
Setelah beberapa saat kemudian, wanita itu kembali untuk memanggil Evan, Sea Lin dan Tang Chen. Ia berjalan menghampiri mereka.
"Ketiga Tuan Muda silahkan ikuti aku. Aku akan membawa kalian menemui Nyonya di lantai teratas!" kata wanita tersebut memimpin jalan.
Mendengar itu, Evan dan kedua temannya saling memandang satu sama lain, dan kemudian berjalan mengikuti wanita tersebut.
Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di lantai teratas Gedung Baiyuan. Setelah sampai di lantai teratas Gedung Baiyuan, mereka dihadapkan pada sebuah pintu ruangan rahasia yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga wanita.
"Ketiga Tuan Muda, Saya hanya bisa mengantar kalian sampai ke sini. Aku tidak bisa masuk ke dalam bersama kalian!" kata Wanita tersebut.
"Baiklah, tidak apa-apa!" kata Evan.
"Kalau begitu, Saya mohon undur diri!" kata Wanita tersebut dan kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.
Setelah wanita tersebut pergi, kemudian Para Penjaga wanita tersebut membuka pintu ruangan dan mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk. Dan saat mereka bertiga telah masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka melihat seorang wanita yang sedang berbaring di atas ranjang besar yang tertutupi oleh tirai yang sedikit transparan.
"Kamu datang ke sini pasti sudah tahu aturannya, bukan?" kata wanita itu tanpa menunjukkan dirinya.
"Tentu saja, aku tahu aturannya. Yah, memang sangat disayangkan. Token bernilai satu juta hangus begitu saja. Tapi, kalian berani melakukan trik seperti ini dihadapan ku? Apakah kau mengira aku tidak tahu?!" kata Evan menatap wanita yang ada di balik tirai dengan niat membunuh.
Merasakan niat membunuh yang sangat kuat, Wanita yang ada di balik tirai itu merasa terkejut dan berkeringat ketakutan.
Melihat Evan mengeluarkan niat membunuh, Para Penjaga segera masuk ke dalam kamar dan mengarahkan ujung senjata ke arah Evan dan kedua temannya.
Namun walaupun leher telah berada di ujung senjata, Evan, Sea Lin dan Tang Chen tetap tenang tanpa menunjukkan ekspresi.
"Kalian semua turunkan senjata kalian. Kalian tidak akan bisa mengalahkan mereka!" kata wanita tersebut kepada para penjaganya.
Mendengar perintah tersebut, para penjaga segera menurunkan senjata mereka. Setelah para penjaga tersebut menurunkan senjatanya, wanita yang ada di balik tirai akhirnya keluar dan menunjukkan dirinya.
Dengan pakaiannya yang berwarna merah muda, wanita tersebut terlihat sangat cantik dan menawan. Walau hati merasa takut, wanita tersebut mencoba memberanikan diri untuk berdiri di hadapan Evan.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Jika kalian hanya menginginkan informasi, aku bisa memberitahu kalian semuanya!" kata wanita tersebut.
"Kamu berhenti berpura-pura. Bawa kami ke tempat wanita tua itu. Jika kalian berani mencoba membodohi kami sekali lagi, hari ini Gedung Baiyuan akan lenyap dari Ibukota!" kata Evan mengancam wanita tersebut.
"Kalian berani mengancam Gedung Baiyuan? Kalian pikir kalian siapa? Apakah kalian pikir, Gedung Baiyuan akan takut kepada kalian?" kata Wanita tersebut.
__ADS_1
Namun tanpa berbicara sepatah kata Evan langsung menampar wajah wanita tersebut hingga tersungkur ke lantai.
"Siapa kami tidak penting. Kamu hanya perlu membawa kami ke tempat wanita tua itu. Jika kamu berani berbicara satu kata lagi, akan aku buat kau tidak bisa berbicara selamanya!" kata Evan dengan tatapan kejamnya.
"Kalian...., Apakah kalian tahu sedang berurusan dengan siapa? Jika pemilik Gedung Baiyuan yang sebenarnya tahu ada yang berbuat kacau di tempatnya. Kalian bertiga pasti mati!" kata Wanita tersebut memarahi mereka bertiga.
"Sepertinya kau memang banyak bicara, yah?" kata Evan sembari tersenyum menyeringai. "Sea Lin, penggal yang lainnya!"
"Siap, Kakak Besar!" kata Sea Lin dan kemudian mengayunkan tangannya yang diselimuti energi Kegelapan dengan sangat cepat.
Para penjaga tidak sempat bereaksi, hingga akhirnya kepala mereka terpisah dari tubuh mereka.
