
Intelegensi bertukar di bawah langit Sumbawa pagi itu. Mr. Bima memasukan mata kuliah ‘debating’ sebagai sebuah latihan perkelahian intelektual mahasiswa-mahasiswi paracendekia. Itu adalah pagi yang baru di semesterku yang ke-lima. Sudah mengalir merdu di tahun 2017. Mahasiswa baru dari kelas ekonomi bawah telah banyak mendaftar.
Hasil filosofi pendidikan Pak Iwan dalam rencana rutin blusukan itu berbuah kenyataan. Meski terlihat santai, di dalam diri lelaki pembangun kampus hijau itu, mengalir perencanaan dan masalah matang yang bertubi-tubi untuk dipikirkan tenang.
Seperti ucapanku di awal kisah ini. Setiap tahun perubahan itu tumbuh secara nyata dan bukan khayalan. Saat aku aku mendapat kabar kalau Mondo sudah menapakkan kaki di tanah Queensland, Austalia untuk gelar Masternya. Dan semangatku kian melejit untuk mengejar mereka berdua.
Kampusku mulai diperhatikan Gubernur NTB mengenai pembangunannya. Dan ketika aku kembali dari libur panjang seperti biasa selepas perpisahan kedua itu, hadir sekumpulan para pekerja bangunan menghiasi kesederhanaan hijau tempat kami. Pak Iwan menginformasikanku tentang tanggungan biaya pembangunan dari Gubernur NTB waktu itu. Ya, beliau juga adalah keluarga Nahdatul Wathan.
Selain informasi haru itu, aku juga disugui berita kedatangan juru debat Internasional dari Bima. Kakak-kakak mahasiswi pengajar di MTS Majdiyah kampus kami memberitakannya padaku. Dan kami bukanlah semerta-merta menyandang status sebagai dosen atau mahasiswa di sini. Kami semua adalah keluarga. Keluarga rumah hijau. Keluarga Nahdatul Wathan. Keluarga Laskar Paracendekia.
Di suatu masa di bulan Ramadan …
“Bee, kau perlu mengubah etikamu agar bisa ikut lomba debat di Bali tahun depan,” ucap mr. Bima.”
“Aku ndak suka berdebat Sir!”
“Ini bukan debat kusir lah, Bee,” respon mr. Bima merendahkan nada.
“Terus?”
“Kau pernah lihat Rocky Gerung berbicara liar penuh filosofi di acara ILC?”
“Tidak.”
“Kenapa? Mahasiswa harus mengetahui pertengkaran argument seperti itu!”
“Tidak, Pak. Aku lebih suka jadi pengamat.”
“Apa karena omongan mahasiswa lain tentangmu di Badan Eksekutif Mahasiswa?”
“Memang mereka bicara apa?”
“Mereka mnegatakan kau itu seorang pemikir yang hanya bisa mengkritik tanpa solusi.”
“Oh.”
“Oh? Kau begitu datar, Nak.”
“Solusi itu hanya bonus Pak. Kritik adalah fungsi primer menjadi manusia.”
“Kau mendapat pencerahan seperti itu darimana?”
“Dari Bung Rocky!”
__ADS_1
“Loh! Tadi katanya tak pernah nonton.”
“Ah, sudahlah. Ayo kita kembali ke kampus. Mr. Bima ingin tadarusan di Masjid Nurul Huda, kan?”
Mr. Bima mengangguk lepas.
Itu adalah saat-saat sebelum mr. Bima berencana membawa dosen ahli debat yang seasal dengan beliau itu. Namanya Pak Furqanul Hakim. Beliau hadir atas himbauan Pak Iwan pula. Selain itu, Pak Iwan membawa seorang ahli linguistik juga ke rumah hijau kami.
