
Mengenal Kakek Hwang membutuhkan waktu tak lama di sela-sela perjalanan ini. Soalnya, pada sebagian besar menit perjalanan yang tak seberapa itu, Kakek Hwang masihlah seakan menjadi patung kosong yang berperan layaknya manusia. Ia sedikit saja berbicara namun aku dan Mus entah kenapa, dibuat mengerti dengan sendirinya. Saat itu adalah detik-detik palsu.
Kakek Hwang menerawangi keadaan yang masih pekat, pada pukul 20.00 waktu Sidney. Kehidupan yang baik dan tak pernah terdengar telinga, menjadi tulisan-tulisan tangan Tuhan, yang berjejer rapi di dinding alam semesta. Seperti kisah fantasiku berjudul LO-D. Kalian sudah membacanya? Ah, nanti saja.
Mus, kalian mengerti betapa baik cara berpikirnya. Ia menunjukkan karisma kecerdasan pada Kakek Hwang. Kakek Hwang meluruskan mimik wajah dan memilih menurut pada Mus.
“Okey,” kata Kakek Hwang sebagai tanda sepenuhnya memberi akses memimpin keputusan pada Mus. Di sini aku semakin curiga.
Kakek Hwang memutar balik punggung Mus, saat kami turun dari trem. Gerakan itu adalah tanda beliau meminta Mus, menuntun sebuah keputusan. Sebenarnya aku tidak mengerti. Seakan ada yang keduanya sembunyikan dariku. Tetapi bagaimana mungkin? Sebuah perencanaan sandiawara memerlukan tidak hanya sekali pertemuan. Sementara Mus dan Kakek Hwang baru kali itu bertemu dengan kami.
Entah kenapa jiwa detektifku kumat. Aku yang sempat berangan-angan menjadi seorang polisi seperti pada cerita Room Nakama, akhirnya pada suatu titik nantinya, memilih meninggalkan Mus dan Hajar sementara. Saat terakhir aku kembali ke Sidney, aku hanya mengerjakan tugas-tugas duniawi dari Professor kesayanganku.
Memegangi tingkat depresi secara pribadi di antara gang-gang sempit di dalam ruh pikiran.
Aku bertengkar di antara halusinasi. Bayangan tentang hari-hari yang tak seindah musim panas di Sumbawa. Hari-hari tanpa Hajar, Mus, dan anggota Enam Kelana. Oh,pertanyaan yang selalu melintasi semesta khayalanku kala itu hanyalah, ‘Semoga mereka baik-baik saja.’
Selain kesenangan, Sidney juga menjadi sebuah ibukota layaknya air dan garam. Dua sisi mata uang. Mungkin juga, lebih tepatnya gelombang infrasonik. Gelombang yang memiliki daya tarik bagi setiap orang untuk berkata ‘wow’ di dalam polosnya diri masing-masing. Jika aku persingkat waktu, Kakek Hwang dan kami berdua memang telah mendekati titik yang dimaksud. Universitas Sidney, malam dingin dan harus menjadi waktu acara itu dirayakan.
Pemandangan baik di mana banyak kursi-kursi berhamburan rapi memenuhi lingkaran petak taman kampus. Sebagai salah satu dosen di bidang tema acara, Kakek Hwang memang kurasa memiliki akses yang matang untuk menuntun kami menuju tempat, di mana seharusnya manusia seperti aku dan Mus berada. Jika dilihat dari banyak mahasiswa-mahasiswi yang telah menghadiri acara itu, maka seratus persen aku yakin acaranya akan diindahkan pada malam itu juga.
"If the party is started tonight, how about Hajar, Sir Hwang?’" kekhawatiranku melahirkan sebuah perrtanyaan dahsyat seperti itu. Mus lantas menepuk pundakku lagi untuk kesekian kalinya, seperti telah mengetahui masa depan apa yang akan terjadi. Ia seperti menyiratkan kalimat yang bermakna, kalau aku tak perlu bertanya hal seperti itu pada Kakek Hwang.
__ADS_1
Dan kecurigaanku itu mulai terisi cahaya kebenaran. Bintang-bintang di langit Sidney seakan turun di ujung sana, di kursi terdekat dengan piano yang harusnya dimainkan Hajar. Namun Hajar masih menghilang di belahan Australia ini, bagaimana mungkin ia bisa mengetahui informasi yang kukirimkan melalui media sosial untuknya sebelumnya.
Memang benar, aku hanya perlu percaya pada Mus. Tetapi aku mulai ragu kepercayaan menjadi unsur hati yang cukup, untuk bisa membuat Hajar kembali. Oh, detik malam itu aku bahkan tak memperhatikan kalau Kakek Hwang dan Mus, telah berjalan mulus ke depan, menjauh dariku. Mereka berdua tak menyadari aku masih termenung hitam di tengah-tengah garis lurus, antara kursi-kursi penonton.
Aku memperhatikan ujung-ujung bangunan kampus Sidney yang terhiasi lampu-lampu berskala, layaknya kunang-kunang pada waktu isya. Aku sebetulnya bingung apa yang dipikirkan Mus. Saat akhirnya aku melangkah ke depan menuju titik seharusnya, lampu-lampu mendadak dipadamkan.
Para mahasiswa-mahasiswa dan diriku yang berstatus tamu, cukup dibuat terkejut. Namun setelah suara-suara kepanikan kecil yang terdengar meredup, aku merasa hanya diriku yang paniknya tidak alami.
"Bee, welcome," suara dari speaker. Masih gelap. Orang-orang mengunci suaranya. "Bee ..."
"Mus?" aku memang tak ragu jika itu suaranya. "Mus, ini bukanlah hari ulang tahunku. Kau tak perlu meminta Kakek Hwang untuk mensketsa semua permainan ini dari awal."
