
"Apa kita bisa menepis keraguan dengan cara yang benar?" aku memandang Mus begitu sayu. Ada harapan baru yang tumbuh membahana di dalam seluk hatiku.
"Kita harus sepenuhnya percaya pada Hajar, Mus. Apa kau masih ragu untuk memfotonya?"
Pertanyaan Mus memang mencerminkan dirinya terkadang bisa kehilangan fokus. Padahal aku telah memposting foto brosur itu di Instagram. Aku menandai Hajar. Terkejut. Aku memperlihatkan di depan wajahnya dengan kecepatan sedang. Mus spontan memundurkan sedikit wajahnya secara cepat.
"Kita sedang tidak berada di negeri halaman, Bee. Jangan memberiku kejutan listrik."
Aku sumringah, "Mus?"
"Oh?"
"Kenapa waktu terasa sangat cepat hari ini ya, Mus?"
Mus mengalihkan tatapan pada seorang kakek tua dengan tas besar di punggung. Mengenakan kacamata hitam berkaca lebar. Dia mendekati brosur-brosur itu. Diambilnya satu. Kemudian dua. Tiga. Dan berhenti pada hitungan ke empat. Brosur keempat memberikanku pertanyaan di kepala. Mengapa harus sampai empat brosur?
Aku tersentuh untuk memanggil kakek itu, "Hei, Mr! You are a Victoria person who is good attitude."
Kakek itu tak langsung menjawab. Matanya berbinar melihatku. Seperti ada pelangi jingga di sore hari yang memaksa kita untuk turut serta melihat balik di pupil-nya.
Mus berbisik padaku, "Sepertinya dia pemilik brosur itu."
"Mana mungkin."
"What did you talk before, young?" Kakek yang masih terlihat prima dan lincah itu bertanya canggung.
"Em, why you take more for that?"
"This?" ia mengangkat sedikit brosur-brosur yang ia cabuti tadi. "Yeah, nothing anyone would like to see."
Kakek itu menayangkan pesimisme. Ia menunduk kecil. Lalu rahangnya diangkat lagi perlahan, seperti gaya kakek-kakek legendaris. Kakek legend. Tetapi tidak misterius. Kakek humoris yang bergerak lincah, terpadat, dan jelas selayaknya angin muson ... tahu kemana harus berhembus.
Kakek itu seakan memberikan kekhawatiran yang aneh. Firasat baru yang tak alami. Begitu banyak kekhawatiran merajai hari-hari menjelang sore itu. Hari terasa memanas, melepuh, dan menginginkan kami berhenti. Terus berbisik agar aku dan Mus terlena pada keindahan situasi, melupakan Hajar sesekali agar tak terlalu hirarki, dan jika semakin dibiarkan maka kami akan pura-pura lupa. Pura-pura lupa adalah sebuah kejahatan pikiran. Tak terdeteksi hati. Tak bisa dibaca telinga. Bahkan mata menolak percaya.
"So, why you take them all?" aku memberi pertanyaan mantap pada kakek tadi, merespon perkataannya yang menerangkan kalau ia memang pemilik brosur.
__ADS_1
"Hah, i dunno want to get more time. I have to go."
"Wait!"
"Ada apa, Mus?" tanyaku heran melihat Mus yang cepat bereaksi, seolah ada penawaran kebahagiaan hidup jika kita menghentikan kepergian kakek itu.
"We have a friend for the party."
"Mus?"
"Kau belum mengerti juga, Bee? Kakek ini mencari seseorang seperti Hajar untuk pameran piano."
"Benarkah?"
"Ya, kau tahu apa artinya?"
"Apa?"
"Kita lebih mudah menemukan Hajar karena kehadiran kakek ini. Bahkan lebih mudah dari sekedar postingan foto yang telah kau siarkan."
"Ya, tapi jujur ... aku masih belum seutuhnya paham hubungan kakek ini dengan kita mudah menemukan Via."
Aku merenung pendek usai Mus mencoba memberikan pemahaman penting bagiku. Mus, masihlah cerdas dan peka sekitar seperti dulu. Jika dicerna maksud Mus mengenai kehadiran kakek itu adalah, kepemilikan kakek itu sebagai pencetus pertunjukkan piano memang membuat Hajar mengerti harus kemana.
Jika Hajar memahami sebuah tujuan yang bersifat ramai seperti pertunjukan piano, maka ia akan masuk ke dalam pikiran kami dengan mudah. Maksudnya menyadari bahwa kami juga mencarinya, sekaligus memberitahunya tanpa harus ada kata-kata. Dan setelah aku berhasil sampai kepada maksud pikiran Mus, maka pertanyaan inti terakhir muncul.
"Hajar, kita akan mendaftarkan namanya untuk pameran ini?"
