
Bangau-Bangau Unyu.
Jika ingin tahu arti kebebasan tanpa lupa kekeluargaan, maka tanyakan lah pada kawanan bangau-bangau unyu di langit sore. Ada satu atau dua di antara mereka, bisa saja memilih diam dan menikmati barisan. Beberapa yang lain sibuk menerapkan cara memahami satu sama lain di udara. Berkali-kali pun mereka berjalan pada kaki angin tanpa kehilangan kepercayaan satu sama lain.
Mereka bebas. Mereka memiliki cara hidup yang bisa disebut unik. Jika kita manusia memakai pandangan biasa, kita hanya melihat mereka menari ria di langit jingga sore hari, tanpa mampu memahami bahwa mereka berputar-putar sambil bernyanyi bahagia. Jika kita menggunakan telinga batin, maka mereka jelas menunjukkan lagu-lagu versi hewani ... yang bisa dijual menjadi kaset bajakan jika kita mau.
Bangau-bangau itu unyu, lucu, dan menggemaskan meski dari si pejantan sekalipun. Sebab hanya tiga kata itu, manusia bisa memposisikan dirinya sebagai pengatur yang budiman. Manusia sebagai tokoh hidup yang berjalan di samping mereka tanpa terlihat. Bangau, burung, dan segala mahluk yang terbang tak pernah menginfeksi udara ... hanya bisa berharap pada harapan hukum fisika.
__ADS_1
Entah kenapa mereka, aku, dan mungkin kamu suka menciptakan uap. Uap panas dan dingin yang membanjiri udara dan mengubahnya menjadi jahat. Udara kemudian membenci manusia. Ia rela jadi psikopat karena majikannya tak lagi berakal. Udara sejatinya di zaman dulu lebih suka sepoi-sepoi. Di masa kini, ia ingin sedikit tidak baik lagi. Mencoba menjadi setengah jahat dan tak sepolos dulu.
Berkali-kali ia memaksa dirinya bergerak dan menjadi angin. Saat tinggal di barat, angin hanya diam. Muram. Tak mau mencampuri urusan benda hidup yang nyawanya terlihat. Udara memiliki bagian ruh nya sendiri seperti kawan-kawannya ... air, tanah, petir, dan api. Apapun yang dilakukannya saat di barat, penjuru timur tak peduli. Ia pun bergerak ke timur menjadi muson.
Menampung banyak kekecewaan dan akhirnya menangis. Udara membantu awan mengamuk di kaki langit. Hingga saat awan hujan, udara meniup butiran tak terbaca jumlahnya itu secara kasar. Dibantu petir dan cahaya hitam langit mendung. Jika manusia menulis tentang bangau, mereka hanya akan menjadi buku yang tak pernah terbaca. Dulu, aku sering bertanya-tanya, selain bangau ... kemana burung-burung itu terbang?
Sebuah segitiga fantasi yang disutradarai Tuhan. Tuhan merestui itu. Itu pun jika tiga mahluk ini bisa saling mengerti satu sama lain. Tetapi, rasanya semua bergantung manusianya. Jika memang segitiga, maka titik kerucutnya adalah para manusia. Menyatakan bangau dan katak dalam sebuah hubungan poligami alam, maka hendak manusia harus sadar diri pada titik fungsi bernama peran.
__ADS_1
Aku juga pernah melihat ke arah jenis-jenis keimutan di sore yang jingga. Bila harus diberi nama, maka nama yang pantas untuk keimutan itu adalah waktu maghrib. Bangau tak lagi terlihat di waktu ini. Pertanyaan sebelumnya pun selalu kembali mencuat di batang pikiran, kemana burung-burung itu berhenti? Mungkin mereka hanya berhenti ketika sayap mereka kelelahan.
Mungkin juga terbang sama artinya dengan mengayuh sepeda. Setiap mahluk memiliki penyebab lelah alaminya sendiri. Bangau sekiranya tak selelah elang dan rajawali. Bagi mereka, berkerumun dan terbang bersama keluarga pada sore hari adalah penambah stamina. Jika dimanusiakan, bangau mungkin adalah golongan extrovert. Fleksibel. Sedangkan elang adalah introvertnya. Apakah artinya, manusia introvert adalah ras terkuat di bumi?
Dulu, kakek moyang katanya berkata jika manusia aslinya dari Mars. Sejak iblis beranak kesombongan, manusia pindah kontrakan ke bumi. Lama kelamaan ayah tertua manusia tak sanggup membayar sewa rumah, dan penderitaan pun menyebar ke dua kutub bumi. Ada yang lebih parah, ketika manusia pertama kemungkinan besar menyaksikan bentuk daging-daging di Samudera Atlantik, berpantulan satu sama lain.
Daging-daging itu berpenampilan layaknya semur jengkol ... berlapis tahu, tempe, dan tape yang ketiganya diparut. Itulah makanan para bangau dan katak. Makanan yang sama dan serupa. Sebutannya ikan. Ikan yang dimakan katak dan bangau mungkin berbeda spesies, namun tetap sama dalam hal eksistensi sesuai tabiat. Maka ikan dalam tabiat katak sebagai makanan, adalah para serangga terbang.
__ADS_1
Lagi-lagi katak pandai menghabisi kerabat-kerabat bangau. Terbang adalah kosakata yang juga berguna pada bangau. Manusia dalam sudut pandang menyimak tentang terbang, adalah sebuah halusinasi. Manusia memang selalu berkata niat menjadi ultraman dan bisa melayang seperti bangau-bangau unyu.