
"Tang Chen, kau terlihat aneh hari ini. Apakah telah terjadi sesuatu padamu?" tanya Sea Lin dengan ekspresi serius.
Tang Chen diam sejenak. Dan kemudian menjawab : "Tidak ada!"
"Jika tidak ada, mengapa kamu berbicara aneh seperti itu? Apakah ada rahasia yang kamu sembunyikan dari kami?" tanya Sea Lin.
"Yah, memang ada rahasia yang aku sembunyikan dari kalian. Tapi kamu tenang saja. Aku tidak memiliki niat buruk apapun terhadap kalian semua. Jadi, bisakah kamu memenuhi permintaanku tadi?" pinta Tang Chen.
Sea Lin terdiam sejenak untuk sesaat. "Baiklah. Walau aku tidak tahu apa yang sedang kau rahasiakan, tapi aku bisa berjanji padamu. Selama aku masih bernafas, aku tidak akan pernah meninggalkan Kakak Besar apapun yang terjadi!" kata Sea Lin memenuhi permintaan Tang Chen.
"Baguslah, kalau begitu aku bisa sedikit tenang!" kata Tang Chen sembari tersenyum.
"Sebenarnya kamu tidak perlu membuat permintaan aneh seperti itu. Sebab sebelumnya aku telah berjanji padaku diriku sendiri. Bahwa selama aku masih bernafas, aku akan selalu menjadi orang yang paling setia kepada Kakak Besar!" kata Sea Lin. Dan Tang Chen tersenyum mendengarnya.
"Hmm, baiklah. Tidak usah bahas itu lagi. Sekarang, bagaimana jika kita minum?" Tang Chen mengeluarkan kendi araknya.
******
Keesokan paginya di ruang Alkemis. Perlahan Api Ajaib yang menyelimuti tubuh Evan perlahan lenyap dan menghilang. Seluruh luka bakar yang disebabkan oleh sambaran petir telah pulih sepenuhnya. Tubuh Evan telah pulih kembali seperti sedia kala.
Dengan perlahan Evan membuka kedua matanya. "Ah, akhirnya aku selesai!l. Sekarang waktunya menemui Nenekku!" kata Evan. Dan kemudian ia bangkit berdiri.
Setelah berganti pakaian, kemudian Evan berjalan menuju pintu.
Sementara itu di luar ruangan Alkemis. Tetua Obat merasa terkejut. Pintu yang sedang dijaganya terbuka.
Dari balik pintu tersebut, Evan keluar menyapa Tetua Obat yang menunggunya.
Mata Tetua Obat terbelalak kaget ketika melihat Evan yang telah pulih sepenuhnya.
"Bagaimana keadaan Nenekku? Apakah dia sudah bangun?" tanya Evan. Namun Tetua Obat yang masih merasa terkejut tidak menjawabnya.
"Kau, kau sudah pulih!?" tanya Tetua Obat tercengang.
"Ya" jawab Evan dengan singkat.
__ADS_1
Tetua Obat masih tercengang. Tidak percaya dengan kecepatan pemulihan Evan yang sangat cepat.
*Apakah Evan ini bukan manusia? Bagaimana mungkin lukanya yang begitu parah pulih dalam waktu satu malam?* batin Tetua Obat memandang wajah Evan dengan mata terbuka lebar.
"Tetua Obat?" panggil Evan membangunkan Tetua Obat dari rasa terkejutnya.
"Ah, yah. Pemimpin Sekte sudah bangun dari komanya. Karena kamu sudah pulih, aku akan mengantarmu bertemu dengannya!" kata Tetua Obat.
Kemudian Evan berjalan mengikuti Tetua Obat menuju kamar Pemimpin Sekte.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di depan pintu kamar Pemimpin Sekte. Tak sama seperti sebelumnya. Kedatangan Evan saat ini disambut dengan hangat oleh Para Tetua dan Murid Sekte Puncak Dewi Putih.
Tanpa menyapa Para Tetua dan Murid Sekte yang ada di sana, Evan langsung masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Neneknya.
Tentu saja, Evan seketika tersenyum bahagia saat melihat Neneknya telah bangun dari pembaringan. Pemimpin Sekte dan seisi ruangan tersenyum menatap kedatangan Evan yang telah lama di nanti.