Dia adalah seorang lelaki kepala 40-an beraksen batak. Bapak itu memang orang Medan. Namanya Pak Irfan Hamonangan Tarihoran. Gelarnya adalah S.S.Hum sebagai tanda bidang beliau dalam ilmu linguistik. Linguistik membahas ‘morfologi’, ‘semantik’, sintax, ‘pragamatik’, dan yang lebih parah masuk pada pembedahan kesalahan kalimat layaknya diagnosa seorang dokter.
Rata-rata dosen kami yang sudah seperti ayah dan ibu sendiri, bergelar M.Pd. Entah dosen Bahasa Inggris maupun Matematika. Hanya Pak Iwan yang seorang doktor. Sama seperti latar belakang mahasiswa-mahasiswi yang berkuliah di sini, dosen-dosen kami juga adalah hasil perjuangan sebagai pemburu ekonomi.
Pak Suparman misalnya. Ketua Puket III yang pertama kali menyambutku pada acara OSPEK dulu, adalah mantan daun muda Pulau Ngali. Pulau Ngali sendiri menjadi kekayaan Sumbawa dengan ‘teripang’nya yang melimpah. Beliau juga adalah anak pesisir miskin dulunya.
Lalu Pak Umar. Orang yang kita setujui sebagai Bung Rocky. Gaya kepemimpinan beliau mencerminkan perdamaian di hati mahasiswa-mahasiswinya. Beliau juga seorang yang mengurusi pertanian di luar pekerjaannya sebagai dosen. Dan beliaulah orang pertama yang mengatakan, “Bukan masalah di mana kau belajar, tapi apa yang kaulakukan di tempat kau belajar.”
Dan Bang Alen serta Bang Monday, menjadi satu peralihan nyata perkataan beliau. Aku tak tahu kabar ‘Amak Toak, Raizo, dan kakak-kakak tingkatku lainnya setelah acara yudisium paling sederhana, terlampir haru di atas lantai dua rumah hijau kami. Hanya Bang Alen dan Monday yang lebih dulu gesit dalam mengatur layar masa depan mereka. Dan hanya mereka berdua yang aku ketahui kabarnya sementara waktu .
Sementara dosen-dosen wanita tak begitu kupahami sebagai sebuah karakteristik. Wajar saja, memang di jurusanku hanya Bu Iga dan Bu Rahma yang mewarnai filosofi pendidikan kampus kami. Para dosen muda dari kaum hawa lainnya, menginjakkan kehidupan kekeluargaan sebagai guru dan orang tua di bagian jurusan Matematika.
Di tahun 2017 waktu itu, kampus hijau kami membuktikan diri perlahan sebagai sebuah perjuangan yang tulus. Blusukan calon mahasiswa baru sebelumnya juga bagian dari ini. Tapi ini lebih akurat dan bertenaga. Akan aku ceritakan.
Sir Bima mengajakku pada petualangan menuju kepala kambing di kebunnya. Kebun beliau sendiri terletak di belakang perbatasan kampus kami. Ruang kehidupan di bagian belakang kampus kami memang menampilkan alam yang segar nan asri. Jauh dari uapan polusi dan asap. Di samping kebun Sir Bima adalah rumah Pak Umar. Dan kau tak akan pernah menemukan hubungan batin antara dosen dan mahasiswa di kampus lain selayaknya di sini.
“Kau tak bawa pepaya lagi, Bee!” Sir Bima berseru tak terkendali ketika tangannya menahan tali yang mengikat seekor kambing betina.
“Bee, kau tak lihat kesusahanku?”
“Iya Pak, aku bantu!” responku seraya tersenyum miring. “Kambing ini akan melahirkan daun-daun muda paracendekia juga Pak?”
“Ah, kau ini membahas apa? Kau tak tahu kita akan melakukan karantina untuk mahasiswa-mahasiswi terpilih?"
“Lomba apa?”
“Ini untuk persiapan lomba debat di Bali yang aku ceritakan pada kau waktu itu!”
“Oh, iya. Baiklah. Lalu?”
“Kau juga harus ikut.”
“Tapi Bahasa Inggrisku kurang manjur sebagai alat perdebatan. Akan lebih berfungsi jika digunakan merangkai puisi dan cerita pendek, Pak!”
