
Hari terasa bergerak 48 jam dalam sehari bagi Yuri. Ia selalu menjadi guru bagi dirinya sendiri. Kegengsian juga menjadi nilai layaknya uang dollar baginya, untuk membayar pendidikan. Pendidikan bak air sungai tawar yang tak bisa disejajarkan dengan samudera baginya.
Kekayaan Yuri membuatnya harus membeli ruang dan waktu orang lain untuk memberinya pengetahuan. Dirinya sendiri sudah cukup menjadi segalanya untuk setiap umur yang ia lalui. Dibandingkan Millea yang diperkenalkan pada prosa sebelumnya, Yuri mungkin ada di lapis langit tersulit untuk dijangkau. Keterbalikan yang hakiki.
Millea yang membutuhkan lingkungan, alam, dan cinta untuk berkembang menjadi sebuah rantauan, maka Yuri hanya membutuhkan diam. Diam yang memiliki keefektifan melebihi laju mobil 40 kilometer per jam. Saat Yuri dan Millea berencana untuk saling membutuhkan, hati hitam dan putih itu mendadak kompak. Tak ada manusia lain selain Millea yang bisa menyentuh satu-satunya kekurangan Yuri. Kekurangan itu adalah keseruan dan kejujuran.
__ADS_1
Yuri tahu kalau Millea memiliki obat kebosanan itu. Obat yang tak bisa ia beli dengan segala materi, yang tersimpan di kantong hidupnya. Yuri dan Millea, seperti air dan api. Millea, angin yang selalu bisa membesar semangat hidup Yuri di manapun ia membutuhkan permainan hidup.
Namun saat satu detik hadir untuk diabadikan, Millea kehilangan alarm hidupnya. Ia lupa tersadar dan menjemput Yuri di rumah nerakanya. Jika Millea menghitam, maka Yuri akan otomatis ikut seperti apa keadaan Millea pula. Yuri tak ingin tinggal diam, ia mencuri banyak sinyal telepon di pusat-pusat telekomunikasi. Semua jaringan dibeli olehnya.
Saat tersambung ke jaringan hati Millea, ponsel batinnya dimatikan. Yuri panik. Ia merasa Millea berubah. Ia tak lagi mengirimi sinyal pertemenanan tulus itu. Keesokan harinya Yuri menuju puncak seorang diri. Ia melihat danau buatan. Yuri menatap bayangan dirinya di air danau. Ada ingatan tentang keluarganya di situ. Ia akhirnya sadar, ia harus meninggalkan semua materinya dan menemui kembali semua anggota keluarganya.
__ADS_1
Yuri kembali ke Bogor. Menemui ibunya. Namun tak ada siapa-siapa di sana, di rumahnya yang seperti vila kematian. Yuri menyebut nama sosok yang ingin ditemuinya, "Mami!". Tak ada jawaban sayangnya.
Ia bergegas dan membenah diri. Matanya sayu dan berbalik jauh meninggalkan rumah. Tiba-tiba Millea kembali hadir, tepat pada hitungan langkahnya yang kelima. Yuri mengangkat wajah, Millea pun tersenyum seperti penjual ikan di pasar yang kedatangan banyak pembeli. Millea belum mau berkata apa-apa. Yuri pun sama. Mereka berdua mencoba menjadi keheningan itu sendirian.
Mereka mencoba menjadi belahan diri mereka yang lain. Sadar jika segalanya tak sesuai keinginan. Mereka menyadari diri mereka bukanlah batu dan belahan kerikil. Mereka dua manusia yang ternyata saling membutuhkan. Millea dan Yuri saling memeluk kemudian.
__ADS_1
Millea menjelaskan jika sebelumnya ia ada urusan duniawi.Meninggalkan persahabatan sementara mereka seolah-olah ada kampanye presiden. Keharuan, tangis, dan tujuan baru lahir dalam pelukan itu. Yuri pun tersadar, kembali menjalani hari-harinya yang normal. Tak ada materi berlimpah, tak ada teman, tak ada siapa-siapa di tempanya sekarang.
Semua yang terjadi sebelumnya adalah impian jujurnya. Dia, terbaring di rumah sakit. Bunyi mesin penanda detak jantung itu berhenti beresonansi. Yuri kehilangan dirinya, pikirannya, kenangannya, dan hanya tersisa hatinya yang tersenyum... karena sudah berhasil menyelamatkan sahabatnya Millea dari kecelakaan. Ia menjumpai Tuhannya dalam keadaan penuh senyum. Terimakasih Yuri, kamu gadis baik yang tangguh dan tulus. Kamu adalah getar pertama yang meruntuhkan kebosanan hidup Millea.