Kampus Fiksi

Kampus Fiksi
PROSA: Rumah Yang Membeku


__ADS_3

Suatu tempat bisa disebut rumah, ketika ada orang yang memikirkan kita. Tempat paling utama dan terbaik untuk dituju. Semua kenangan bisa kita terbitkan berulang kali di sana. Ada sosok yang paling mengerti keadaan dan rasa pedih itu. Tempat di bumi seperti Surga selayaknya kebahagiaan kucing-kucing, yang ditampung di tempat penampungan.


Mereka bahagia karena terpilih untuk dirawat dan merasakan kasih sayang tanpa alasan apapun. Sejatinya mereka sadar, jika hidup mereka berbanding terbalik dengan kawanannya di jalanan hitam. Setiap malam nyuri ikan Ibu Sri. Matanya menyala karena menyusup dalam gelap. Pupil mata yang menyiratkan kalimat-kalimat manja untuk dipahami. Sayangnya sedikit saja yang menjemput sudi. Suara-suara pada setiap malam dingin, suara petir mengenaskan, dan replika suhu beku memaksanya untuk menyebut-nyebut kepedihan di depan pintu.


Mereka tahu panggilan mereka mustahil diindahkan, tetapi memang tak ada pilihan. Kesadaran tak ada mahluk lain yang memikirkan, keputusan untuk tak mencari-cari rasa iba lagi adalah pilihan. Kucing-kucing di galaksi Bima Sakti semuanya bisa bebas. Menyukai kebebasan namun enggan menerima kebesaran. Aneh yang nyata dan bisa diterima. Seperti Andi, ia pagi ini harus menerima omelan maut ibunya lagi. Ia lupa membagi jatah kasih sayang pada adiknya. Terlalu sibuk pada bisnis impian.


Andi sangat beruntung tidak jadi kaya. Meskipun jago bisnis, ia masih belum bisa membeli kekayaan. Adiknya menantikan masa itu. Setiap hari Andi mengisi kekosongan hatinya di suatu tempat selain rumah. Ia akan aman di sana. Selalu selamat dari kritikan merah ibunya. Kesehatan mental adalah segalanya bagi Andi. Rumah-rumah yang diimpikan Andi adalah rumah para Bidadari Firdaus. Khayalan tingkat tinggi bisa beribu kali seringnya dilakukan Andi.


Jika orang-orang di sekitar Andi diminta menjadi dirinya dalam selusin hari saja, maka akan sangat banyak angka bunuh diri sebulan kemudian. Hitung saja kalau tak percaya. Yang aku harapkan, Andi bisa kembali membeli ruang rencananya untuk bisa merasa hidup lagi. Dunia memang sudah seperti lansia, namun kertas pikiran harus tetap bijak untuk diisi. Itulah yang aku sadari dari cara berpikir Andi. Bodoh dan sangat tidak pintar.

__ADS_1


Andi hanya tidak tahu cara menjadi pintar dan membenci kepintaran. Anehnya ia cerdas meluruskan kebencian itu. Begitu mulus dan terawat di dalam sana, di dalam pesawat kecerdasan milik Andi. Kecerdasan yang berpasir-kan karang-karang kecil. Andi menyadari dirinya seumpama kucing-kucing tak terurus di jalanan negeri. Ia selalu paham kalau hati adalah benda yang strukturnya berbeda. Susunannya tak memerlukan serum apapun, cukup dibersihkan dan difilter.


Senjata penghancur tercanggih dan tercepat untuk bisa mendeteksi kebohongan manusia. Hati, kata benda ini menyebabkan Tuhan mau berbagi uluran tangan-Nya. Ia sukarela berkolaborasi dengan manusia untuk menjaga galaksi kehidupan. Bahkan jauh sebelum hati diciptakan, Andi sudah sering bermimpi dipeluk Tuhan. Bisa saja ia menghabiskan lusinan waktu di pojokan Surga, lalu akhirnya terendap jatuh lagi ke bumi Bima Sakti.


Ketika Andi terbangun, ia lagi-lagi melihat kesepian. Mungkin ia memang tak usah bangun saja. Jika diperhatikan hati-hati, Andi adalah sosok pelamun akut. Ia sama sekali tak mempunyai ibu hobi mengomel, adik tukang ngambek, atau rumah kecil sebagai ruang penampungan kucing. Bulan sebagai satelit adalah cerminan diri Andi saat terbangun. Tak ada orang-orang dan suara-suara sahutan.