Ya, memang jurusanku adalah Pendidikan Bahasa Inggris. Namun jurusan perangkul intelektualku juga dilengkapi oleh linguistik dan sastra. Dan Lingustik murni menjadi momok keharuan untuk kuperjuangkan nanti.
__ADS_1
“Kalau begitu kau ikut yang Bahasa Indonesia saja,” Sir Bima menghirup udara biru lebih banyak kemudian.
“Hem … kenapa tak suruh Tridayani atau Rahmi saja, Pak! Kawan semesterku itu bukankah jauh lebih cerewet dan tidak mau mengalah dibandingkan aku?”
“Jangan mereka.”
“Tapi .. berdebat itu kan harus memiliki jiwa egois juga, kan?”
“Tidak semua ahli debat itu berkarakter egois.”
“Tapi …”
“KDMI dan NUDC! Kau bisa menjadi salah satunya. Setiap kelompok debat terdiri dari tiga orang untuk yang Bahasa Indonesia dan dua orang untuk yang Bahasa Inggris,” terang Sir Bima tulus.
Seminggu setelah peternakan itu berakhir, kampus kami dihidupi oleh ahli debat yang kuceritakan sebelumnya. Pak Furqan, ahli debat yang telah berpredikat ‘go Internasional’ itu menjadi kebanggaan tanah Sumbawa juga. Beliau menjadi juri bersama Sir Bima untuk penyeleksian mahasiswa yang akan berangkat ke Bali.
Tema yang diangkat Pak Furqon untuk seleksi umum adalah masalah peran PBB dalam perdamaian. Muncul dewan yang berkeinginan agar lima anggota tetap PBB dihapuskan. Itu sebagai bagian dari kelompok Pemerintah. Jika terkena bagian ‘oposisi’, maka akan menjadi kelompok yang terkadang sukarela melawa hati nurani. Artinya, kelompok bagian apapun itu, selalu ada perlawan suara hati yang tidak sebenarnya. Kau paham maksudku. Sejatinya kita tak bisa memilihnya.
Waktu itu aku bersama Picolo dan Harry Potter menjadi tim gelombang ke-dua. Nama tim kami adalah ‘Blackpink’. Jangan tanya alasannya. Kami berada pada sisi pemerintah. Maknanya, kami harus mendukung judul perdebatan itu. Kau tahu rasanya jika harus mendukung kemunafikan yang melangkah mulus?
“Time for the second!” seru Pak Furqon dari dalam ruangan perdebatan yang sederhana. Ya, meski ruangan kami begitu rapuh, kehadiran manusia sekelas beliau benar-benar membuat kampus kami saat itu serasa berada di ruang debat Internasional.
Di dalam, ternyata yang menjadi juri tak hanya Pak Furqon dan Sir Bima, Sir Batak juga hadir mentereng. Sir Batak adalah panggilanku untuk Pak Irfan. Beliau memang elegan untuk urusan menyambung intelektual secara konsep.
Dalam pada itu, mentalitasku hancur sejak pertama kali masuk ruangan. Penyebabnya mungkin bisa kautebak. Gadis yang juga terlambat mengucapkan perpisahan pada Bang Alen sewaktu di bandara, menjadi anggota tim lawan kami. Sejak detik pertama aku duduk, ia mengarahkan sinar mata tak biasa. Aku seakan dihipnotis untuk segera keluar melarikan diri. Entahlah, jiwaku benar-benar tak biasa hari itu.
Sementara dari luar, para tim debat untuk Bahasa Inggris tengah berkumandang lepas menyuarakan kelelahan mereka. Aku pun langsung merefleksikan kefokusan. Namun sekali lagi, ketika kutatap mata bercahaya itu, aku kehilangan kemudi diri. Getaran kimia macam apa yang menggerogoti ************ hatiku?