"Ya, kita sekaligus membantu kakek ini. Sebelumnya dia mengatakan tak ada yang menginginkan brosur seperti itu ditempel, kan? Lantas ia kecewa dan mencabut semuanya."
"Ya, meski hanya seorang diri, nama Hajar akan bergema di negeri kangguru ini. Ia pasti senang dan tahu harus menemukan kita di mana. Kita perlu menambahi pesan di samping status kepemilikan acara kakek itu, kan?"
"Tentu, itu lah puncak makna kalimat-kalimatku. Kehadiran seseorang terkadang bisa menjadi jalan, bagi menemukan seorang yang lain di tepi berbeda," Mus menutup penuh bangga.
Kakek itu kulihat entah kenapa tersenyum puas. Ia seolah mengerti arti obrolan kami yang tak menggunakan bahasa Inggris di hadapannya. Meski kami berbahasa Indonesia, kakek itu bersama tatapannya seakan menunggu kami selesai berbalas jawaban. Ia mengerti jika pembicaraan kami mengandung peran dirinya dan brosur itu.
__ADS_1
"So, where is your friend who wants to join?" kakek itu masih meminta jawaban dari pernyataan Mus sebelumnya.
"Noted on your paper, Hajar Aswad. She is our friend. She will became a nice person in your piano musical."
Kakek itu kembali menurunkan tasnya, memasukkan brosur-brosur yang ia cabuti tadi, dan mengambil sebiji pulpen.
"Hajar Aswad, oke," katanya usai mencatat. "Do you have message anymore, guys?"
"Bee, kau yang katakan pada beliau."
"Kau saja, Mus."
"Kau saja."
"Ya sudah," aku mengalah dan mengucapkan pesan itu. "Said on your video promotion, Hajar, Bee and Mus are waiting for you on Sidney."
Begitulah. Jalan lintas Highway, memberikan kami pertemuan berarti pada sosok yang disangka-sangka. Aku menepis segala keraguanku seketika. Keputusan hebat bersama Mus ini, membuatku mengingat kembali menit-menit kerinduan itu. Saat aku membawa sebuah bantal asrama sewaktu masih lah daun hijau yang mungil. Saat itu, kami turun terbirit-birit dari atas kampus yang belum utuh lantai ke duanya. Mus mengintai ke kiri dan ke kanan.
"Ada orang, Mus?" tanyaku bersembunyi di belakang tubuhnya yang lebih pendek. "Jawab aku lah!"
"Sebentar, Bee."
"Apa perlu kita menutup wajah dengan selimut lalu berlari sekencang mungkin, sampai ke pintu asrama?"
"Tak perlu begitu. Kita bersikap cool saja. Kalau berlari dengan cara begitu, kita akan disangka maling muda oleh Pak Amin."
"Ya sudah, aku duluan. Mari kita jalan," Mus melangkahkan kaki dengan penuh karisma yang dibuat-buat. "Kabur!"
Aku tercenung. Pengkhianatan luar biasa dari Mus. Apanya yang cool? Dia malah menipuku dan sekarang tertawa besar di ujung pintu asrama sana.
"Cepatlah, Bee! Belum ada manusia-manusia yang bangun jam shubuh-shubuh begini."
Dia tak sadar dengan ucapannya. Dia lupa kalau shubuh itu pukul 05.00 kurang atau lebih sedikit. Sementara saat itu pukul 06.10 dan aku masih membeku di tangga bawah gedung kampus. Aku menyesal kenapa harus tertidur di atap kampus bersama Mus, jika tak sanggup bangun pagi dengan kilat.
Aku luluh dengan tololnya diriku sendiri. Aku pun berjalan dengan sok elegan melintasi pertengahan area kampus menuju asrama, seperti sedang tidak berdosa sama sekali. Yah, meski akhirnya aku berhasil sampai dalam perasaan seolah berada dalam rintangan Benteng Takeshi, Mus menertawai diriku yang berhasil ia tipu saat berada di hadapannya.
__ADS_1
Tetapi tak ada protes dariku, karena aku juga sering mengerjainya. Mus yang saat itu aku nilai sebagai sosok yang suka bercanda saja, tak kusangka akan menjelma menjadi karakter yang keren dalam mengambil keputusan pada situasi tak tersurat ini. Kepekaannya melihat peluang pada kehadiran kakek itu, benar-benar tak terpikir oleh diriku.
Jika aku adalah Bima Sakti, maka Mus dan pikirannya, berada pada level galaksi yang berbeda. Ruang lingkup penuh asteroid-asteroid kecerdasan, yang tak mudah disentuh dan dijangkau teleskop telanjang, itulah kosmos di dalam isi kepala Mus. Salah satu hal di dunia ini yang paling aku syukuri adalah bersahabat dengannya. Dan Hajar, semoga dia bisa mengerti petunjuk itu.