Andi sadar, omelan seorang ibu dan rewelnya seorang adik adalah sebuah hal yang harusnya disyukuri. Sebab sedari kecil, Andi tak ada kesempatan mencicipi suasana umum begitu. Ia dibesarkan di yayasan hidup bernama panti. Ia sudah besar sekarang. Dewasa. Umurnya dua puluh lima tahun. Sudah punya rumah sendiri, kendaraan pribadi sendiri, dan plot hidup sendiri. Ia sudah tak bergantung pada yayasan lagi. Yang ada Andi membantu yayasan. Ia tak ingin memindahkan kaki ke luar kota, menjelajahi negeri, atau menikmati hukum dunia.


Rumah, di antaranya berbentuk tabung namun di dalamnya cembung. Orang-orangnya berseragam namun di dalamnya mungkin tak saling memperdulikan. Intensitas kekesalan, kebahagiaan, rasa cemas, gemas, emosi tak menentu, dan kebebasan bisa saja sama definisinya. Bagi si pendiam dan pendoa, semua bentuk perasaan mungkin adalah hantu buruk rupa. Mereka memilih bertengkar dengan dirinya sendiri. Kemana-mana selalu melirih di setiap sudut rumah.

__ADS_1


Yang ada hanyalah gelas kosong. Andi adalah salah satu dari spesies mereka. Ia sering lupa mengisi air dan gelas. Lowongan pekerjaan di brosur-brosur tak ia hiraukan. Andi kian hari kehilangan dirinya yang penuh semangat dulu. Air matanya kering dan beruap. Menangis menjadi hal mustahil baginya. Aku sesekali ingin mengetuk pintu rumahnya, memukuli lengannya secara terpaksa, dan mengajaknya jalan-jalan.


Hidup sebagai Andi bisa saja mudah bagi sebagian orang. Namun entah kenapa, ia memilih beku. Aku lupa memberitahunya dulu, bahwa hidup akan mengikis apa saja yang memilih tak bergerak. Hidup secara umum beredar dan teori big bang itu masih berjalan secara halus. Andi tak menyadari itu. Dirinya adalah cerminan dari ribuan belahan lain seperti dia.


Aku menitis beberapa harapan untuknya, agar semua kenangan buruk tentang keluarganya di masa lalu bisa jadi bumbu. Bumbu kacang, bumbu dapur, kemiri, bawang putih, bawang goreng, bawang merah, dan semuanya berkolaborasi menjadi bahan masakan favoritnya. Mungkin masakan favoritnya adalah kunci kesembuhan batin Andi. Aku juga terkadang curiga, ia tidak lupa cara memasak, namun tak ingat cara menciptakan bumbu masakan kesukaannya. Alasan ia redup, remang-remang, dan tak lagi bercahaya.


Dapur hatinya kehabisan stok bahan. Di dalam kamar putih itu melayang-layang kulit pisang, kulit bawang, kulit mangga, dan juga pepaya yang lupa dikupas. Malam hari pada detik kebiasaan yang sama, Andi kembali mengulang pertanyaan serupa. Mengapa ia tak bisa menelepon siapapun? Jika aku dan kau melihat ponselnya yang tak rusak, itu hal mustahil. Hal aneh dan konyol untuk jadi alasan tak ada cara menelepon. Ia hanya tak mau menyimpan nomor siapapun.


Sebaliknya, ia berharap ada orang yang mencari-cari nomor ponselnya tanpa ia minta. Sebuah harapan paling aneh yang pernah ada. Sekarang kau paham, kan? Andi tidak sakit jiwa ataupun kelelahan mental. Ia hanya tak bisa menang dari kerak masa lalunya. Kunci masa depannya tertinggal di sana, di sebuah kota mati yang ditemukan hanya olehnya. Virus-virus kesombongan lahir dan berkembangbiak sangat banyak.

__ADS_1


Menginvasi perumahan yang pernah dimiliki keluarga Andi. Mereka semua akhirnya lenyap dan negerinya di balik. Andi kehilangan kunci bernama kasih sayang itu. Hatinya bernanah dan tak ada obat berupa pil cinta kasih lagi ... yang biasa ia terima. Tak ada manusia yang bisa menang dari virus kesepian. Dan lagi-lagi Andi terbangun dari tidur singkatnya tadi. Ia tak pernah punya kota mati, hanya seorang yatim piatu yang meminta dihargai.


__ADS_2