Kampus Fiksi

Kampus Fiksi
DERET 23


__ADS_3

Sebelum melanjutkan, aku harus pergi menuju lokasi kesadaranku. Nama lokasi itu adalah kasur. Eh, bukan, jika aku tidur maka cerita ini akan berhenti dalam ingatan tentang malam di dalam trem itu saja. Baiklah, aku pergi mencari kopi saja sebentar. Jika kalian sudah sampai ke bagian ini, artinya aku sedang menyeduh sebuah filosofi kopi.


Nama-nama dalam anggota enam kelana yang sekiranya perlu aku jelaskan, adalah sosok Picolo. Peran pentingnya membuat aku bisa menjemput Melbourne, meninggalkan Kampus Fiksi dengan manis, dan bertemu Mus lagi untuk memperlihatkan cerita Kampus Fiksi bagian pertama.


Ya, sebelum aku menceritakan kelanjutan perjalanan aku, Mus, dan Kakek Hwang, aku akan sedikit memberikan nafas di antara kita agar lebih indah mengirup nyawa. Picolo, yang sejajar dengan tukang komedi baik tapi tidak tersakiti layaknya Joker. Aku mengerti apapun bentuk jawaban sebagai udara segar darinya. Sebagai sahabat yang baik, aku selalu memahami deret penuturan kata-kata nyelenehnya dulu.


"Jika aku melihat orang-orang melaksanakan resepsi pernikahan di pinggir jalan, berarti aku masih di Indonesia," ucap Picolo saat kami nyaris ditilang polisi, karena ingin numpang makan gratis di sebuah acara kondangan.

__ADS_1


"Jika aku melihat ibu-ibu yang masih menyalakan lampu sen kanan, tetapi belok ke kiri, maka aku masih di Indonesia," balasku tak mau kalah, mencoba masuk dalam selera humornya.


Yah, aku pernah menjadi manusia yang tak membutuhkan cahaya apapun lagi selain Mus. Bahkan sejak kepergiannya, topeng apapun yang aku palsukan sebagai sebuah sikap pada orang-orang, tak mampu menutup kesedihanku.


Namun ketika Picolo dan anggota enam kelana timbul mendadak layaknya jerawat, aku kembali bercahaya walau sedikit. Tidak ada hal paling aku syukuri sebagai manusia muda yang hidup di Bumi, selain bisa diizinkan berdampingan dengan mereka dalam memahat poin-poin impian bersama.


Aku jadi kepikiran untuk meminta bantuannya menemukan Hajar dari sisi rencana yang lain. Kemudian Takiya, ia menjadi pendakwah yang keren, elegan, namun tidak kaku. Takiya membangun sebuah komunitas remaja-remaja Muslim yang kokoh dan menawan. Dan satu lagi, sosok terakhir yang telah menjelma menjadi pelangi di Rumah Hijau, Kampus Fiksi. Nama legend yang kuberikan padanya, benar-benar jadi doa terkuat di alam semesta.

__ADS_1


Ia seperti Majin Buu dalam film Dragonball. Berkali-kali harus menyatu meskipun hatinya sering dihancurkan berkali-kali. Hatinya seakan terbuat dari bahan karet. Karet berwarna pink seperti permen karet. Elastisitasnya yang tulus itu, sungguh lembut sehingga kuat disakiti berkali-kali oleh perempuan. Meski terkenal pemain hubungan, ia yang kalian mungkin ingat siapa, sering patah hati belasan sampai puluhan kali. Hebatnya, ia tak pernah trauma sebagai pelatih asmara. Ia bahagia dengan perlakuan akhir yang tidak menyenangkan dari lawan jenisnya.


Sebagai Majin Buu versi manusia nyata, sosok terakhir enam kelana yang aku maksudkan itu, adalah contoh individu dengan cara bertahan hidup yang baik dan benar sebagai lelaki buaya pasir. Eh, maksudku ... lelaki penggenggam hujan. Jika malaikat Jibril diperintahkan untuk membelah dadanya dan mencuci hatinya, maka malaikat Jibril akan melihat warna merah muda dan lembutnya hati yang terbuat dari karet itu ... harus dibersihkan dengan cara berbeda.


Saat aku memfokuskan tatapan ke arah Mus, lamunanku detik itu mengental. Tak lagi meleleh layaknya kelopak biji kopi yang dimakan luwak. Dia bersamaku dengan kantuknya, bukan sekedar memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti tidur saja, di dalam kelelahannya malam itu cukup banyak alternatif kepedulian yang masuk akal. Di dalam ketenangan pikiran itu, terjadi pertengkaran hebat bernama stimulasi.


Peperangan antara logika dan perasaan, yang dihimpit antara rasio dan idealisme. Berujung pada stimulasi yang setiap hari harus mengulang-ulang teriakannya. Pengulangan itu lantas terbaca pikiran sebagai cara individu untuk mengelola stresnya. Kemampuan memproduksi ketenangan batin dan pemikiran, tak akan berhasil jika produksi stimulasi antara logika dan perasaan dalam ruang penuh kosmos bernama otak itu, memiliki rasio yang melebihi keinginan hati.

__ADS_1


Walau berat rasanya memberitahu Mus tentang Enam Kelana, aku percaya di sisi lain akan ada kotak persahabatan baru yang bersinergi, melintangi dan menyelaras di langit Sidney. Meskipun bisa aku bayangkan keanehan di wajahnya ketika bertemu dengan belahan dirinya. Ya, picolo. Mus dan Picolo akan menjawab rasa penasaranku ketika dahulu, aku hanya bisa membayangkan ketika keduanya berada di hadapanku secara langsung.


__ADS_2