
"Seorang hacker yang budiman."
"Haha," Mus tertawa.
Entah kenapa kami malah tidak panik sama sekali. Kami menganggap telinga kami bermasalah saat pria tadi berkata, kalau ia seorang peretas.
"Kita tetap harus berpikir seperti ultraman, Mus.
"Caranya?"
"Kita menggunakan tehnik yang disebut pusat pikiran."
"Kau berlagak seperti seorang tukang hipotesis, Bee."
"Hipnotis."
"Ya, itu maksudku."
Mus kemudian memejamkan matanya dan membukanya lagi secara perlahan-lahan. Bibirnya berkoar-koar kecil seperti mbah Dukun.
"Kurasa pria itu bercanda. Dia sedang emosi," Mus selesai dengan analisisnya.
"Emosi terhadap apa?"
"Bukankah kita terlalu banyak bertanya? Mungkin dia akhirnya mengeluarkan sisi komedinya yang berharga. Ia agak kesal karena kita menelpon dan menanyakan hal yang tak perlu. Padahal kita seharusnya hanya perlu mengikuti link lokasi yang ia kirimkan."
Mus benar. Kami memang hanya tidak mengerti cara untuk mempercayai pria itu. Entah psikologi jenis apa yang kami hadapi saat ini. Situasi terburuk adalah saat aku dan Mus, meratapi tatapan masing-masing. Tanpa disadari waktu, kami memang harus menaiki trem versi gratis di pinggiran jalan yang baik dan sopan, kami memadu kekompakan.
"Kita akan ke lokasi sambil menikmati kesepian hidup, yang menggelombang di dalam trem ini, Mus."
Aku sedikit tak setuju dengan kalimat Mus, "Kenapa kau masih merasa kesepian di saat masih bisa bersama orang yang percaya pada impian-impianmu dulu?"
"Kau ingin bernostalgia lagi?"
"Itu akan memakan banyak waktu, Mus. Bukankah kita sudah merenung sangat dalam, tentang perpisahan pertama kita yang menyakitkan dulu saat masih di Rumah Hijau?"
"Kau masih mengingatnya?"
"Bagaimana aku bisa lupa denganmu yang harus menjadi orang pertama, yang memisahkan diri dari Kampus Fiksi? Di saat akhirnya aku menjadi satu-satunya pejantan tangguh yang tersisa."
Mus hanya mengembuskan nafasnya secara damai. Ia memang ahli menanggapi pertanyaan orang lain tanpa harus berkata-kata.
__ADS_1
"Kau memang pemimpi yang baik, Bee," ujar Mus sederhana. "Aku jadi teringat sahabat-sahabat kelana yang kau ceritakan itu."
"Ya, namanya sama sepertimu."
"Dia yang menemani dan mempercayaimu untuk bisa meraih jiwa Hajar."
"Ya, sedikit. Semua anggota enam kelana memiliki peran anehnya masing-masing. Terutama Mus yang selalu kupanggil Picolo, ia memiliki energi kecerdasan yang sedikit sama denganmu. Hanya saja berbeda dalam urusan kekonyolan berbahasa."
Mus tertawa.
"Kau tertawa dengan penuturanku?"
"Sangat tidak ramah membandingkan sahabat-sahabatnu dengan cara seperti itu, Bee."
"Jadi, aku salah sekarang?"
"Tidak, bukan itu maksudku. Lihat ke sana!"
Mus memerintahkan pikiranku memandang arah kiri. Sebuah keramaian yang langka terlihat menarik untuk didekati.
"Apa kau ingin kesana?" aku mencoba membaca pikiran Mus.
"Aku hanya ingin kau mengangankan keramaian itu sebagai situasi, dimana Rumah Hijau kita di negeri Tambora, telah ramai dan dipenuhi para intelektual muda. Tak seperti saat kita masih kusut dan hanya melihat kerangka-kerangka bangunan kampus fiksi."
"Bukankah itu sebuah brosur yang dicari Hajar?" Mus merubah arah pandanganku seketika. "Tak ada yang lebih baik sebagai petunjuk, selain daripada brosur itu, Bee."
"Apa maksudmu?"
"Stop here!" Mus menginginkan agar kami berhenti sejenak dan turun. Turun melangkahkan kaki kembali menuju sebuah titik baru. Titik yang hanya Mus sendiri bisa memahami sementara waktu. Aku lunglai tak bermuka bahagia.
