
Keesokan harinya di penginapan, Sea Lin, Tang Chen dan Bai Meng menunggu kereta kuda yang akan mengantarkan mereka ke pesta pernikahan di Istana.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kereta kuda yang mereka tunggu datang menghampiri mereka di depan gerbang Penginapan.
"Kak Tang Chen, Kak Sea Lin, ayo naik!" kata Bai Meng mengajak mereka.
Akan tetapi saat Bai Meng yang terlebih dahulu masuk ke dalam kereta, Bai Meng dikejutkan dengan Nyonya Baiyuan yang telah menunggu di dalam kereta.
"Ibu!?" sebut Bai Meng dengan ekspresi terkejut.
"Duduklah!" perintah Nyonya Baiyuan dengan suara lembut.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka semua sudah masuk ke dalam kereta kuda. Di dalam kereta kuda, tampak Sea Lin dan Tang Chen yang sedang menatap Nyonya Baiyuan yang duduk di samping Bai Meng.
"Bai Meng, bukankah seharusnya kita berangkat bertiga, mengapa sekarang malah jadi berempat? Dan siapa Tante ini?" tanya Tang Chen sembari melihat ke arah Nyonya Baiyuan yang sedang melihat ke luar jendela.
"Maaf, ini adalah Ibuku. Aku tidak tahu kalau Ibuku tiba-tiba akan ikut!" kata Bai Meng dengan suara pelan.
Mengetahui kalau wanita yang duduk di samping Bai Meng adalah Ibunya Bai Meng, yaitu Nyonya Baiyuan, Tang Chen dan Sea Lin seketika merasa terkejut.
"Tante ini Ibumu?" tanya Tang Chen dengan suara pelan.
Tanpa mengeluarkan suara Bai Meng menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
Setelah melihat Bai Meng mengangguk, Sea Lin dan Tang Chen kembali mengalihkan pandangannya ke wajah Nyonya Baiyuan yang sedang menatap ke luar jendela.
*Sial, mengapa Ibunya Bai Meng tiba-tiba ikut? Padahal ini adalah kesempatan yang bagus untuk duduk di samping Bai Meng karena Evan tidak ada!* batin Tang Chen sembari menatap Nyonya Baiyuan dengan tatapan penuh kesal.
Namun di saat Tang Chen sedang serius menatap, tiba-tiba Nyonya Baiyuan menoleh dan melihat ke arahnya.
"Bocah, apa kau sedang menatap ku?" tanya Nyonya Baiyuan dengan ekspresi dingin.
"Ti....tidak, aku hanya melihat ke luar jendela!" kata Tang Chen menjawab dengan cepat.
Nyali Tang Chen yang biasanya bebas seakan dibuat menciut setelah melihat wajah Nyonya Baiyuan yang terlihat dingin dan tidak mudah diajak bicara.
__ADS_1
*Sial, melihat dari wajahnya saja aku sudah tahu, Ibu Bai Meng ini tidak bisa diajak main-main!* batin Tang Chen berbicara dalam hati.
Setelah menatap Tang Chen dengan ekspresi dinginnya, kemudian Nyonya Baiyuan mengalihkan pandangannya ke Bai Meng yang duduk di sampingnya.
"Kemana Bajingan kecil itu? Kenapa aku tidak ada melihatnya?" tanya Nyonya Baiyuan pada Bai Meng.
"Kak Evan sudah lebih dulu pergi ke Istana" jawab Bai Meng dengan patuh.
"Dia pergi sendirian?" tanya Nyonya Baiyuan lagi.
Bai Meng mengangguk pelan. "Ya, Kakak ingin mencari tahu lebih dulu dimana Istri dan Adik Iparnya di sekap. Setelah nanti kami membuat keributan di pesta untuk mengalihkan perhatian, Kak Evan akan langsung bergerak untuk menyelamatkan Istri dan Adik Iparnya!" jawab Bai Meng menjelaskan kepada Ibunya.
"Bajingan kecil itu sangat gegabah. Tapi aku akui, rencananya yang sederhana ini memang cukup bagus. Asalkan dia tidak ketahuan atau tertangkap, maka rencana ini akan berjalan dengan lancar!" kata Nyonya Baiyuan.
