
Detik yang silau di sebuah telaga. Di sana ada lukisan buku-buku berbentuk wadah gelas raksasa. Di atasnya ada air melimpah. Air itu memanjang ke belakang. Pusatnya adalah lingkaran gelas raksasa tadi. Semak-semak belukar mengelilingi gelas raksasa itu. Gelas itu berbahan kayu kokoh. Air nya entah kenapa, tak mau tumpah dan nampak diam. Seakan ada nyawa di sana. Nyawa yang membisu namun penuh kata-kata mutiara. Tenang, sangat tenang.
Aku menginginkan jerih dan payah agar bisa menyemarakan ketenangan di sana. Namun lagi-lagi entah kenapa, ada ketidakcocokan yang terasa di dadaku agar tetap diam. Ketidaktegaan itu berteriak dan meminta aku tak usah mendekat. Jika diperhatikan lebih dalam, ketenangan tadi adalah ilustrasi dari sebuah gambar bernyawa. Gambar itu bernafas. Nafasnya tak bergerak. Hanya saja, aku percaya dan yakin ada oksigen di sekitarnya.
Oksigennya serasa baru, berbeda, dan sangat bertolak-belakang dari air alami manusia. Berlainan dari diriku yang tak pernah bisa belajar tenang. Anehnya itu nyata. Gambar itu mutlak keberadaannya. Kurasa sejatinya, aku pernah melihatnya di dalam kepala masa laluku. Penuh memori tentangnya yang telah pergi tanpa pamit. Penuh rasa tega, pengkhianatan, bahkan ada janji-janji yang tak sempat terintegrasi.
Sekali lagi, gara-gara gambar itu ... aku mengingat hal-hal beracun yang belum memiliki waktu dinetralkan. Aku lupa mencuci otakku sendiri. Penuh kebodohan masa silam, di mana aku harus mencintai seorang begitu dalam sampai bernanah. Lebih tepatnya gila. Aku hidup untuk kebahagiaan bidadari hitam, namun mati sendiri tanpa keputihannya. Tetapi yah, biarkan saja. Kerinduan individu-ku tak berlaku lagi di masa-masa netral ini. Kali ini lebih menyenangkan dan aku bisa cukup terisi tawa hari ini.
__ADS_1
Hanya saja, telaga tadi mulai senyap, sembab, dan semak-semaknya mulai terlihat gelisah. Apa yang terjadi? Satu pertanyaan klise mencuat. Hadir tanpa diminta. Apa aku memang harus mendekati telaga itu? Ya, ada baiknya aku memulai langkah pertama. Maju dengan mata bercahaya, telinga kosong, serta hati yang terus berdoa. Aku juga ragu dan menginginkan keselamatan. Petala langit menyala-nyala bersama kumpulan awan senja. Berubah menjadi sosok hidup bernama langit sore. Kurasa perubahan itu disebabkan oleh gerakanku tadi.
Tetapi aku tak ingin berprasangka buruk dulu. Katanya jika kita berenergi negatif, alam akan enggan menolong kita secara alami. Bahkan aku lihat sekali lagi, perubahan itu berhenti. Kupikir langit marah karena gerakan kepedulianku. Ternyata tidak, langit di atas telaga itu justru bereinkarnasi menjadi warna baru ... kemerah-merahan. Awan-awan di sekelilingnya membuka diri dan saling memisah pendek. Membentuk bentuk baru seperti oval. Di tengah bentuk layaknya telur itu, bisa aku saksikan jelas warna biru yang berwibawa. Warna biru muda yang segar dan maskulin. Boleh kau sebut cantik jika mau. Kenyataannya demikian.
Saat telah dekat, aku baru menyadari ada tanah lapang di bawah gelas raksasa sebelumnya. Meski gelas raksasa itu berperan juga sebagai telaga, ia tak memiliki akses sumber pada aliran air yang mengalir memanjang di belakangnya. Jika diperhatikan jelas, maka sumber air itu sangat amat jauh. Tetapi secara jangkauan alami mata, pusat aliran air itu terhimpit dua pegunungan yang melebar luas dan kurasa sangat tinggi. Berbahaya dan curam, mungkin.
