Kampus Fiksi

Kampus Fiksi
PROSA: Manusia Paling Kesepian


__ADS_3

Aturan bisa saja menjelma sebagai hal-hal bodoh bersekat. Lebih baik bertanya pada orang tak pintar dan biasa-biasa saja. Betapa terkadang, menjadi cerdas itu tidaklah menyenangkan. Ketika semua terlanjur diketahui, apalah daya hati untuk merasakan serunya petualangan hidup. Benarkan? Memang terkadang bisa begitu. Rumit untuk menjadi mahluk yang tahu segalanya. Padahal bodoh pun bisa lebih dinikmati.


Sayangnya keduanya juga perlu menjadi rel takdir, agar manusia bisa mengerti rasa syukur dan saling mempelajari satu sama lain. Di antara jeda kaki, biasanya ada pikiran-pikiran aneh yang tertunda manis. Tuhan memberi simbol kesulitan sebagai petunjuk harta karun. Biasanya ada manipulasi di sana.


Manusia diminta untuk peka, sabar, dan tidak kaku. Fleksibel. Tanah liat yang lentur. Ya, manusia adalah jelmaan tanah subur yang lentur seperti karet dan moci. Adonan-adonan dari tangan Tuhan dan diberi taburan ikan-ikan di langit yang bergerak, layaknya ikan julung-julung. Semua sumbunya ada di area bawah laut mereka.


Jika kembali pada aturan hidup, kecerdasan dan kebodohan bukanlah kuncinya. Ada rongga putih di dalam teras itu. Teras yang hanya bisa disadari si pemiliki rumah. Kita bisa membangun istana yang kita kehendaki di dalam rongga putih itu. Aku menyadarinya secara utuh. Dan kini izinkan aku menciptaka kisah baru yang aneh.


“Apa ada ruang bagi manusia-mansusia penyendiri seperti kita?”


“Pertanyaanmu terlalu feminim untuk hidup yang keras. Bukankah kita memiliki aroma alami ibu kita? Kita bisa terus mencap diri kita baik selama kita tak pernah benar-benar ingin menjadi jahat. Kita hanya diizinkan berdosa untuk diri kita sendiri. Berurusan dengan Tuhan Yang Maha Pemaaf sangatlah mudah. Sedangkan bermain api bersama manusia, akan selalu terlahir urusan lain seperi kemurkaan Tuhan.”


“Bukankah kita juga manusia?”


“Apa kau mengarahkan pertanyaan kepada kaca?”


“Anggap saja begitu. Kau adalah kaca spionku. Boleh, kan?”


“Aku menerima ketidaksengajaanmu. Apa aku terlihat sebagai penjahat budiman di matamu?”


“Tidak, setelah kau menghabisi para kuda liar tadi.”


“Aku membencinya. Kita tidak bisa menganggap itu kejahatan. Andai kawanan kuda liar itu mengerti cara menghargai manusia, aku bisa sedikit profesional dalam membunuh.”


“Bagaimana maksudnya itu?”


“Pembunuhan batin. Aku bisa membunuh mereka secara gertakan.”


“Seperti di film-film fantasi?”

__ADS_1


“Fantasi timur?”


“Barat.”


“Itu terlalu mudah untuk dijadikan referensi.”


“Lalu apa lebih hebat dari fantasi?”


“Keterbukaan.”


“Keterbukaan?”


“Ya.”


“Maksudmu, membunuh kawanan kuda liar yang ingin bebas butuh keterbukaan? Keterbukaan seperti apa?”


“Membunuh tanpa menyentuh.”


“Di sini lebih nyaman dan pantas untuk manusia seperti kita. Kita tak perlu pergi ke kota.”


Lalu mereka menghentikan ceritanya. Seperti sebuah jurus ilusi, dialog tadi tak kasat telinga. Kita telah sama-sama terjebak dalam permainan diksi. Aku menipumu? Tidak, kau lah yang menipu diri sendiri. Kita berhasil bekerjasama sama menipu diri masing-masing sejak dialog tadi berjalan. Dia, hanya berbicara pada dirinya sendiri. Alkohol. Redbul. Minuman-minuman pendatang kebahagiaan sesaat. Menciptakan bayangan lain menyerupai dirinya. Alasan pertanyaan tentang bayangannya bertanya, apakah ia berbicara pada kaca spion?


