mengedipkan matanya


Ia mulai berlari meninggalkan temannya yang masih mematung tak percaya apa yang akan dilakukan gadis itu lagi.


" heeii..jangan lupa ambil posisi!!!" teriak Aqila disela-sela langkah cepatnya


***


Aqila berjalan menyusuri koridor dibelakang kelas-kelasnya. Halaman yang dipenuhi dedaunan kering , beterbangan kesana kemari yang membawa suasana mistis tersendiri.


Aqila menghembuskan nafasnya berusaha membuang rasa takutnya. Kini langkahnya terhenti pada jendela di sisi kirinya. Ia membalikkan badannya dan mulai menatap suasana didalamnya. Namun sangat disayangkan , cahaya matahari membuat pantulan cahaya yang cukup menyilaukan. Mata Aqila menyipit berusaha menerawang apa yang ada dihadapannya.


Sedangkan Hanif yang ada didalamnya merasa aneh. Saat buku yang dikena pantulan cahaya matahari harus dihalangi dengan bayangan seseorang yang sedang menguntit terang-terangan.


Eh...bayangan siapa nih? apa yang dia mau lihat dibangku milikku? . batin Hanif keheranan sebab ia belum berani menghadapkan pandangannya disamping


Lelaki itu berusaha melawan rasa takutnya. Ia menghadapkan pandangannya pada jendela.


Dan wah, ada pemandangan yang membuat dirinya tertawa kocak. Sebab Ada Aqila disampingnya. Ia berusaha ingin melihat sesuatu dari balik jendela itu , namun cahaya matahari terlalu menyilaukan , membuat dirinya tak bisa melihat apa yang terjadi saat ini.


Hanif tertawa saat melihat wajah Aqila yang penasaran disamping jendela. Merasa puas akan tawaannya , ia menyimpan buku paketnya untuk menghalangi pandangan Aqila terhadap dirinya. Sebab , teman sekelasnya sudah berdatangan.


"Hikss...mana sih? kok silau banget ya?" tanya Aqila pada dirinya


Wajahnya terus menelusuri jendela itu agar bisa melihat orang yang dipikarannya saat ini.


"Tscu...tscu...tscu..." gumam hanif menahan tawaanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari melipat kedua tangannya didepan dada


Hanif sudah berdiri dibelakang Aqila. Tubuh Aqila yang sedikit mungil sulit untuk menjangkau jendelanya. Sesekali ia menjinjitkan kakinya agar bisa melihat jendela itu.


"Hikkss...sakit mataku kalau begini terus" ucapnya dengan dua langkah mundur


Merasa ada sesuatu dibelakangnya , Aqila segera berbalik badan dan berteriak.


"Aaaaaaa!!!" teriaknya sembari tubuh yang langsung menempel di dinding


Hanif tetap menjaga jarak dengan Aqila. Ia menatapnya dengan tatapan sendu dan sesekali tersenyum tipis.


"Aduh Aqila, kalau mau kerjain orang harus buatin rencana yang matang yaaa.. belum apa-apa kok udah ketahuan aja? hedehh" ucap Hanif sembari tertawa kecil karena tak sanggup menahannya


Gadis itu kembali mengernyitkan kedua alisnya. Menatap hanif dengan tatapan intens. Sesekali Aqila membunyikan giginya agar bisa terlihat menakutkan didepan Hanif.


" Apa? udah ketahuan? Heiii ini belum apa-apa!! ini baru permulaan!!!" bentaknya dengan melipat kedua tangannya


"ummm gitu ya? bagus deh" balas Hanif dengan cengiran tipisnya


Perasaan yang mulai memanas dengan tingkah Hanif membuat Aqila ingin sekali memukulnya namun ia tahan.


"Kalau bukan itu maksud kamu...jadi tujuan kamu ke jendela aku ngapain?"


Mata Aqila kembali membola saat ia termakan dengan ucapannya sendiri.


Pikiran Aqila mulai bekerja untuk mencari alasan yang tepat.