Kepala dan tubuh para penjaga jatuh kelantai dengan berlumuran darah. Darah mereka mengalir dan tergenang di lantai.
Melihat para penjaganya telah mati di bunuh, wanita tersebut melihat Evan dengan tatapan mata penuh ketakutan.
"Sekarang, bisakah kau membawa kami ke tempat wanita tua itu?" kata Evan mendekatkan wajahnya ke hadapan wanita tersebut.
"Baik..., Baik...., Aku akan membawa kalian ke tempat Nyonya!" kata wanita tersebut dengan penuh rasa takut melihat tatapan Evan.
Setelah wanita itu setuju, kemudian wanita tersebut pun mengantar Evan, Sea Lin dan Tang Chen ke tempat Nyonya Gedung Baiyuan yang sebenarnya.
"Tang Van, tidakkah kamu merasa bahwa dirimu itu terlalu kejam? Kamu menampar wajah wanita secantik itu sampai tersungkur ke lantai. Jika wajah secantik itu sampai rusak, bukankah akan sangat disayangkan?" kata Tang Chen.
"Jika kamu merasa wajah wanita itu cantik, maka menikahlah dengannya. Jadi Adik Ipar ku tidak perlu menikah dengan bajingan seperti dirimu!" kata Evan.
"Kamu jangan bicara sembarangan. Aku hanya mengatakannya cantik, bukan ingin menikahinya. Dan satu lagi, walaupun aku memang bajingan tetapi aku tidak separah dirimu, bukan?" kata Tang Chen sembari tersenyum mengejek.
Melihat senyum Tang Chen yang sedang meledeknya, seketika membuat Evan merasa kesal dan tidak bisa berkata-kata.
"Tang Chen, apakah kamu benar-benar ingin mati?" kata Evan mengepalkan tangannya.
"Bukankah kamu yang mulai duluan? Kenapa malah kamu yang marah?" ujar Tang Chen.
Sementara Evan dan Tang Chen saling bertengkar, Sea Lin yang melihat mereka dari belakang hanya menghela nafas sembari memegang jidatnya.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka berempat sampai di depan sebuah pintu kayu di ujung lorong.
__ADS_1
"Apakah kita sudah sampai?" tanya Tang Chen.
"Belum. Tempat wanita tua itu berada masih jauh di bawah tanah!" jawab Evan.
"Tuan Muda, sepertinya Anda banyak mengetahui tentang Gedung Baiyuan. Apakah Anda pernah datang ke sini?" tanya wanita itu kepada Evan.
"Tidak pernah!"
"Tidak pernah? Kalau begitu, bagaimana Tuan Muda bisa mengetahui kalau tempat tinggal Nyonya ada di bawah tanah?" tanya wanita itu merasa heran.
"Aku diberitahu oleh seseorang" jawab Evan. "Sudah, jangan bertanya lagi. Cepat, buka pintunya!" lanjut Evan memberi perintah kepada wanita itu.
Mendengar perintah Evan, wanita itu segera membuka pintu kayu tersebut. Dengan meletakkan telapak tangannya di papan itu dan membaca beberapa kalimat mantra, wanita itu menghilangkan suatu segel yang terdapat pada pintu kayu tersebut.
Setelah segel menghilang, pintu kayu tersebut pun terbuka. Dan setelah pintu kayu terbuka, tampak sebuah tangga panjang menuju bawah tanah.
"Oh, astaga. Apakah tangga ini menuju lubang neraka? Mengapa gelap sekali?" ujar Tang Chen sembari melihat kegelapan yang ada di lorong tangga.
Kemudian Evan menjentikkan jarinya, dan mengeluarkan api kecil yang cukup terang untuk menerangi jalan mereka.
"Apakah sudah cukup terang?" tanya Evan melihat Tang Chen dengan tatapan remeh.
"Sialan, apa maksudnya tatapan matamu itu? Apakah kamu sedang meremehkan aku? Aku hanya bilang gelap, bukan takut!" kata Tang Chen merasa kesal dengan cara Evan menatap dirinya.
Melihat Tang Chen yang merasa kesal dengan ucapannya, Evan tersenyum senang dan tertawa.
"Baiklah, ayo kita turun. Jika ada seseorang yang takut karena gelap, maka tinggalkan saja. Apakah kamu mengerti, Tang Chen?" kata Evan.
"Aku sangat mengerti, bajingan!" jawab Tang Chen benar-benar merasa sangat kesal dan geram kepada Evan.
Kemudian dengan cahaya api yang ada di ujung jari Evan, mereka berempat segera berjalan menuruni tangga. Suara kaki menapak terdengar jelas di kesepian lorong tangga yang dipenuhi kegelapan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
__ADS_1
......................