
Cinta merpati putih. Di atas sana salju abadi menggerayangi langit. Langit silau dan pura-pura menyimpan rahasia. Bahagia tanpa rasa. Tanpa disadari waktu yang sama seperti saat aku terbangun. Semua paragraf mimpi. Detik ucapan diriku terbaca sebagai kegilaan hakiki. Bukan? Itu menurutmu.
Langit pura-pura menyimpan kebahagiaan, ketidakpastian, dan bahkan termakan cahaya-cahaya tetangga planet sebelah. Ada birokrasi yang menekan gaya hati. Jari-jari tak lagi sama. Buah-buahan aku rasa telah berhasil menjadikan manusia parasit. Kita butuh vitamin. Apel-apel yang dipetik para bocah purnama kemarin, benar-benar cukup untuk bisa dimaafkan.
Aku ingin kalian menerima sedikit promosiku pada kisah, "Kucing-kucing Bima Sakti." Dialognya lentur, kental, manis, dan cukup nyeleneh. Berikut kebodohannya aku sajikan.
"Dialog apa yg harus ku balas, bukan kah otak mu sudah penuh dengan imajinasi-imajinasi ikan terbang?"
"Hm, aku jadi bingung tentang sejatinya manusia seperti dirimu ini. Ketika beberapa abad aku di bumi, tanpa aku sadari negeri di atas langit sudah tak asing bagi telinga ini. Aku sedikit heran tentang si Meo kucing liar jalanan Mesir yang terdampar di jalanan parit."
"Sebenarnya siapa yang harus kita jadikan tokoh utama cerita ini, Nyet? Aku rasa ... Meo lebih senang mengubur diri di gurun Mesir daripada berpetualang bersama kita. Akan lebih baik jika kita meminta salah seorang bayi manusia. Dia pasti sudah pernah melihat wajah Tuhannya sekilas di langit Bima Sakti. Apa kau setuju, Nyet? Ataukah kita perlu menyelamatkan Meo terlebih dahulu di Parit?"
__ADS_1
"Jangan kan parit, kesesatannya membuat dia menderita sekarang, dia bingung harus memilih mimpi yg mana sekarang kembali ke langit, atau ke Mesir yg di mana sekarang telah diisi para predator otak panjang yg rakus akan isi perut."
"Aku menunggu informasimu cukup lama. Kupikir kau akan memberikan pesan panjang dari Bumi. Ternyata kau masih mengurusi manusia-manusia di ruangan beracun itu. Nyet, bagaimana kalau kau bunuh diri sebentar agar bisa pulang kemari dengan cepat? Aku akan mengganti nama dari Buu, menjadi Boo. Dan kau berubah dari Nyet, menjadi Monyet. Aku ingin kita silaturahmi dengan manusia. Menyudahi perang dingin di negara-negara adidaya adalah tujuan kita."
"Peperangan hanya untuk mereka yang buta akan mata hati, untuk sekarang aku lebih memilih berpetualang mencari bagaimana agar aku bisa mati walaupun tubuh ku masih berburu Beratus belalang di taman safari sekarang.
"Apa kau masih dikurung dan jadi mainan sirkus di taman itu? Lalu bagaimana cara kau keluar dan menyelamatkan Meo, si tokoh utama kita?"
"Bisakah kau menjabarkan sedikit keadaan itu? Em, maksudku ... bagaimana bentuk rasa cintamu yang akhirnya menjadi kebencian? Bisa kau ceritakan, cara manusia membuatmu jatuh cinta lalu menjatuhkanmu dari langit-langit?"
Sedikit coretan dari pena yang ku anggap derita. Jemari berdansa mewakili isi hati.Karena kekakuan bibir sudah terlalu naif untuk mengucap negeri asal. Ada pola pada luka yang ku terima, entah itu suka rela atau terpaksa.
__ADS_1
Perlu mengucapkan syukur dari jamuan cinta yang kudapat atau aku buat, serta rasa sakit yang kuterima sekarang. Hingga ku gila dan rindu pada langit yang di mana kendi-kendi-nya, ikan-ikan di langit dengan mudah ku gapai ... untuk mengganjal rasa lapar perut ku.
"Sekelas Meo hitam seperti dirinya bisa semendung itu. Tetapi, kendi-kendi di langit? Apa maksudmu, Nyet? Bukankah hanya kita dan lumba-lumba itu yang ada di galaksi ini? Bagaimana kendi-kendi itu bisa sampai ke permukaan atmosfer Bumi? Nyet, kau membuatku pusing sekarang."
"Sudahlah mengenai itu nanti sedikit kugambarkan biar kau bisa mengerti, yang jadi masalahnya sekarang aku sedikit kebelet buang air. Kau diam saja di tempat sekarang dan jangan bergerak sembari menunggu aku kembali."
"Lote, kau mau satu? Ini adalah sejenis lontong buatan gadis-gadis Alfamart di Bumi. Ya, aku ingin menukar beberapa uang di planet sebelah."
"Ok, Buu. Aku lanjut kan tentang sekilas kendi-kendi langit."
"Kita tingkatkan sehingga masuk ke dalam kode-kode Bima sakti, kita urai ke langit-langit, biar hujan turun dan para kucing perumahan tambah waras. Dan mereka bisa masak air di kurungan."
__ADS_1
Pembicaraan bodoh itu adalah dua mahluk berbeda takdir, saling mengirim informasi, memperkuat sinyal, dan tidak lagi saling melupakan. Informasi apapun selalu tertahan jika salah satu melupakan. Silaturahmi dengan seekor monyet manapun, akan jadi sangat menarik bagi Buu. Seseorang dengan kualitas nalar di langit pertama sekalipun, tak akan bisa menemukan apa-apa seperti mereka berdua .... jika menyelimuti diri dengan kesombongan.