__ADS_1


Gadis itu berbalik badan dan memegang jendela dan dinding itu seolah menjelaskan alasannya.


" A-akuu sedang mencari s-semuttt..iya semut nih" jawab Aqila sembari menepuk tangannya pada dinding itu


" Buat apa?" tanya Hanif


" Ya..B-buat prakteklah...praktek di laboratorium tentang hewan melata gituu" jawab Aqila dengan Actingnya


Hanif kembali tertawa terbahak-bahak dengan tangan menutup mulutnya untuk tetap menjaga etika saat tertawa.


Sedangkan gadis itu tak terima dengan tingkah Hanif. Wajahnya memerah antara malu dan marah tercampur aduk. Ia pergi meninggalkan Hanif dengan kaki yang disentaknya cukup keras.


Saat dipembelokkan ia mendapati kedua temannya tengah membawa ember sesuai perintah.


"Aqila, maaf Hanif gak ada dikelasnya" kata Nawa


Rosy yang tengah membantu Nawa memegang ember itu hanya mengangguk.


"Terlambat!!! dia udah ada dibelakang!" bentak Aqila


Kedua temannya kompak menautkan kedua alisnya kaget.


" Ya bagus dong...kan jadi lebih gampang" balas Rosy


Aqila kaget dan sadar akan ucapan temannya. Ia kembali melaksanakan ide selanjutnya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum licik.


Sedangkan dari belakang Hanif kebingungan. Maksud dari tujuan mereka apa?


Tiba-tiba Aqila datang sambil berlari cepat menuju Hanif diikuti kedua temannya yang saling membantu membawa ember itu.


isi embernya adalah air bekas pel yang sudah menghitam dan dicampur dengan beberapa rerumputan yang kering.


"Di sini!!! cepattt" pinta Aqila berusaha memberikan peringatan


Hanif merasa terancam. Ia berlari sekuat mungkin. Menghindari kejaran tiga orang wanita yang diantari ember berisi air yang menjijikan.


Astagfirullah...kali ini apalagi???. batinnya


Adegan kejar-kejaran terulang lagi. Aqila berusaha meraih baju Hanif agar menahannya. sekali, dua kali gagal tapi yang ketiga kali ia berhasil. Meskipun harus terungkur jatuh ke tanah bersama Hanif.


Dipikirannya saat ini adalah rencananya harus berhasil.


"Cepatt!!! siraammm" teriak Aqila yang sudah terduduk ditanah berusaha menahan Hanif yang beranjak lari


" Ttapi A-aqila??" sanggah Rosy dan Nawa


" Cepattt!!!" perintah Aqila


Hanif berusaha lari namun harus pasrah saat bajunya terdengar suara sobekan.


Dengan cepat Rosy dan Nawa menyiramkan air kotor itu ditubuh Hanif. Tapi sebagian penuh jatuh ke kepala Aqila karena posisi Aqila dan Hanif cukup dekat.


Air kotor yang membasahi baju Aqila dan Hanif membuat warna coklat tersendiri dibaju putihnya. Sedangkan sisa-sisa rumput itu bersarang di rambut Aqila.


"Haaaaaa!!!" teriak Rosy dan Nawa kompak


Sedangkan Hanif berusaha merapikan kopiahnya yang jatuh kebawah. Rambut dengan cukuran perwira masih tampak rapi meski sesekali Hanif membiaskannya agar menjatuhkan pasirnya.


Rosy dan Nawa memalingkan pandangannya . Menyaksikan ketampanan Hanif meski disela-sela air kotor yang menyelimutinya. Sedangkan Aqila masih terduduk ditanah masih kaget dengan apa yang terjadi padanya. Sesekali ia melepaskan rerumputan yang tersangkut dirambutnya.


"Awww..." lirihnya

__ADS_1


Aqila memasang wajah yang marah dan masam. Cemberut membuat pipinya sedikit menggembung terasa ingin meluapkan amarahnya.


__ADS_2