Kampus Fiksi

Kampus Fiksi
DERET 18


__ADS_3

"Apa benar itu dia?"


Aku menunjukkan ponselku langsung pada Mus, untuk menjawab ketidakpercayaannya.


"Sekarang kau percaya?"


"Bagaimana bisa ia menggunakan bahasa seperti itu?"


"Maksudmu?"


"Perhatikan bahasa Inggris yang ia gunakan."


"Rumah hijau kita kan memang Sastra Inggris? Kau demensia?"


"Bahasa si Hajar terlalu alami untuk seorang pelajar. Apa kau yakin dia yang mengetik pesan itu?"


"Mus, ini nomor ponsel miliknya ...".


"Coba kau terjemahkan lagi."


"Australia your friend come nothing to be got here. Hajar is this phone."


"Benarkan? Orang lain yang mengetiknya, Bee. Bahasa Inggrisnya tak teratur namun tersirat pesan seolah itu wajar."


"Aku tak mengerti."


"Umumnya orang-orang dengan pemilik bahasa asli atau yang di negaranya mencolok ... dalam penggunaan bahasa tertentu, maka bahasanya akan sangat terlihat alami dan tak terlalu mementingkan gramatikal."

__ADS_1


"Maksudmu, jika Hajar yang menulisnya, maka gaya tulisannya akan berbeda?"


"Benar."


Aku mengira, Mus mengada-ngada dan mengulur waktu. Tetapi, kecerdasannya tak menghilang walau sehasta. Masih tajam seperti dulu.


"Lalu? Ini siapa?"


Usai memberi memberi pertanyaan itu, ponselku berdering. Seseorang dengan suara berat khas negeri kangguru, melintasi speaker ponselku. Aku menyimak aksen alami itu sambil menatap Mus.


"Where this phone refer to?


"Who is called by you? Sorry, this is my friends' number. Why you ..."


"Yeah, I found it. Could you come take them?"


"Sure? Where are you? W-Where is the owner?"


Pria yang menelpon menggunakan ponsel Hajar, menyudahi panggilan. Ia mengirim lokasi tempat ponsel Hajar.


"Ini yang kau maksudkan? Kau memang teliti, Mus."


"Ponsel Hajar dicuri?"


"Benar, kita harus menemukan dia, Mus."


"Ini cukup sulit jika harus melakukan sesuatu du kali."

__ADS_1


"Melakukan sesuatu dua kali?"


"Begini, " Mus bangkit dari kursinya. "Kita akan mencari Hajar atau mencari ponsel letak ponselnya?"


Mus menyentak logikaku hanya dengan pikiran sederhana begitu. Aku merasa kalau diriku sangatlah bodoh. Mus benar.


"Mus, kau benar sekali. Ya ampun, betapa bodohnya aku. Jika kita menuju lokasi ponsel itu pun, Hajar tetap tak akan kita temukan. Aku tak bisa membayangkan betapa kebingungannya dia."


"Itu memang benar. Tetapi tak sepenuhnya salah juga, Bee. Maksudku, dengan adanya informasi lokasi ponsel itu, kita jadi punya fokus tempat mencari Hajar. Tak mungkin kota tempat ponselnya terjatuh, dengan kota Hajar berada sekarang berbeda."


"Ya, aku mengerti. Kita bisa beratku sebab ada orang baik yang mau menghubungi. Ia tidak mengambil atau menjualnya. Tetapi maksudku, melakukan sesuatu dua kali itu apa, Mus?"


"Kita menemukan ponsel Hajar dan juga dirinya."


"Tak sepenuhnya salah juga, Mus."


"Aku kan memang berkata begitu sebelumnya."


"Yap, kita tak mungkin mencari Hajar dan bertemu dengannya, tanpa membawa ponsel miliknya itu. Menemuka ponselnya sesuai keberadaan lelaki tadi, juga termasuk menolong Hajar yang juga pasti sedang meringis mencari ponselnya."


"Tetapi ..."


"Oh? Apa lagi, Bee?"


"Kenapa pria tadi bisa langsung menelpon ke nomormu, Bee? Itu aneh, bukan? Dari sekian banyak nomor yang di ponsel itu, kenapa ia bisa memilih dengan tepat ... siapa yang harus dihubungi."


"Kurasa ia hanya reflek melihat pesan terakhir di ponsel Hajar. Meski tak mengetahui arti bahasa pesan Hajar, tapi ia yakin kalau nomorku adalah solusi untuk dihubungi."

__ADS_1


"Entahlah, kita hanya perlu ke lokasi itu dulu, Bee. Kita akan tahu sendiri jawabannya nanti."


Mus menutup kekhawatiran kami dengan elegan. Kami menuju sisi benua Australi yang lain, yakni Sidney. Itulah keterangan lokasi ponsel Hajar yang dikirim pria tadi. Saat itu, adalah awal dari skenario di balik layar, yang menjadi akhir tak terduga.


__ADS_2