
Perjalanan hidup selalu berubah ya? Pertanyaan seperti ini pun bisa tak sama lagi di kemudian waktu. Setiap insan memiliki platformnya sendiri untuk menampung pengalaman-pengalaman emosional. Psikologi jadi ranah hukum, fisika, politik, bahkan asmara jadi bumbu kacang halus.
Digiling di dalam mesin blender. Saat melangkah maju ke arah cita-cita, kita mencicipi bumbu itu sebelum bergegas. Setelah terhitung seratus langkah, awal yang baik memunculkan sebuah nama sebuah cerita.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan psikis dari manusia sehat yang mengaku gangguan jiwa. Ketika diperhatikan, satu baitan nafas berisi terjemahan karakter. Si sakit dan si pura-pura menerjemahkan jawaban dan saling mencuri pencitraan masing-masing. Ternyata mereka sama-sama sakit tapi pura-pura sehat. Orang ketiga pun tiba, menawarkan kehormatan dirinya untuk dijadikan hadiah. Mereka berdua menolak. Memilih tegak pada pendirian palsunya. Mencoba bersikap apa adanya, tenang, dan memfilter hawa nafsu buruk yang tiba-tiba saja menyerang.
__ADS_1
Seperti memainkan orgel di antara sudut-sudut tiang katedral. Di dalamnya dipenuhi teriakan wanita-wanita perkasa. Mereka ingin menjadi kucing jalanan saja. Sudah tak kuat menjadi manusia yang tak dihargai tuannya. Bagi mereka, merantau bagaikan ditelan pusat bumi dan keluar lagi melalui Palung Mariana. Sama saja, psikiater tadi pun demikian rewel dan enggan menjadi tuan lagi.
Kemarin, aku juga melakukan hal serupa. Keluar dari rumah. Aku berkhayal itu adalah sebuah rantauan, meski hanya sebatas di depan teras. Menjemput seseorang dengan hijab merah muda, mata biru, dan hati menyala-nyala seperti lampu taman. Hujan pun menghantam teras rumahku. Tuhan mungkin sengaja memberitahu tanda-tanda-Nya. Ada ketidakbaikan yang harus kuhindari sementara.
Rasanya aku tak cocok jadi manusia yang suka jalan-jalan. Suka kemana-mana. Aku rasanya lebih berfaedah jadi manusia tukang makan, tidur, dan sesekali mencoba memahami diri sebagai Ultraman. Lebih baik bagiku bekerja secara cerdas dan otomatis.
__ADS_1
Menjemputnya saja serasa dikejar kawanan kuda liar. Detak jantung jadi bertalu-talu. Hatiku berubah jadi seperti warna hijabnya. Merah muda merona -rona. Aku sedang jatuh cinta berkali-kali dalam menit yang sama. Hal teraneh yang sering terjadi pada invidu ketika jatuh asmara. Meskipun ia belum sepenuhnya menerima balasan hati yang serupa.
Tak lagi sama dan tak akan pernah bisa dijawab siapapun. Tuhan mungkin sedikit murka saat proses pertahanan jiwa itu. Kita sepertinya memberontak dan mencoba agar Tuhan tetap konsisten bersama kita. Jika kuputuskan merantau, bisakah perjalanan hidup senantiasa berubah? Kembali ke pertanyaan semula.
Pertanyaannya yang sama pada fase ini, kita telah tahu jawabannya. Ya, hidup bergerak meski tak berotasi. Tahun-tahun sebelumnya, para wanita-wanita perkasa menyusulku sebagai pemuja rahasia. Mereka membungkam keserasianku dengan si hijab merah muda. Bertahun-tahun pada edisi kedua, aku *******-***** hati dan kabur dari pujian-pujian mereka.
__ADS_1
Mereka menamai diri sebagai ratu-ratu ghibah. Aku dikejar-kejar demi pemberian predikat sebagai raja ghibah dari mereka. Melarikan diri dalam hal ini adalah sebuah kewajiban. Mungkin juga sebuah perjuangan layaknya berjihad. Cinta yang dilapisi keanehan seperti parfum-parfum berbahan kimia berlebihan. Jika kita kembali ke pertanyaan awal, maka seperti sebuah lirik lagu yang meminta ampun karena sudah diperdengarkan. Perjalanan hidup selalu berubah, kan?