
"Maaf, aku tidak bisa memberitahu kalian bagaimana aku bisa ada di sini. Karena Istriku sedang menungguku, aku harus segera pergi dari sini. Jadi kalian semua matilah dengan cepat!" kata Evan sembari merubah kekuatan Elemen yang ada di tubuhnya menjadi Elemen Kegelapan.
Evan maju menyerang dengan Elemen Kegelapan yang menyelimuti tubuhnya, sedangkan Li Zao hanya berdiri diam melihat Evan membantai semuanya.
Dengan Pedang yang terus memotong-motong tubuh para prajurit tersebut, Evan pun mengeluarkan Aura Kegelapan miliknya untuk menyerap semua mayat yang berjatuhan.
Tidak butuh waktu lama, hanya dalam beberapa saat Evan telah menghabisi seluruh prajurit yang ada di dalam Gua. Tidak ada mayat yang tersisa. Yang ada hanya bekas darah dan armor tebal yang berserakan.
Li Zao yang melihat itu hanya berdiri diam sambil tidak bisa berkata-kata. Apa yang dia lihat membuat dirinya mulai bertanya-tanya dalam hatinya.
*Apakah dia benar-benar Evan??* batin Li Zao dengan keringat penuh di wajahnya.
Disisi lain, Evan yang telah menyelesaikan pertarungan nya, kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Li Zao yang sedang termenung melihatnya.
"Kak Zao!" panggil Evan.
"Ya?" saut Li Zao langsung tersadar.
"Ayo! kita harus bergegas pergi dari sini, sebelum para prajurit lainnya datang!" kata Evan mengajak.
"Kamu benar, Ayo kita pergi!" kata Li Zao yang kemudian mengikuti Evan.
Sesaat kemudian Evan dan Li Zao akhirnya sampai ke tempat Ruyin dan Yuna berada. Namun alangkah terkejutnya Evan dan Li Zao saat melihat Ruyin dan Yuna telah di sandera oleh tiga orang berjubah hitam.
Terlihat salah seorang pria berjubah hitam sedang mencekik leher Yuna, sedangkan dua orang pria berjubah hitam lainnya menyandera Ruyin yang sedang pingsan di belakang mereka.
Evan yang melihat hal tersebut kemudian mengeratkan giginya dengan perasaan geram.
"Sial, aku ceroboh!" gumam Evan.
"Apakah kalian terkejut? Kalian tidak mengira akan menjadi seperti ini, bukan?" ucap salah seorang pria berjubah hitam kepada Evan dan Li Zao. Pria tersebut terlihat mencengkram leher Yuna dengan cukup kuat.
"Kak Evan, maaf, aku tidak bisa melindungi Kakak!" ucap Yuna yang kemudian pingsan setelah kehabisan nafas.
"Kalian bertiga lepaskan ke dua wanita itu! Jika tidak....."
__ADS_1
"Jika tidak memangnya kenapa? Apakah kalian akan membunuh kami? Jangan kalian kira kami ini bodoh, sialan!" kata Pria berjubah hitam tersebut memotong kalimat Evan.
"Jika kalian tidak ingin kedua wanita ini mati, maka patuhi perintahku!" lanjut Pria berjubah hitam tersebut mengancam Evan dan Li Zao.
Namun dengan tatapan penuh amarah, Evan sama sekali tidak takut terhadap ancaman tersebut.
"Bunuh!" ucap Evan dengan mata menatap tajam ke arah ke tiga Pria Berjubah Hitam tersebut.
Mendengar ucapan Evan, sontak membuat Li Zao dan Pria Berjubah Hitam tersebut merasa terkejut.
"Hei bajingan, apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Jika kalian tidak mendengarkan perintahku, kedua wanita ini akan mati di tanganku!" kata Pria Berjubah Hitam tersebut kembali mengancam Evan dan Li Zao.
"Cepat bunuh mereka!" kata Evan seakan memberi perintah dengan amarah.
"Apa!? Apa yang kau......" Pria Berjubah yang hendak berbicara seketika terkejut saat melihat sebilah pedang menembus tubuhnya dari belakang.
Dengan mulut yang kesulitan untuk mengeluarkan suara, Pria Berjubah Hitam tersebut kemudian berusaha untuk menoleh ke belakang.
