Kampus Fiksi

Kampus Fiksi
DERET 22


__ADS_3

Malam yang dingin di sekitaran High Way. Jalan lintas antara Victoria dan Melbourne, menjadi penentu aku, Mus, dan kakek itu menuju Sidney lagi. Ngomong-ngomong, kakek itu bernama Hwang. Kakek Hwang, dia ternyata keturunan China.


Kami bertanya berulangkali hal-hal yang sama pada Kakek Hwang, namun ia sabar dengan sadar. Tak memberi batasan pada hal-hal apa saja yang boleh ditanyakan. Dia kakek legend yang baik dan pengertian. Mungkin karena dia akhirnya menemukan sosok berharga untuk mengisi acara musikalisasi piano miliknya di Universitas Sidney. Ya, ternyata Kakek Hwang adalah seorang dosen di fakultas musik di universitas itu.


Dia menunjukkan kesenangan luar biasa karena Hajar, nama yang kami berikan, memberinya calon didikan untuk jangka panjang. Saat aku bertanya mengapa ia tak meminta mahasiswa-mahasiswi jurusan musik, yang justru bisa jadi peramai acara itu. Ia menjawab, "We need a person to be start and candidate."


"Great!" aku merespon dengan penuh syukur. Hajar, akan menjadi nilai tambah bagi sebuah kampus asing. Ada hal yang diharuskan untuk dimengerti di sini, jika ide pengadaan seseorang berbakat di luar dari para peserta didik kampus itu sendiri, maka itu akan menjadi nilai promosi yang luar biasa untuk kampus itu. Orang-orang akan melihat dan menilai bahwa bakat itu ada. Pelajaran hidup yang ingin disampaikan Kakek Hwang, begitu wajib untuk diresapi. Itu pun jika mereka mengerti, orang-orang yang bisa merasakan suara-suara yang tak terdengar oleh telinga.


Ya, suara-suara yang tak terdeteksi telinga dan tak terlihat mata telanjang. Suara-suara itu berbentuk filosofi cara manusia menggunakan lima puluh persen sel-sel kecerdasannya. Otak bagian tersulit untuk bisa mengerti hati. Maka diperlukan jiwa-jiwa berenergi putih tanpa faktor X, untuk menyelaraskan sebuah kehidupan yang di mana orang-orang dapat mengerti satu sama lain.


Dari situ manusia akan mudah memahami bakatnya. Aku membayangkan ketika Hajar tampil di antara ribuan pupil mata, kewarganegaraan yang beraneka, serta bahasa ibu yang beragam, maka pelajaran hidup yang ingin ditampilkan Kakek Hwang akan terwujud murni.


"Seseorang yang belajar dengan dirinya sendiri, akan lebih mudah memahami segala bentuk ilmu pengetahuan meskipun ia tak pernah mempelajarinya secara resmi," Mus menjelaskan kesulitan diriku menafsirkan pikiran panjang tadi.


"Kau benar, Mus. Kurasa Kakek Hwang, menyadari kalau belajar itu bisa di mana saja. Hajar bahkan terampil memainkan piano dan mengerti cara mengajari orang lain tentang itu, tanpa harus menimba ilmu di perguruan tinggi. Ia hanya bermodal rasa suka terhadap suara-suara jemarinya ketika kita masih di rumah hijau dulu."


"Tetapi aku tak sempat melihat Hajar memainkan hobinya itu."


"Salahmu sendiri terlalui cepat meninggalkan Kampus Fiksi," ketusku seolah masih menyimpan kesedihan ketika Mus harus memisahkan diri dari rumah hijau dulu lebih dini.


"Kau masih marah padaku karena pergi secepat itu, Bee?"


Aku menghela nafas sepersekian detik, "Tidak, Mus. Aku hanya menyesalkan beberapa plot yang tak sempatkan terealisasikan."


"Cara berpikirmu terlalu rumit, Bee. Tak semua hal harus selalu sesuai dengan keinginan kita. Menurutmu, jika aku tak meninggalkan kampus kita dulu karena alasan ekonomi, apa kau bisa mandiri dan bertemu denganku di Melbourne? Apa menurutmu kita akan melihat Hajar dengan cara yang indah nantinya? Jika aku tak pergi, mungkin kita juga tak akan bertemu dengan Kakek Hwang."

__ADS_1


Sejak saat itu, ucapan Mus benar-benar menjadi rel kereta api yang penuh lika liku. Satu paragraf kalimat darinya, membuat cara pandangku terhadap dunia ini, tak lagi seperti butiran pasir di tengah gurun. Kala duduk di dalam trem bersamanya dan Kakek Hwang, merubah butiran pasir itu menjadi kaktus yang tegak, kokoh, dan mandiri di tengah-tengah luasnya pasir yang seragam nan membosankan. Satu paragraf yang tak bisa disamai oleh semua teori pengetahuan, yang kudapatkan sejak pra-sarjana di Kampus Fiksi dulu.