Kiat untuk semakin mendekati, membuat buku-buku itu menjadi nyata sebagai lambang pengetahuan. Di tanah lapang yang tak begitu luas tadi, hadir sebuah kursi duduk dengan lampu tidur di sampingnya. Mungkinkah ada orang di sana? Sayangnya kosong. Mungkin hanya sebagai lambang seseorang yang mencintai buku. Seseorang kutu buku yang menyayangi pengetahuan, aku harapkan muncul mendadak di kursi itu layaknya polisi tidur. Aku melihat nilai situasi di mana sosok yang menampung segala ilusi, kesukaran, serta persoalan hidup, seumpama air yang tenang meski tak henti-hentinya mengalir. Beban hidup yang pelik dapat tertampung dengan kuat.
__ADS_1
Benar-benar bukan fatamorgana. Asli dan ada cap rantingnya. Jika aku menyewanya mungkin akan menghabiskan gaji bulanan dua tahun. Tetapi kita tak ingin bodoh hanya karena keindahan sesaat, kan? Baiknya kita menciptakan hal serupa seperti telaga gelas raksasa itu. Jika aku meminjam kayu-kayu pepohonan yang menyebar hingga ke pegunungan di belakangnya, maka tidak akan ada habisnya.
Namun diam pun tak menghasilkan apa-apa. Yang bisa dilakukan adalah duduk pada kursi di tanah lapang tadi. Lampunya sudah menyala memang. Tak terlalu terang dan juga tak terlalu gelap. Aku bisa dengan mudah membaca buku-buku yang berjejer di dinding kayu gelas raksasa itu. Memilih buku dengan sampul terbaik menurutku. Sedikit ada kekeliruan di setiap judul buku yang tertulis. Karena aku hanya fokus pada sampul, tak kusadari semua judul bukunya sama. Kalian mengerti apa artinya? Aku belum. Mari kita pikirkan secara mulus dan spontan.
Judul buku-buku itu adalah "Cermin Dirimu Sendiri." Maka apa yang tertulis di sana adalah kekosongan. Tak ada tulisan apapun. Hanya lembaran-lembaran putih, bersih, dan sedikit transparan. Kertas tembus cahaya. Ketika membalik halaman-halamannya dengan kecepatan tinggi, ada pantulan wajahku di sana, di dalam kekosongan berwarna putih yang menyeluruh. Aku melihat wajahku yang pori-porinya telah membesar, sedikit keriput di dahi, dan rambut putihku yang telah subur secara merata. Ternyata buku itu adalah gambaran masa tuaku di masa depan.
Sesuai dengan judul, kita bisa melihat sekilas seperti apa diri kita beberapa tahun ke depan. Aku pun mulai takut membuka halaman terakhir. Pelan namun cukup cepat, ada mahluk bersayap di samping diriku memegangi pedang. Tetapi pada kenyataan pupil mataku, sosok itu tak ada. Hanya bisa kuketahui ketika kembali melihat halaman terakhir. Halaman akhir yang setelah kulahirkan dengan judul, maka itu adalah diriku saat mendekati kematian.
__ADS_1
Di usiaku yang enam puluh tahun ini, telah terisi harapan agar bisa melihat langsung pegunungan di kejauhan sana. Pegunungan yang menghimpit sungai panjang, sebelum alirannya bermuara di telaga gelas raksasa ... di dekat kursi duduk ini. Mungkin aku akan bisa berada di sana ketika sampai pada halaman terakhir. Sebab saat menutup buku, muncul teras dengan pernak-pernik yang menawan, tertempel oleh daun-daun muda yang bentuknya seperti ketupat hari raya.
Aku mendekati teras yang seperti pintu kemana saja itu. Masuk dan mahluk bersayap itu hadir secara nyata. Ia berkata, "Mari pulang hamba Tuhan, sudah waktunya kau beristirahat panjang." Aku lupa kalau aku sudah berada di halaman terakhir hari ini. Sampai ketemu lagi, Teman.