“Baik, kita mulai,” ucap Sir Batak. Kemudian menyebut secara formal nama-nama dari dan bagian dari tim masing-masing. Dari pembicara I hingga pembicara III. Inilah alasan ‘Debating’ menjadi mata kuliah pengganti ‘speaking’ dari semester bawah hingga senior. Pak Iwan sendiri menyetujui ide permata Sir Bima mengingat seorang ‘go Internasional telah hadir di rumah hijau sederhana kami.
Baik, kita kembali. Bahkan ketika pembicara I dari tim kami menyampaikan argument dan diteruskan hingga ke pembicara ke III tim oposisi, aku tetap tak henti melambungkan khayalan ke arah gadis itu. Dan sejak saat itu, aku memiliki ‘nickname’ khusus untuknya.
“Baiklah, pembicara III dari tim Blackpink . Bee …”
Aku menyampaikan bukan apa yang kuanalisakan. Aku menyampaikan semua kerangka hatiku terhadap PBB. Seperti ucapanku pada Sir Yadin, aku lebih suka menjadi pengamat daripada pendebat. Aku bahkan hanya menyampaikan empat poin dari tujuh poin yang ada di benak pikiranku. Padahal waktu masihlah setia menungguku selesai berargumen. Namun aku memilih menyimpan sisanya untuk sebuah niat yang abstrak.
“Jika kita bicara perdamaian, maka kita tidak perlu bicara senjata! Bagiku, perdamaian di dunia ini hanyalah ilusi. Tidak akan pernah ada perdamaian karena manusia tidak akan pernah bisa saling memahami satu sama lain. Sejarah telah mengatakan itu semua,” bukaku menahan kegugupan. “Jika Anda berargumen lima anggota tetap PBB tidak boleh dihapuskan dengan alasan senjata yang kuat, maka pernyataanku tentang perdamaian sebelumnya itu benar. Semua negara hanya memposisikan diri layaknya boneka-boneka manis yang saling memeluk. Sementara di balik itu ada perang dingin yang berkeliaran secara tak kasat mata.”
Kurang lebih seperti itu garis besar argument singkatku. Aku berujar selama tiga menit namun juri mengatakan masih tersisa empat menit. Aku memilih menutup sesi giliranku. Satu hal yang tersimpan rapi di balik pikiranku saat itu adalah filosofi kasih sayang milik Pak Iwan. Aku memutuskan menyimpan ketidakpahaman dunia melalui tutup mulutku.
“Baik, selanjutnya pembicara terakhir dari tim ‘Kera Sakti’, Hajar Aswad!”
Aku mengetahui nama gadis itu layaknya menerima kabar bahwa bulan akan bersujud di bumi. Ya, mahasiswi yang sama-sama terlambat denganku menemui kepergian Sir Alen sebelumnya. Hajar Aswad, nama yang setengah misteri. Di hari berikutnya, pengumuman hasil seleksi debat berkumandang memalui lisan Pak Furqon. Dari NUDC ada 6 orang dan KDMI ada sepuluh orang.
__ADS_1
Mereka akan di karantina selama sebulan dan akan diseleksi lagi hingga tersisa sesuai kebutuhan dari masing-masing bagian sebelum berangkat ke Bali. Yang jelas, aku tak menerima penghargaan itu karena kekuranganku dalam berargumen lengkap. Tak hanya itu, etikaku dalam berargumen masih jauh dari seharusnya. Aku masih kurang lihai mengontrol emosi dalam berpendapat. Dan itu memang menjadi nasehat Sir Bima sebelumnya padaku mengenai etika.
Di antara ke-enam belas orang itu, nama yang sempat melejitkan kesadaranku menjadi pembicara terbaik. Ya, gadis itu. Aku semakin penasaran akan dirinya. Dia hadir dalam kelembutan dan di kemudian waktu, ia menjelma menjadi duri lembut penusuk impianku. Namun aku tak menyalahkannya. Sebab kronologi kisah ini membuatku berterimakasih padanya sebagi lelaki pada wanita.