"Bee, kemarilah. Kegelapan ini tak akan membutakan pendengaranmu, kan? Kau masih bisa kemari hanya dengan mendengar saja. Kau ingin bertemu dengannya, kan?"
"Tetaplah melangkah, Bee."
Tangan itu terulur ke arahku, telapak tangan Mus. Kaki yang merasa menginjak tangga, mulai sedikit lega dan akhirnya naik ke panggung lebar itu. Lampu kembali menyala. Betapa sebuah kolaborasi tipuan memperdayakan pikiranku selama di Melbourne sebelumnya. Sejatinya memang benar, Mus dan Hajar merencanakan pertemuan ini dengan cara yang cukup menyiksa kejiwaanku. Sebab Mus, Hajar, dan para anggota Enam Kelana, detik itu tersenyum ke arahku tanpa merasa berdosa.
Aku sedih tapi sangat bahagia. Tak ada kamus tebal manapun yang sanggup mengartikan kebahagiaan sekaligus kesedihanku kala itu. Aku menerjang derita dan tawa tertahan yang seirama. Mereka semua pun menertawakan kelemahan diriku, yang gagal menebak pikiran Mus dan semua permainan itu.
Selepas itu, pemandangan baru tercipta di langit Sidney. Aku akhirnya bisa menyaksikan Picolo dan Mus, dua orang dengan nama asli yang sama, berada dalam satu ranah pertemuan paling konyol se-muka bumi Australia. Takiya, Zoro, Wolf, Snoopy, dan Harry Potter juga rela meninggalkan rutinitas formal yang mereka demi menjemputku.
__ADS_1
"Aku berandai-andai bisa mengejutkan kalian semua dengan kepulanganku. Tetapi, yang terjadi malah ..."
"Kau sehat-sehat saja, Big Bos kebanggaan kami?" Hajar mencuatkan sebilah senyuman tajam yang manis, aku setengah tersipu dan kurasa dada diriku bergetar menekan rongga tubuh.
Anggota Enam Kelana melingkari tubuhku dan melepas tawa besar yang menggaung di taman Universitas Sidney. Yang jadi pertanyaan, bagaimana Mus memiliki koneksi dengan mereka semua? Aku hanya bercerita tentang Hajar padanya meski ia sendiri tak pernah melihat secara langsung. Sedangkan Enam Kelana, sama seperti Hajar, Mus lebih dulu meninggalkan Kampus Fiksi dulu sebelum sempat bertemu mereka berenam.
"Kau tahu betapa khawatirnya aku saat pria tak dikenal itu, mengatakan ponselmu hilang?" aku berujar ke arah Hajar. Sementara Kakek Hwang mulai membuka penutup piano.
"Pria itu, akulah orangnya, permainan yang cantik seperti tiki taka Barcelona kan, Big Bos?" kata Picolo mengakui.
Aku hanya menanggapinya dengan tepukan pada jidatku secara pelan dan senyum semringah. Aku memandang ke arah Mus. Ia tahu maksud tatapanku.
"Saat kau menceritakan semua tentang Hajar, aku mencoba menelusuri cara menghubunginya melalui media sosial. Aku memintanya dengan memberitahukan status persahabatan kita. Awalnya Hajar tak mempercayaiku, tetapi setelah aku menyebutkan nama Kampus Fiksi, ia akhirnya mau menyetujui permainan yang ingin kuciptakan ini. Hajar memberiku saran agar mereka menjemputmu langsung dan pulang bersama menuju Tanah Sumbawa. Aku bahkan telah mengirimkan salinan cerita Kampus Fiksi pada Bunda Iga dan Sir Iwan. Kau tak ingin pulang bersamaku dan merangkum cerita kedua ini di langit Sumbawa?"
Mua, ia bereinkarnasi menjadi kupu-kupu jantan yang gila aroma madu. Ia berdiri di hadapanku, di tonton orang-orang banyak yang akan segera melihat Hajar memainkannya musik jemarinya, dan melepaskan segala rahasia pikiran epiknya. Dan hujan pun berhenti. Hajar memulainya. Kami saling merangkul mendengarkan alunan piano di bawah kaki bumi Sidney.
Sebelumnya, saat aku mengunjungi Macquarie, aku telah melihat banyak sekali bentuk senja. Namun tak ada yang bisa menutupi luka kerinduankuku tehadap Hajar dan sahabat lainnya. Hajar, ia adalah awan sore yang sederhana. Sebelum aku melanjutkan cita-citaku menjadi detektif dan telah terabadikan dalam cerita Room Nakama, izinkan aku jujur pada kalian semua.
Pada waktu di mana sekarang aku menceritakan semuanya pada kalian, di Hotel Astoria, Mandalika, Lombok ... aku harus mulai menyudahi semua ini. Aku memisahkan diri sementara dari Mus, Hajar, dan lainnya demi sebuah pertemuan baru dengan sahabat penaku yang membuat suatu masalah besar. Sosok yang harus jadi tombak sandiwara itu bernama Natalie. Kalian bisa membacanya di Fizz*. Seperti kataku, judulnya adalah Room Nakama.
Dan saat ini aku harus jujur, bolehkah aku mencintai Hajar selepas shubuh nanti?
__ADS_1
(Secara Konseptual, cerita ini telah berakhir. Penulis akan mencipta sebuah kumpulan Prosa dengan tetap berada pada halaman berikutnya hingga beberapa keping halaman saja. Ini demi membagi ilmu pada teman-teman, bagaimana cara mudah untuk menjadi Tuhan semu dengan menulis cerita. Apakah kalian seolah mendengarkan sahabat yang berkisah di hadapan kalian secara langsung?)