
Motor beat berwarna hitam berjalan dengan perlahan menyusuri jalan yang lurus. Hanif menerawang sekitarnya mencari seseorang yang ada dipikirannya saat ini. Tiba-tiba matanya terhenti pada seorang gadis yang berjalan setengah berlari . Hanif segera mempercepat jalannya motor dan berhenti pada gadis yang dilihatnya tadi.
"Aqila???" tanya Hanif
Mendengar suara motor dan panggilan yang tiba-tiba , membuat Aqila refleks memukul Hanif dengan tamparan pedis pada helmnya.
(Puukk...Puukkk...Puukk) bunyi pukulan dari Aqila pada helm yang dikenakan Hanif.
"Berani-beraninya ya kamu!!!" ringis Aqila yang terus memukulinya
"Arrgggh...Aqila... saakitt...ini aku Hanifff" gumamnya sembari menutupi helm yang dikenakannya dengan tangan
Mendengar penjelasan Hanif , Aqila langsung menghentikan pukulannya.
"hikkss...buang-buang tenaga aja" lirihnya
"Aqila...naik. Kita ke sekolah bareng" ajak Hanif yang masih menduduki motor
"Apaan sih...sok-sok'an banget ya...itu motor aku!!!" bentak Aqila
" I-iya tauu...tapi mamah kamu percayain motor ini sama aku...mulai sekarang aku yang antar jemput kamu" jelas Hanif
" Bodoh Amat!!!" jawab Aqila yang langsung berjalan meninggalkan Hanif
Melihat Aqila yang menjauhinya, dengan cepat hanif mendekatinya lagi.
" Aqilaaa...naikk...emangnya kamu mau jalan?" tanya Hanif dengan lemah lembut
" Tau , ah"
"Sekarang udah jam 06:40 , kamu masih mau jalan?" tanya Hanif lagi
"Lagian apel jam 07:00!!!" jawabnya dengan intonasi tinggi
__ADS_1
"ouhh gituu...jadi beneran gak mau naik nih???"
"I-ya..." balas Aqila sedikit ragu
"Ya..udah aku pergi aja duluan ya?"
Sebenarnya Hari ini adalah hari pertama Hanif bersekolah. Ia sama sekali tidak tau dimana letak SMA yang ditujunya. Tapi, ia berusaha menutupi rasa ketidaktahuannya dengan sedikit mengganggu Aqila . Ya , sedikit trik yang membuat orang bimbang.
Hanif mulai menarik gas motor dan beranjak pergi meninggalkan aqila dengan perlahan . Sebab yang dipikirnya adalah pasti Aqila akan merengek dibelakangnya.
(Bruummmmm)
" Haaaniiffff!!!!!" teriak Aqila dengan kuat.
Berulang kali aqila menghentakkan kakinya pada aspal dengan keras dan kemudian mengambil batu kerikil disisi jalan untuk dilemparkan pada hanif.
Sedangkan Hanif yang mendengar rengekan dari Aqila , ia hanya tersenyum kecil berusaha untuk menahan tawaannya.
(Bruuukkkk) lemparan batu kerikil tepat mengenai helm bagian depan Hanif.
Syok , yaa..baru saja ia menahan tawanya tapi harus berhadapan dengan lemparan keras yang membuat dirinya tersontak kaget.
Dengan cepat Hanif mengerem motornya. Syukur saja , suasana jalan saat ini sedang sepi.
Hanif melihat Aqila yang semakin marah didepannya.
Datang atau tidak ya?. Kalau datang jangan sampai dia memukulku. Kalau tidak , dia akan melemparku. batinnya
Namun apalah daya seorang lelaki yang sedang menghadapi wanitanya yang sedang marah. Lambaian tangan Aqila memecahkan lamunannya seakan memberi isyarat untuk datang menjemputnya.
Hanif kembali menjalankan mesin motornya mendekati Aqila. Jantung yang berdegup kencang tak mengetahui apa yang akan dilakukan gadis yang sesadis itu.
Tapi , tak ada penolakan . Aqila langsung duduk dibelakangnya. Hanif kaget.
__ADS_1
"A-Aqila..." ujarnya
" Apa!!!...jalan sekarang!!!"
" o-oke..tapi?"
" Hiksss..tapi Apa lagi hah?!"
"Bisa mundur kebelakang? atur jarak...kita bukan mahram" ucapnya yang berusaha mengatur jarak
Ya , hanif sudah didik bertahun-tahun lamanya dipesantren. Membonceng seorang wanita adalah pertama kali yang ia lakukan.
" ouhh jadi..kamu pengen aku jatuh ke bekakang?!"
" Gak...bukan begitu" belum sempat hanif melanjutkan kalimatnya , Aqila sudah memotongnya
" Kamu yang maju sanaah!!!" bentaknya yang mendorong Hanif maju kedepan
Merasa pendorongan dari belakang , dengan segera hanif maju kedepan berusaha mengatur jarak.
" Maju lagi..." pinta Aqila yang mencari kesempatan dalam kesempitan
Ia terus menyuruh hanif untuk duduk didepang hingga sampai pada ujung
jab motor.
Hanif menelan salivanya. Tak pernah terbayang posisinya mengendarai motor hampir setara dengan para pembalap yang harus duduk setengah jongkok .
" Ya...begitu..Ayo jalan!" pinta Aqila dengan berusaha menahan tawaanya
Remaja lelaki itu hanya menuruti apa yang dikatakan Aqila.
Saat memasuki jalan yang ramai , pandangan orang-orang tertuju pada sepasang remaja itu. Merasa malu akan suasana sekitarnya , Hanif segera menurunkan kaca helmnya. Sedangkan Aqila hanya tertawa kecil dibelakang.
__ADS_1