
*Evan, bertahanlah. Petir kali ini, akan jauh lebih kuat dari pada ke tiga petir sebelumnya. Rasa sakit yang sebelumnya kamu rasakan tidak akan sebanding dengan rasa sakit kali ini* kata Elemen Petir.
*Kakak Petir tenang saja. Aku sudah siap!" kata Evan dengan keyakinan kuat.
Kemudian Petir Ungu yang sudah berkumpul di pusaran awan, seketika menyambar dan menghantam tubuh Evan dengan sangat kuat.
Evan merasakan tubuhnya akan meledak. Energi petir ungu mengalir deras ke seluruh tubuh dan aliran darahnya. Matanya berdarah dan mengeluarkan cahaya ungu. Sensasi terbakar menjalar ke seluruh tubuhnya dengan sangat gila.
"Aagh...." suara Evan merintih menahan kesakitan. Dan tanpa disadari olehnya, kendali Api Ajaib mulai terganggu dan redup dengan perlahan.
*Evan, kendalikan dirimu. Kamu tidak boleh kehilangan konsentrasi di saat-saat terakhir seperti ini. Kamu harus bertahan sebentar lagi!* kata Elemen Petir mencoba membangunkan Evan dari rasa sakit.
Mendengar suara Elemen Petir yang mencoba membangunkan dirinya, Evan segera bangun dan menstabilkan Api Ajaibnya. Beberapa kali kedipan menghilangkan cahaya ungu yang ada di matanya.
"Sialan, aku benar-benar hampir kalah dari Petir gila ini!" ucap Evan merasa kesal.
Setelah kembali sadar dan menstabilkan Api Ajaib. Evan berhasil bertahan sampai Petir Ungu yang menyambar tubuhnya akhirnya menghilang dan lenyap.
"Hah, akhirnya aku berhasil!" ucap Evan sembari tersenyum melihat Pil Obat yang mengambang di atas Tungku Alkemis.
Sembari menghilangnya Api Ajaib, Pil Obat yang memiliki tujuh warna tersebut terbang ke arah Evan dan berakhir di atas tangannya.
*Selamat Evan. Kau tidak hanya berhasil menciptakan Pil tingkat suci dengan kualitas sempurna. Tapi juga berhasil meningkatkan kekuatan ragamu menjadi tingkat empat. Baru pertama kali aku melihat, seorang tingkat Kaisar Emperor berhasil menciptakan Pil tingkat suci. Bahkan dengan kualitas sempurna. Ini adalah kejadian yang sangat langka dan jarang ditemui* kata Elemen Petir. Dan Evan tersenyum mendengarnya.
******
Sementara itu di waktu yang sama. Di luar ruangan Alkemis. Cuaca yang gelap kembali terang. Awan gelap yang menutupi langit perlahan memudar dan menghilang.
"Sepertinya Rintangan Pil sudah selesai. Tidak tahu, apakah Evan berhasil bertahan atau tidak. Sekarang, ayo kita lihat keadaan Evan!" kata Tetua Obat pada Tetua Xianyi.
Kemudian mereka berdua kembali masuk ke dalam ruang Alkemis untuk melihat keadaan Evan. Tetua Xianyi berjalan mengikuti Tetua Obat.
Setelah kembali masuk ke ruang Alkemis. Tetua Xianyi dan Tetua Obat merasa sangat terkejut melihat keadaan Evan. Dari belakang, tampak punggung Evan yang terbakar dan dipenuhi garis-garis retakan berwarna ungu.
"Evan!" panggil Tetua Xianyi dan Tetua Obat bersamaan.
"Tetua?" Evan memutar badan dan melihat ke arah mereka.
"Kau!...." Tetua Xianyi tersendat. Perasaan sedih membuatnya bingung harus berkata apa kepada Evan. Dan tanpa sadar air mata perlahan mengalir keluar dari matanya.
__ADS_1
Melihat reaksi Tetua Xianyi setelah melihat keadaannya, kemudian Evan menghela nafas dan tersenyum.
"Tetua Xianyi tenang saja. Aku tidak apa-apa. Aku juga berhasil membuat Pil obatnya. Sekarang kita bisa menyelamatkan nyawa Nenekku" kata Evan menunjukan Pil Obat yang ada di atas telapak tangannya.
Tetua Xianyi dan Tetua Obat terkejut. Mereka diam. Namun di hati mereka merasa sangat senang.
"Sekarang ambillah ini. Dan berikan pada Nenekku!" lanjut Evan.
Mendengar itu Tetua Xianyi dan Tetua Obat segera menghampiri Evan. Dan kemudian mengambil Pil Obat dari tangannya.