"Kita bisa meminta Hajar untuk menuju ke arah kita."
"Bukankah kita harus ke lokasi itu?"
"Bee, Hajar adalah seorang gadis yang cerdas. Dia bukan anak kecil yang hobi menangisi kerasnya kehidupan masa kini. Dia akan lebih membutuhkan tujuan baru, yang membuatnya menuju ke arah kita. Sehingga kita akan bertemu dengannya pada sumbu yang seirama. Lebih terarah dan jelas. Tanpa perlu bersusah payah melarikan diri dari hari ini."
Aku mengangguk kecil dan menunjukkan wajah memahami. Meski tak sepenuhnya aku mengerti, aku hanya perlu untuk tetap percaya padanya. Dalam perjalanan aneh yang tiba-tiba ini, kami menciptakan suatu langkahan baru bernama 'Jalan Kehidupan.'
"Sebutan yang bagus, kita bisa menaruhnya dalam novel kedua perjalanan Kampus Fiksi," ucap Mus ketika aku tadi mengatakan nama impian baru kami. Impian ini dikategorikan sebagai impian jangka pendek. Masa singkat yang perlu makna berarti. Jalan kehidupan yang memudahkan pertemuan kami dengan Hajar.
"The Piano Music Party," Mus membaca brosur di dinding jalanan yang dekat dengan keramaian tadi.
__ADS_1
"Aku ingin melihat Hajar mewujudkan mimpinya di sini, selain sekedar bertemu dengan dua manusia aneh seperti kita."
Mus entah kenapa kembali tertawa, "Haha, berhenti menjadi pria negatif dan hobi depresi, Bee. Hajar pasti justru menginginkan kebahagiaan akhir untuk kita semua."
"Ya, kau benar. Apa kita akan mengirimkan foto brosur ini ke media sosial Kampus Fiksi? Di sana, mereka akan histeris di dalam batin karena senang melihat caption impian baru ini," kataku yakin.
"Tetapi ..."
"Apa, Bee?"
"Kau bisa mengerti hal buruk dengan cepat kan, Mus?"
"Kenapa tiba-tiba membahas keburukan? Hal buruk apa?"
"Hajar tak akan pernah bisa melihat ini dan bisa mengerti kemana harus menemukan kita."
"Maksudmu karena ponselnya ada di pria itu?"
"Benar."
"Bukankah sudah kuingatkan hatimu, Bee. Hajar adalah gadis tercerdas di Sumbawa. Dialah orang yang mengajarkan dirimu kalau, hidup kita bukan untuk diri kita saja. Ada jatah orang lain yang Tuhan selipkan."
"Apa hubungannya dengan itu?"
"Kau masih belum mengerti? Serius, kah?"
"Ya, aku tak bisa membaca maksudmu kali ini, Mus. Aku tak ingin berpikir terlalu keras dulu. Kita bahkan belum menemukan Hajar ... jadi hemat lah energi berpikir."
"Jika lapar, kita hanya perlu makan, Bee. Hidup ini sebenarnya mudah untuk orang yang sulit. Hidup ini sulit untuk orang yang sebenarnya mudah."
"Bisakah langsung ke intinya?"
"Hajar pasti hafal nomor ponsel sahabat-sahabatnya."
Aku tersentak pikiran tak biasa Mus. Dalam keputusasaanku yang berusaha ditutupi oleh kata-kata, Mus menyiratkan cahaya kedua. Tak ada yang lebih baik dari cahaya, sebagai zat kehidupan di alam semesta ini.
"Jika dia hafal sekalipun, dia tak akan ... eh, benar juga!" aku malah girang secara spontan dan membuat keramaian di sekitar kami hening sejenak.
"Selamat, kau berhasil membuat kita jadi pusat perhatian, Bee."
"Apa tak ada yang lebih baik dari media sosial?"
__ADS_1
"Itu adalah pilihan terbaik sementara ini, Bee. Hajar pasti telah menggenggam ponsel baru itu. Ia di suatu tempat yang asing, pasti menggunakan kertas-kertas bernilai dari saku beasiswanya," Mus nampak yakin. "Hidup yang baik adalah hidup dengan kemampuan melihat banyak sudut pandang, Bee."