Namun belum sempat dirinya melihat siapa yang menusuknya dari belakang, Pria Berjubah Hitam tersebut kemudian terjatuh sembari melepaskan leher Yuna dari cengkraman tangannya.
Pria Berjubah Hitam tersebut melangkah mundur menjauhi rekannya tersebut dengan wajah ketakutan.
"Maaf, aku belum ingin mati!" ucap si Rekan dan kemudian membunuh Pria Berjubah Hitam tersebut dengan satu tusukan pedang.
"Ka..,kau..., dasar..., pengkhianat!" ucap Pria Berjubah Hitam tersebut dengan mulut mengalir darah.
Segera setelah si Rekan menarik pedangnya, kemudian Pria Berjubah Hitam tersebut jatuh tersungkur ke tanah dengan penuh darah.
Sementara itu di sisi lain, Li Zao tampak sangat bingung dengan apa yang terjadi.
"Aku sudah membunuh mereka, jadi bisakah kau melepaskan aku, Evan?" pinta si Rekan sembari membuka penutup kepala yang menutupi wajahnya.
Terlihat wajah yang sangat familiar di mata Evan. Orang yang tiba-tiba menghilang setelah tragedi Pembantaian di Sekte Matahari Merah tiga tahun lalu. Dia adalah salah satu murid terbaik Sekte Matahari Merah, serta lawan yang menyerah saat Kompetisi Murid Dalam Sekte Matahari Merah. Dia adalah Wu Zhou.
"Walaupun aku sudah menduganya, aku tetap tidak menyangka aku masih tetap terkejut saat melihatmu benar-benar menjadi prajurit Kerajaan Xiao, Wu Zhou!" kata Evan.
__ADS_1
Mendengar perkataan Evan, Wu Zhou hanya diam tanpa suara.
"Sebenarnya aku harus membunuhmu karena telah mengkhianati Sekte. Tapi karena kamu sudah melepaskan kedua wanita itu, maka kali ini aku akan melepas dan membiarkan kamu hidup. Tapi ingatlah, aku melepaskan kamu untuk sekali ini saja. Jika di lain hari nanti aku masih melihatmu sebagai musuh, maka aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" kata Evan mengampuni dan memperingati Wu Zhou.
"Terima kasih karena telah melepaskan diriku. Kalau begitu, sekarang aku akan pergi!" kata Wu Zhou yang kemudian berbalik badan.
"Tunggu! Sebelum pergi bisakah kamu menjawab satu pertanyaan ku?" pinta Evan.
Wu Zhou yang ingin melangkah pergi, kemudian menahan langkahnya dan menunggu pertanyaan Evan.
"Kenapa kamu lebih memilih bergabung dan memihak pada Kerajaan Xiao? Mengapa kamu tidak pergi bersama kami pada saat itu?" tanya Evan.
"Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu. Aku punya alasanku sendiri. Dan aku punya satu pesan untukmu, berhati-hatilah, musuh yang ingin kamu lawan sangatlah berbahaya!" kata Wu Zhou dan kemudian langsung melangkah pergi meninggalkan Gua.
Evan yang mendengarkan peringatan Wu Zhou hanya diam. Sedangkan Li Zao yang berdiri di sampingnya masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
"Evan, apakah kamu mengenal siapa pria itu? Kalian berdua terlihat cukup akrab!" kata Li Zao bertanya kepada Evan.
"Dia teman tapi juga musuhku!" jawab Evan.
"Teman dan musuh?" tanya Li Zao semakin merasa bingung mendengar jawaban Evan.
"Maaf, Kak Zao. Bukan aku tidak ingin menjawab pertanyaan mu, tapi sekarang yang lebih penting adalah membawa Ruyin dan Yuna keluar dari sini sebelum para prajurit lainnya datang!" kata Evan.
"Baiklah, tapi setelah ini kamu harus menjelaskan kepadaku semua yang terjadi padamu selama ini!" kata Li Zao.
Kemudian dengan Evan membawa Ruyin dan Li Zao membawa Yuna, mereka segera pergi meninggalkan Gua Penyiksaan dan menuju kota.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
......................
......................
__ADS_1
......................