"Ibu tenang saja. Kakak pasti tidak akan ketahuan. Aku percaya Kakak!" kata Bai Meng sangat yakin.
"Semoga ucapan mu benar. Karena bagaimana pun jika rencana ini gagal, nyawa kamu bisa berada dalam bahaya karena dirinya!" kata Nyonya Baiyuan.
"Ibu tidak usah khawatir. Aku yakin, rencana kakak pasti berhasil!" kata Bai Meng mencoba meyakinkan Ibunya.
"Ibu ingin membantu?" tanya Bai Meng merasa terkejut dan heran dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya.
"Ya, tentu saja. Karena bagaimana pun, Ibu tidak bisa membiarkan putri kesayangan ibu berada dalam bahaya!" kata Nyonya Baiyuan.
Melihat Ibunya ingin memberikan bantuan, Bai Meng yang merasa senang seketika melupakan keberadaan Sea Lin dan Tang Chen dan langsung memeluk Ibunya.
Melihat Putrinya tiba-tiba memeluk dirinya, seketika membuat Nyonya Baiyuan merasa terkejut sekaligus senang.
"Terima kasih Bu. Ibu memang yang paling baik!" ucap Bai Meng membuat Nyonya Baiyuan merasa sangat senang mendengarnya.
Namun setelah Bai Meng sadar kalau ada Sea Lin dan Tang Chen di dalam kereta kuda tersebut, Bai Meng yang merasa malu segera melepaskan pelukannya pada Ibunya.
"Maaf Kak Sea Lin, Kak Tang Chen, tadi aku terlalu senang!" kata Bai Meng merasa malu.
"Tidak apa-apa. Tak usah merasa malu!" kata Sea Lin dan Tang Chen.
__ADS_1
Namun Nyonya Baiyuan yang merasa kalau keberadaan Sea Lin dan Tang Chen mengganggu kenyamanannya dengan Putrinya, kemudian memberikan tatapan tidak senang kepada Sea Lin dan Tang Chen.
Melihat tatapan mata Nyonya Baiyuan yang sangat mengintimidasi, seketika membuat Sea Lin dan Tang Chen merasa tertekan dan berkeringat dingin.
"Aku ingatkan, kalian berdua jangan salah paham. Aku memberikan bantuan bukan untuk kalian tetapi untuk putriku. Jadi kalian berdua harus berterima kasih kepada putriku, mengerti?" ujar Nyonya Baiyuan dengan ekspresi galaknya.
"Mengerti Bibi!" jawab Sea Lin dan Tang Chen dengan cepat.
"Jangan panggil aku bibi, aku bukan bibi kalian. Panggil aku Nyonya!" kata Nyonya Baiyuan.
"Mengerti Nyonya!" jawab Sea Lin dan Tang Chen dengan cepat dan patuh.
"Jika sudah mengerti kenapa tidak segera berterima kasih pada putriku?" ujar Nyonya Baiyuan.
"Sudahlah Bu. Kak Sea Lin dan Kak Tang Chen adalah teman Kakak. Ibu tidak boleh bersikap seperti itu kepada mereka!" ujar Bai Meng menahan Ibunya.
"Kak Sea Lin, Kak Tang Chen, maafkan sikap Ibuku. Ibuku memang sedikit kasar, tetapi sebenarnya hatinya sangat lembut!" lanjut Bai Meng meminta maaf kepada Sea Lin dan Tang Chen atas sikap Ibunya.
"Tidak apa-apa. Tidak perlu meminta maaf!" kata Sea Lin dan Tang Chen merasa kurang percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bai Meng.
Sekali lagi, Sea Lin dan Tang Chen semakin merasa terintimidasi oleh tatapan yang diberikan oleh Nyonya Baiyuan pada mereka.
Melihat Ibunya yang terlalu bersikap galak kepada Sea Lin dan Tang Chen, membuat Bai Meng yang berada di tengah-tengah mereka merasa canggung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...NAMA : EVAN LI...
...STATUS : PEMIMPIN DUA KERAJAAN (KERAJAAN MO DAN GU)...
...ELEMEN : API, KEGELAPAN, ANGIN, KAYU, PETIR, AIR, BUMI, LOGAM, RACUN, PASIR....
...TUBUH SPIRITUAL : KAISAR 12 ELEMEN ...
__ADS_1