
Hari-hari telah berlalu cepat . Hanif mulai menguatkan hatinya dengan niat yang teguh dan fokus pada dua tujuan. Ia sadar bahwa keluarga Aqila menyekolahkannya disini tidak lain hanyalah untuk menjaga dan melindungi anaknya. Rasanya iri bisa mendapat perlakuan seperti itu. Namun apalah daya. Ia harus menyeimbangkan waktunya. Di sisi lain , ia harus fokus dengan pelajarannya. Karena sebentar lagi , ulangan semester akan tiba.
Dari sudut ruangan , terlihat Hanif menutup kitab Al-Qur'an yang baru saja ia baca. Hati yang risau dan penuh penekanan kembali jernih dengan pikiran yang damai.
Mentari mulai menampakkan dirinya malu-malu. Remaja lelaki itu , sengaja membuka dan mengikat tirainya sedikit , agar cahaya mentari bisa terlihat olehnya.
Menghela nafas , " Alhamdulillah. Aku siap untuk menjalani hari-hariku seperti biasa. Ya Allah , terima kasih . Engkau masih memberiku nafas untuk mewujudkan beberapa impianku yang masih belum terwujud. Teguhkanlah hati ini untuk menghadapi segala rintangan yang ada. Aamiin... Allahumma... Aamiin ."
Ia mulai membereskan sajadah miliknya . Kemudian bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Seperti tugas yang ada , ia harus menjemput Aqila dan pergi ke sekolah bersama-sama.
Melihat jam , " Alhamdulillah baru pukul 06.00" ucap Hanif dengan gembira.
Ia mulai menjalankan motor dengan kecepatan sedang. Setelah beberapa lama menempuh perjalanan , akhirnya ia tiba pada gerbang rumah Aqila. Dengan suara keras, ia mengucapkan salam . Pikirnya agar orang di dalam akan mendengarnya.
Setelah beberapa kali ia mengucapkan salam , akhirnya mama Aqila datang dan membuka pintu gerbang.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum , Mah" ucap hanif saat melihat mama Aqila datang.
" Wa'alaikumussalam. Dari tadi ya?" tanya Mama Aqila.
" gak kok... baru aja tiba" jawabnya dengan tersenyum kecil.
" oh... silahkan masuk. Aqila masih tidur."
" tunggu dulu ya.... " lanjutnya
Berulang kali , hanif melihat jam tangannya. Waktu berputar begitu cepat. Matahari mulai meninggi. Jam sudah menunjukkan pukul 06:45 .
"Entah apa yang dia lakukan.... " batin hanif.
Selang beberapa lama kemudian , Aqila keluar dengan tas yang sudah ia gantungkan di lengannya. Ya , dia sangat mementingkan fishion.
Menggeleng-gelengkan kepala , " Ayo berangkat...." ucap hanif sedekit kesal.
__ADS_1
Tak ada jawaban yang diberikan Aqila. Ia hanya mengikut dari belakang dengan pandangan yang datar. Mungkin saja , setelah apa yang dia lalui ini sangat menyedihkan.
Mereka ke sekolah seperti biasa . Dalam perjalanan , Hanif dan Aqila tetap menjaga jarak dengan buku paket yang mengantarai.
Buummm....
Tiba-tiba suara bunyi ledakan membangunkan suasan yang semula sepi. Aqila berteriak sejadi-jadinya.
" Aaaaaah!!! apa yang terjadi?. Tembakan senapan?. Apakah ada demo sepagi ini?" teriak Aqila dengan menutup kedua telinga.
Hanif menghentikan motornya dan menatap ke sekeliling. Apa yang terjadi?. Suasana masih sepi. Tapi , jelas sekali ada suara ledakan disini. Apakah ini jebakan?.
"Semoga saja , kami masih dalam lindunganmu Ya Allah. " batin Hanif yang tak henti untuk berdoa.
Ya , selang beberapa waktu lalu terjadi kejadian yang tak diinginkan. Demo besar-besaran di beberapa wilayah tampak mengunci suasana. Bahkan ada pula , orang yang hilang nyawanya akibat senapan yang menembus otak kanannya. Itu terjadi secara tiba-tiba. Sedang posisi saat itu masih sepi dan berada di perjalanan yang masih di kelilingi hutan.
Orang itu telah di renggut nyawanya secara tiba-tiba. Ia jatuh dengan lampiasan darah membasahi aspal hitam. Mata yang masih terbuka belum menerima kepergiannya. Itulah yang sedang di pikirkan Hanif dan Aqila. Apakah mereka akan menjadi korban selanjutnya?.
__ADS_1