"Terima kasih!" ucap Tetua Xianyi. Dan Evan pun tersenyum mendengarnya.
Setelah mendapatkan Pil Obat, Tetua Xianyi segera pergi meninggalkan ruang Alkemis. Sedangkan Tetua Obat tetap tinggal untuk menjaga Evan.
"Apakah ada sesuatu yang bisa aku bantu?" tanya Tetua Obat.
"Tolong, bantu aku untuk menjaga pintu agar tetap tertutup. Aku ingin memulihkan kondisi tubuhku," kata Evan. Dan Tetua Obat tersenyum sambil mengangguk pelan.
Kemudian setelah Tetua Obat keluar dari ruangan Alkemis dan menutup pintu, Evan memfokuskan diri untuk memulihkan luka yang ada di seluruh tubuhnya.
Dalam ruangan tertutup dan tidak ada siapapun yang menggangu, Evan dengan tenang memulihkan kondisi tubuhnya yang penuh luka bakar.
*******
Sementara itu di waktu sama. Di penginapan yang ada di Sekte Puncak Dewi Putih. Sea Lin dan Tang Chen sama sekali tidak bisa tenang menunggu kembalinya Evan. Apalagi, setelah melihat adanya fenomena awan gelap yang baru saja terjadi.
Tang Chen berjalan mondar-mandir di depan pintu masuk penginapan. Sedang Sea Lin dengan perasaan gelisah hanya duduk diam melihatnya dari belakang
"Evan, sialan. Bukankah katanya, dia akan segera kembali? Kenapa sampai sekarang belum muncul batang hidungnya?" kata Tang Chen sembari berjalan mondar-mandir tanpa henti.
"Bersabarlah. Mungkin besok, Kakak Besar akan kembali. Dia tidak mungkin akan melupakan kita!" kata Sea Lin mencoba menenangkan Tang Chen.
"Bersabar? Tidakkah kamu lihat awan petir barusan? Takutnya bocah itu sudah mati tersambar petir!" kata Tang Chen.
Mendengar ucapan Tang Chen. Sea Lin yang sedari tadi menahan diri, seketika merasa kesal dan menembakkan serangan kecil yang langsung memotong beberapa helai rambut Tang Chen.
Tang Chen merasa terkejut dengan beberapa potong rambut yang terbang di depan wajahnya.
"Kamu boleh tidak sabar. Tapi jangan ucapkan sesuatu yang buruk dengan mulut terkutuk mu itu. Jika tidak, akan aku paksa kau untuk diam dengan merobek mulutmu!" ucap Sea Lin dengan tatapan dingin menatap Tang Chen satu sama lain.
__ADS_1
Tang Chen berbalik badan dan tersenyum menatap Sea Lin yang baru menyerangnya dari belakang. Mata mereka saling menatap.
"Baiklah, baiklah! Karena kamu sangat peduli pada Kakak Besar kamu itu, aku tidak akan berbicara buruk mengenai dirinya lagi!" kata Tang Chen mengalihkan tatapannya sembari memutar badan.
Setelah memutar badan membelakangi Sea Lin, tiba-tiba Tang Chen menjadi tenang tak bersuara. Bahkan Sea Lin yang sedang memandangnya dari belakang menjadi heran.
*Orang ini kenapa tiba-tiba jadi diam?* batin Sea Lin merasa tak nyaman.
"Hei Tang Chen, apakah kamu marah?" tanya Sea Lin merasa bersalah.
"Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu!" jawab Tang Chen tanpa menoleh.
"Oh, tidak biasanya kamu memikirkan sesuatu. Memang, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Sea Lin merasa penasaran.
"Bukan apa-apa. Hanya sesuatu yang membuat hatiku merasa sangat sedih!"
"Apakah mengenai Yuna?"
"Bukan!" Tang Chen menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Jika bukan Yuna, apa yang membuatmu sampai bersedih? Tidak biasanya kau murung begitu!" kata Sea Lin benar-benar merasa heran.
"Sea Lin, bisakah kau berjanji satu hal padaku?" pinta Tang Chen sembari menghadap ke arah Sea Lin.
"Berjanji satu hal padamu?" Sea Lin merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Tang Chen.
"Yah, berjanjilah padaku. Jangan pernah tinggalkan Evan seorang diri apapun yang terjadi!" pinta Tang Chen dengan ekspresi menyimpan banyak kesedihan.
Sea Lin yang mendengar permintaan Tang Chen merasa terkejut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
......................
......................
__ADS_1
......................