"Aku minta maaf atas noda baru yang kulahirkan, Mus," aku melihat layu ke arahnya.


"Tak mengapa. Aku mengerti. Aku mengerti, Bee."


"Are you talking about me, guys?" tanya Kakek Hwang yang memang tak mengerti pembicaraan kami. Mengenang masa lalu membuat kami lupa jika sedang tidak berdua lagi.


"We are just look at our own mind self, Mr!" tuturku.


"Really? Sounds great!" pujinya tanpa alasan.


"Bee?" Mus entah kenapa kembali memperlihatkan muka masam.


"Ya?"


"Bukankah ia juga akan melihatnya?"


"Aku rasa kaki pria itu akan pulih kesadarannya."


"Maksudmu?"


"Dia akan meretas isi ponsel Hajar dan sudah pasti ia tahu wajah Hajar melalui ponselnya."


"Ya, entah kenapa aku khawatir pada Hajar. Apa benar ponselnya hilang atau ia diculik oleh pria itu. Lagipula, kenapa ia berpura-pura ingin menjaga ponsel Hajar, jika pada akhirnya mengatakan dirinya seorang Hacker?"

__ADS_1


"Hacker itu bukan seperti Cracker, Bee. Mereka sangat berbeda. Lebih tepatnya, Opposite. Hacker bersifat melindungi. Ia membuka kunci layar ponsel Hajar, agar memudahkannya menemukan rekan Hajar yang bisa dihubungi."


"Begitu ya, lalu ... mengapa ia menelepon kita? Bukankah Hajar memilki banyak orang untuk dihubungi di ponselnya?"


"Hm, mengenai itu ... jawabannya mudah sekali, Bee."


"Apa, Mus?"


"Ia pasti melihat WhatsApp story Hajar. Entah tulisan Hajar itu berisi dirinya yang ingin menemukan kita, atau keadaan dirinya yang baru saja berada di Australi. Seorang yang melihat ponsel orang lain dengan bahasa percakapan asing, pasti langsung mengerti jika seseorang itu berasal dari negara yang berbeda. Apalagi melihat permulaan identitas nomornya.


"+62!"


"Ya, lantas juga pria itu menghubungi nomormu, karena kemungkin besar nomormu berada di posisi paling atas ... sebagai seorang yang dominan dihubungi oleh Hajar sebagai si pemilik ponsel. Apa aku benar?'


"Kau sangat benar, Mus. Tepat dan sangat cerdas."


"Haha, dan kau masih khawatir lagi?"


"Ya, sedikit."


Saat itu, aku bahkan lupa menuliskan kelanjutan cerita Kampus Fiksi menjadi Kampus Fiksi 2, karena kelupaan diriku memang disengaja. Jika kami berhasil menemukan Hajar, maka aku akan menamatkan Kampus Fiksi. Aku akan melanjutkan menulis cerita Room Nakama. Sebuah sekuel dari Kampus Fiksi, di mana aku berpisah sementara dari Mus, Hajar, dan teman-teman lain yang nanti akan kalian ketahui. Ketika perpisahan itu hadir, aku menemukan sebuah pekerjaan bernama Live Streaming, selain menulis cerita.


Aku menemukan sahabat-sahabat baru sebelum masa-masa kritis seseorang. Dan aku akan berperan dalam sudut pandang Natalie. Sahabat penaku yang baik, cantik, dan budiman. Jika kalian penasaran, kalian bisa mampir ke aplikasi Fizzo, di sana aku sudah menamatkan cerita Room Nakama. Natalie mengisahkan ketika aku kritis, Mus dan Hajar muncul dalam lingkaran persahabatan dan Room Nakama yang telah aku bangun bersama Natalie.


Dalam pada itu, aku mulai curiga pada Mus saat malam beku sebelum singgah di Kota Sidney. Kakek Hwang telah pulas karena tak mengerti pembicara kami. Mus pun demikian. Kecurigaanku timbul ketika ia seolah-olah tidak terlalu panik sepertiku, dengan kondisi Hajar yang tersebar dan kehilangan arah karena ponselnya hilang.

__ADS_1


Saat di penghujung cerita yang sebentar lagi akan tayang, barulah aku menyadari ... ada sebuah sketsa permainan layaknya lorongan gelap yang hanya bercahaya di ujung. Sketsa dan petunjuk dari cara berpikir Mus inilah, yang akhirnya membuatku menciptakan Room di kota Bandung, Indonesia. Di sana aku meminta bantuan Picolo, salah satu sahabat 6 Kelana, agar menggantikan diriku.


__ADS_2