Perlahan air mata Evan mengalir keluar, dan jatuh membasahi pipinya. Evan menangis. Namun dengan cepat Evan mengusap air matanya.
"Kenapa di usap?" tanya Pemimpin Sekte dengan lembut.
Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum kepada Evan.
"Kenapa harus malu?"
"Banyak orang"
Mendengar itu, kemudian semua orang yang ada dalam kamar tersebut keluar meninggalkan Evan dan Pemimpin Sekte.
Setelah semua orang keluar dari kamar, kemudian Evan membuka wajahnya.
"Kemarilah!" pinta Pemimpin Sekte sembari tersenyum hangat kepada Evan.
Tanpa ragu, Evan menghampiri sang Nenek, dan duduk di sampingnya.
"Tetua Xianyi sudah menceritakan semuanya kepada Nenek. Kamu sangat luar biasa. Dan Nenek sangat berterima kasih padamu!" kata Pemimpin Sekte.
__ADS_1
"Aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Nenek tidak perlu berterima kasih padaku!" ujar Evan. Dan Pemimpin Sekte tersenyum kepadanya. Namun hanya sekejap.
"Maaf, Nenek tidak bisa melindungi Ruyin dan Yuna. Jika saja, Nenek lebih kuat seperti Ayah dan Ibumu, Ruyin dan Yuna pasti masih ada di sini bersama kita!" kata Pemimpin Sekte merasa bersalah atas semua yang telah terjadi.
"Nenek tidak perlu meminta maaf. Nenek tidak perlu menyalahkan diri sendiri atas diculiknya Ruyin dan Yuna. Orang-orang yang seharusnya disalahkan adalah orang-orang Istana. Merekalah yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi!" kata Evan menggenggam erat tangan Sang Nenek.
Mendengar itu, Pemimpin Sekte tersenyum dan mengangguk pelan. Tapi tetap saja, rasa bersalah di hatinya tidak menghilang.
Melihat Sang Nenek yang masih terbebani oleh rasa bersalah, Evan merasa sedih dan ikut merasa bersalah juga. Andai saat itu Evan datang satu hari lebih cepat, pasti semua yang terjadi saat ini tidak akan pernah terjadi.
"Evan. Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Pemimpin Sekte.
"Aku sudah berjanji pada Bibi Xuanyi, kalau aku akan membawa pulang Ruyin dan Yuna. Jadi aku akan meminta maaf pada Nenek, aku tidak bisa terlalu lama berada di sini!" kata Evan sedikit merasa berat untuk meninggalkan Sang Nenek yang masih belum pulih.
"Kamu tidak perlu meminta maaf. Nenek sudah merasa sangat senang hanya dengan kedatangan kamu ke sini. Nenek sudah tidak ingin yang lainnya. Jika kamu ingin pergi menyelamatkan Ruyin dan Yuna, maka pergilah. Selamatkan mereka!" kata Pemimpin Sekte.
"Tapi, bagaimana dengan Nenek?" tanya Evan merasa khawatir.
"Kamu tidak perlu merasa khawatir. Nenek sudah tidak apa-apa. Lagi pula, di sini ada para Tetua yang merawat dan menjaga Nenek. Jadi, Pergilah, bawa pulang cucu menantu Nenek!" kata Pemimpin Sekte.
"Hmm, baiklah. Aku pasti akan membawa pulang cucu menantu Nenek. Nenek cepatlah sembuh. Jadi, saat aku membawa Ruyin dan Yuna pulang nanti, kita bisa merayakannya bersama-sama!" kata Evan.
Setelah selesai berbicara dengan Sang Nenek, kemudian Evan berjalan keluar dari kamar tersebut. Dan setelah keluar dari kamar tersebut, nampak Para Tetua yang sedang menunggunya di luar kamar. Mata mereka saling menatap dengan penuh senyuman.
"Terima kasih Evan. Jika kamu datang ke sini tepat waktu, mungkin Sekte Puncak Dewi Putih akan kehilangan sosok Pemimpin. Kami, Sekte Puncak Dewi Putih berhutang budi padamu! " kata Tetua Xianyi berterima kasih kepada Evan.
"Para Tetua terlalu berlebihan. Aku hanya menyelamatkan nyawa Nenekku sendiri. Kalian tidak perlu berterima kasih sampai segitunya!" kata Evan..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
...****************...
__ADS_1
...****************...