Hanya beberapa gelintir orang yang rela pada kehidupannya. Dan jauh dari penjagaan. Sungai di atas tumpukan buku gelas raksasa sebelumnya, juga hanyalah sebuah pembawaan yang hampa . Sungai kehidupan manusia sudah diganti dengan gelas-gelas yang termakan usia ilmu pengetahuan, yang dipersembahkan kepada manusia guna direguk kekayaan hanyatnya. Namun tiada menghiraukan segala peringatan-Nya.


Manusia sangat bahagia pada saat piala yang diterimanya, adalah suatu kebahagiaan. Manusia menggerutu pada saat dirinya memanjatkan doa kepada Tuhan dan memohon harta benda yang Sama sekali tiada pernah diusahakan. Dan pada saat harta benda yang luar biasa sudah diperolehnya, maka impian-impian pun kemudian menjajahnya untuk selama-lamanya. Bumi ini hanya tinggal bagaikan sebuah bar anggur yang pemiliknya adalah sang waktu. Sedangkan peminum-peminumnya menuntut teramat banyak, dengan bayaran yang tidak sepadan.


Kita selalu mendambakan cinta sejati. Sejatinya cinta itu, bernaung sebagai bahan kimia di dalam tubuh layaknya masuk angin. Angin-angin itu sulit keluar. Perlu ada tangan pembantu yang mau menyentuh punggung, agar angin itu mengalir ke bawah. Suhu panas. Benar, hawa hangat yang positif dan bisa bekerjasama dengan konduktor kulit tubuh. Tetapi kebanyakan di setiap pagi yang dipilihnya, halusinasi akut membuatnya bercinta dengan ayunan. Kesepian.


Tak ada rindu yang bisa disalurkan. Tak ada sayang yang bisa dikatakan. Tak ada cinta yang bisa dibuktikan. Semuanya kosong di matanya. Meski ayunan itu bergerak seribu kali dalam sehari karena pergerakannya, tak akan ada yang berubah di hidupnya. Itu adalah ucapan sudut pandangnya setiap terbangun. Manusia-manusia hanya mondar-mandir memperhatikannya tanpa ada ketukan ingin melihat. Yang terlihat darinya hanyalah kedataran wajah. Benar-benar seperti gelas kosong. Air saja enggan memasukinya. Ia sendiri yang memilih menutup gelasnya.

__ADS_1


Orang-orang semakin mencapnya sebagai pusat kesendirian. Jika ingin melihat manusia paling kosong, lihatlah dia. Setidaknya mungkin demikian apa yang terselip jahat di dalam pikiran orang-orang yang melewatinya. Dia adalah cerminan diri kita yang beruntung. Kita mungkin telah hidup sebagai permata hijau di laut merah. Bahkan sejak masih berstatus sel lincah, kita sudah ditetapkan akan mengalami nasib seperti pelangi.


Meski sesaat, namun hitam seperti pelangi milik dirinya. Lagi-lagi pada sore hari yang dipenuhi para banci, ia berdialog pada belahan dirinya. Ia mengutarakan bentuk cinta yang langka.


"Aku hebat, kan?"


"Bagian mana dari dirimu yang bisa disebut keren?


"Hm, harusnya kau menjadi manusia yang lebih peka tentang cara orang lain memuji dirinya."


"Maksudmu, kau kekurangan pujian? Ibumu tak pernah berkata sayang padamu sejak kecil? Apa ayahmu pergi ke bulan? Apa kau ..."


"Cukup."


"Maafkan aku. Tetapi ... kau bahkan memiliki jawaban yang tak pernah bisa dijawab."


"Kalau begitu, mengapa kau semakin menyerangku dengan pertanyaan psikologi semacam itu?"


"Kau marah? Aku adalah dirimu. Aku adalah orang yang paling mengerti dirimu. Lihatlah ke sekeliling, orang-orang melewatimu. Mereka memberimu rasa kasihan yang bersifat abadi."


"Itu lebih dari cukup."


"Maksudmu? Kau bersyukur terhadap sikap manusia yang semacam itu?"


"Rasa kasihan adalah puncak tertinggi dari cinta. Itu adalah sebuah anugerah juga. Jadi, aku mestinya bersyukur dan tak lagi bersikap kosong."


"Benarkah? Kau ingin mulai bergerak dan hidup lagi di antara semua bentuk emosional?"


"Ya, kurasa. Lagipula, apa yang membuatku seperti ini? Bulan Desember? Oh, tidak mungkin itu jadi salah satu alasan."

__ADS_1


"Lalu?"


"Tak ada lagi orang yang mencintaiku, bukan berarti orang-orang di seluruh di dunia membenciku. Jadi, aku harus mulai belajar mencintai. Itu untuk diriku sendiri."


__ADS_2